Showing posts with label pekalongansiana. Show all posts
Showing posts with label pekalongansiana. Show all posts

Bukti Musium Batik Pekalongan Masih Menyimpan Misteri, Ini Faktanya

July 30, 2016 3 Comments
Bukti Musium Batik Pekalongan Masih Menyimpan Misteri, Ini Faktanya
Pengunjung bergiliran masuk ruang bungker 
Kota Pekalongan
Selama ini orang hanya tahu kalau Musium Batik Pekalongan banyak menyimpan koleksi batik dari seluruh Indonesia termasuk batik Pekalongan. Namun pandangan tersebut sekarang perlu diluruskan, karena siapa sangka di dalam bangunan Gedung Musium Batik masih menyimpan banyak misteri. Salah satunya adalah bungker, yah bungker. Tidak hanya satu, tapi dua!

Bungker tersebut menurut narasumber berada di sudut tenggara dari bangun utama musium. Nah, penulis bersama puluhan orang lainya berkesempatan melihat langsung bahkan kami diijinkan masuk ke dalam bungker. Eit...jangan salah, jangan di bayangkan bungker tersebut berada di dalam tanah atau di bawah gedung yang gelap tanpa penerangan.

Tapi bungker ini terletak menyatu dengan bangunan utama gedung, semacam ruangan yang dikhususkan untuk menyimpan sesuatu. Dan konon kabarnya sebelum dilakukan penelitian, ruangan ini diisyukan sebagai tempat penyiksaan para tahanan. Hi...serem!

Tapi ternyata setelah terkuak sejarahnya justru ruangan tersebut malah digunakan untuk menyimpan harta kekayaan orang-orang V.O.C Belanda. Pantesan temboknya tebal, 50 centimeter!

"Ya, dulu dipergunakan untuk menyimpan harta kekayaan yang didapat dari keuntungan hasil penjualan komoditas gula dari 7 pabrik gula besar di pantura," ungkap Dilla, petugas konservasi kain yang setiap hari menghuni ruangan bungker.
Menurut Dilla, kantor pusat administrasi dari perkebunan tebu dan pabrik gula yang ada di wilayah pantura dipusatkan di Gedung yang sekarang digunakan sebagai Musium Batik.
Baca Juga Kisah Romantisme Batik Pekalongan Dalam Sejarah Perjuangan Di Indonesia
"Bangunanya masih asli sejak pertama kali berdiri, kecuali lantai bangunanya yang baru," terang Dilla.
Dan ruangan ini, lanjut Dilla, hanya dibuka untuk tamu negara dan orang yang memang berkepentingan salah satunya untuk penelitian.
"Jadi teman-teman semua termasuk beruntung, karena ini untuk pertama kalinya bungker dibuka untuk publik," ujar Dilla lagi.
Nah sekarang, sambung Dilla, bungker ini difungsikan sebagai ruangan privat. Untuk menyimpan 1250 koleksi Musium Batik.
"Ada 70 persen dari batik yang dikoleksi tersimpan disini. sisanya sekitar 200 sampai 300 batik saja yang dipajang di ruang pamer 1, 2 dan ruang pamer 3," tuturnya.
Diketahui, acara kunjungan ke bungker sendiri terangkum dalam kegiatan peringatan HUT Musium Batik ke-10. Pesertanya adalah yang teregritasi dalam acara 'Night At The Musium' yang digelar semalam.

Belasan Tuyul Taklukan Pohon Pinang Setinggi 18 Meter

August 19, 2015 Add Comment
Belasan Tuyul Taklukan Pohon Pinang Setinggi 18 Meter
Tingginya pohon pinang menjadi kesulitan tersendiri bagi belasan  peserta lomba panjat pinang yang digelar warga Sapuro , Kota Pekalongan, Senin malam (17/8/15)
Kota Pekalongan
Lomba Panjat pinang diperingatan hari kemerdekaan sudah hal umum diselenggarakan masyarakat indonesia di berbagai tempat. Akan tetapi kalau lomba panjat pinang diselenggarakan pada malam hari dan pesertanya diharuskan berkostum ala tuyul lengkap dengan rambut plontos serta mengenakan popok seperti halnya bayi pada umumnya tentu menjadi sesuatu hal yang unik dan warga Rw 08 Kelurahan Sapuro Kota Pekalongan menggelarnya kemarin malam, Senin (17/8/15).

Tak tanggung-tanggung ukuran pohon pinang yang disediakan panitia juga termasuk luar biasa ukuranya. Tinggi pohon pinang mencapai 18 meter yang harus ditaklukan oleh belasan pemuda setempat yang menyaru jadi tuyul.

Dengan tubuh dicat warna merah putih belasan tuyul jatuh bangun dan tak kenal lelah mencoba menggapai puncak. Usaha para tuyul rupanya tak sia-sia setelah 4,5 jam dengan susah payah akhirnya pohon pinang berhasil ditaklukan.

Ratusan penonton yang sedari awal tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah konyol belasan tuyul tersebut akhirnya juga memberikan aplus tepuk tangan meriah dan salut terhadap usaha yang dilakukan mengingat tingginya pohon pinang yang agak kurang wajar dibanding dengan pohon pinang di tempat lain.

Salah satu tuyul yang berhasil menggapai puncak dengan semangatnya mengambil hadiah yang sengaja digantung oleh panitia diatas, mulai dari baju batik, kain batik, kaos, sarung, daster, dan sejumlah uang tunai yang nominalnya mencapai Rp 2 juta rupiah.

Panitia penyelenggara, bachtiar menjelaskan bahwa kegiatan lomba panjat pinang pada malam hari sudah rutin digelar tiap tahun oleh warga sapuro, khususnya warga Rw 08 setiap peringatan HUT kemerdekaan RI.
"Tiap tahun sudah rutin kita gelar. Kali ini, selain lomba panjat pinang, kami juga menggelar lomba makan," ungkapnya.
Untuk anggaran, panitia dibantu warga dan paguyuban pedagang batik di kompleks makam sapuro secara suka rela.
"Semuanya ikut berpartisipasi sehingga kegiatan ini bisa sukses," bebernya.
Sedangkan salah satu panitia lainya, Gumawang,mengklaim bahwa pohon pinang yang dipakai dalam lomba itu adalah yang tertinggi dibanding yang dipakai di tempat-tempat lain di Pekalongan.
"Sepengetahuan kami, pohon jambe (pinang, red) ini merupakan yang tertinggi di Pekalongan. Setelah selesai digunakan di sini, ada beberapa panitia lomba dari kelurahan lain yang berminat untuk meng gunakan pohon pinang ini di tempat mereka," ungkapnya.

Warga Tegalrejo Helat 18 Lomba Untuk Meriahkan Agustusan

August 18, 2015 Add Comment
 Warga Tegalrejo Helat 18 Lomba Untuk Meriahkan Agustusan
Lomba gigit uang paling banyak diminati dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-70 karena uang receh yang berhasil digigit lepas bisa menjadi milik peserta. Seperti yang terlihat, seorang peserta penuh semangat berusaha menggiit lepas sebanyak mungkin uang logam yang tertancap pada bonggol nangka muda di gelaran lomba Agustusan yang diadakan  warga Tegalrejo, Kota Pekalongan, Senin (17/8/15)
Kota Pekalongan
Merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-70, warga Tegalrejo Rt 04/Rw 18 Kelurahan Pringrejo, Kota Pekalongan menggelar beragam lomba seperti Balap karung, pukul balon air,gigit uang, panjat pinang dan lainya.

Memanfaatkan kebun kosong, puluhan anak-anak, remaja dan orang tua antu sias mengikuti perlombaan. Bahkan ibu-ibu dan bapak-bapakpun terlihat sema ngat dan cekatan melakukan adu balap karung dan pukul balon air.

Panitia lomba, Munir (21 th) mengatakan, memeriahkan HUT kemerdekaan RI tahun ini panitia mengadakan 18 katagori lomba dengan rincian, 6 untuk anak-anak, 6 untuk ibu-ibu dan 6 untuk remaja.
"Puncak acara ditutup dengan lomba panjat pinang yang diikuti 8 pemuda dan bila kurang akan ditambah 2 orang hingga menjadi 10 orang,"ujarnya, Senin (17/8/15).
Dikatakan Munir, tahun ini perayaan lebih meriah karena selain pesertanya lebih banyak juga karena jumlah lomba yang digelar juga lebih beragam serta jumlah anggaranpun lebih besar dari tahun sebelumnya.
"Untuk perayaan tahun ini panitia menghabiskan anggaran Rp 4 juta lebih, hasil dari iuran warga dan para donatur,"ucapnya.
Untuk acara puncak yakni panjat pinang, panitia menyiapkan pohon pinang setinggi 9 meter yang atasnya digantungi berbagai macam hadiah seperti, barang elektronik, pakaian, seprei, perlengkapan mandi dan cuci, makanan, minuman serta uang receh yang akan disebar bila berhasil menaklukan puncak pohon pinang.
 Warga Tegalrejo Helat 18 Lomba Untuk Meriahkan Agustusan
Puluhan kali dicoba, pohon pinang masih sulit ditaklukan dan peserta belum menyerah
"Semua hadiah menjadi milik peserta. bahkan panitia menyediakan hadiah uang sebesar Rp 1 juta bila berhasil sampai puncak,"janjinya.
Ketua RT setempat, Karto Wicaksono menyebut, warganya setiap tahun rutin menggelar lomba karena selain sebagai ajang bergotong royong dan menjaga kekompakan juga sebagai sarana hiburan bagi warga.
"Harapanya dengan kegiatan seperti ini, keakraban antar warga jadi lebih terja lin dan semoga akan selalu dapat menjaga kekompakan dan warganya bisa hidup guyub rukun,"ungkap lelaki yang akrab dipanggil kliwon ini.
Kegiatan lomba sendiri dihelat mulai jam 08.00 pagi dan berakhir maghrib setelah melalui berbagai kesulitan menaklukan pohon pinang sebagai acara penutup.
 Warga Tegalrejo Helat 18 Lomba Untuk Meriahkan Agustusan
Senja menjelang, salah seorang peserta nekat memanjat sendirian berbekal secarik kain dan kayu demi bisa menaklukan pohon pinang setinggi 9 meter.

Tak disangka lomba panjat pohon pinang gagal ditaklukan meski sudah dilaku kan penambahan peserta hingga jadi genap 10 orang. Dari pukul 15.00 hingga senja menjelang pohon pinang gagal diltaklukan. Sebagai upaya terakhir dilakukan pemanjatan solo dengan bantuan alat secarik kain dan dua jengkal kayu untuk memanjat. Tanpa melalui kesulitan berarti akhirnya puncak pinang berhasil ditaklukan. Kendati demikian panitia menganggap sah, setelah melalui berbagai pertimbangan dan pecahlah kegembiraan sore itu. Wajah-wajah lelah tertutup pekik kegembiraan seakan betul-betul merdeka usai keberhasilan meng halau kesulitan naik pohon pinang.





Warga Poncol Tangkap Ular Sepanjang 3,5 Meter

July 26, 2015 2 Comments
Warga Poncol Tangkap Ular Sepanjang 3,5 Meter
Warga terlihat membopong ular sanca sepanjang 3,5 meter yang berhasil ditangkap pada Jum'at siang (24/7/15)
Kota Pekalongan
Warga Kelurahan Poncol gang 9 Rt 02. Rw 05 Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan, Jum'at siang (24/7/15) geger dengan ditemukanya ular jenis sanca bermotif batik sepanjang 3,5 meter didalam rumah salah satu warga.

Menurut penuturan Fery Triwanto (30 Th) saksi mata yang juga berhasil menag kap ular tersebut mengatakan, Ular ditangkap dalam keadaan kekenyangan karena baru saja memangsa sesuatu, hal tersebut terlihat dari kondisi perutnya yang besar tidak wajar.
"Saya kebetulan saja sedang mampir ke rumah orang tua ketika mendengar teriakan tetangga ada ular, spontan saya langsung masuk berusaha ngecek. Ternyata benar ada seekor ular besar baru saja jatuh dari eternit yang jebol karena tak kuat menahan bobot ular, untung jatuhnya pas masuk ke dalam sebuah kardus. Awalnya sih tidak begitu jelas, baru ketika disorot dengan senter ternyata ular besar,"terangnya.
Diungkan Fery, waktu ditangkap ular tidak melakukan perlawanan karena kemungkinan kekenyangan jadi gerakanya menjadi lamban.
"Perutnya buncit mas seperti habis menelan sesuatu, pantas saja warga di sini banyak mengeluh kehilangan ternak. Selama ini dikiranya hilang dicuri tak tahunya dimangsa ular, dan saya ayam saya sendiri banyak yang hilang,"ujar Fery yang juga penghobi merpati dan ayam jago.
Fery juga menjelaskan, Dirinya curiga masih ada satu ular yang belum ditemukan, karena beberapa waktu lalu ada saksi mata yang melihat ular besar berwarna kuning, kemungkinan berjenis albino berkeliaran.
"Meski ditengah Kota padat penduduk, rumah saya dan tetanga dipi sahkan oleh lahan kosong bekas rumah yang dibongkar. Ada kemung kinan pas banjir besar tahun lalu ada ular yang terbawa kemari dan akhirnya bersarang disini,"jelasnya.
Karena banyak warga yang resah, lanjutnya, dirinya bermaksud menjual ular tersebut sambil berharap dapat menangkap ular yang satunya lagi.
"kini warga dibuat was-was karena kabar ada seokor ular lagi yang belum ditangkap dan saya sendiri jadi lebih berhati-hati, takut ayam dan merpati jadi sasaran lagi,"tuntasnya.

Mbendo, Lokasi Bursa Kerja Ala Pekalongan

June 27, 2015 Add Comment
Mbendo, Lokasi Bursa Kerja Ala Pekalongan
Setiap pagi kecuali hari jum'at berjejer sepanjang jalan buruh menunggu didatangi para juragan
Pekalongan
Hal Yang umum dilakukan seseorang ketika ingin mendapat pekerjaan tentunya dengan melamar kerja salah satunya. Tapi hal tersebut tidak akan anda temui kalau sempat berkunjung ke Jalan Jendral Suprapto Kradenan, Pekalongan Selatan atau tepatnya di Mbendo kalau orang pekalongan menyebutnya. setiap harinya ratusan orang bergerombol berjejer di sepanjang jalan tersebut. 
Mereka bergerombol bukan untuk demo atau nongkrong melainkan sedang menunggu juragan atau bos yang akan melamar mereka sebagai karyawanya. kebalikanya bukan? Itulah keunikanya. 

Bursa kerja ala Pekalongan Selatan tersebut mulai jam 07.00 sampai jam 09.00 pagi setiap hari kecuali hari Jum'at dan konon itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun lampau.

Seperti dituturkan Pak anas (59 th) seorang buruh babar batik, warga Kebon sari, kecamatan Karang Dadap, Kabupaten Pekalongan, Dirinya sudah 40 tahun menjalani rutinitas sebagai buruh yang mencari pekerjaan dengan cara mangkal di Mbendo tersebut. Dirinya masih ingat ketika masih belia sering diajak ayahnya mangkal, sepengetahuanya tahun 1952 sudah ada karena dulu ayahnya pernah cerita kalau awal tahun 50-an bersama teman sekampungnya yang belum punya pekerjaan pasti mangkal.

"Beberapa tahun ini sebenarnya saya sudah ikut juragan batik mas, tapi karena usaha juragan saya tersebut sedang sepi, akhirnya saya kembali lagi kesini (jl Jendral Suprapto), biasa menunggu ada yang datang membutuhkan tenaga saya," ujar kakek 6 cucu yang diamini oleh dua orang rekanya.

Dikisahkan Anas, dulu awalnya saya mendapatkan pekerjaan juga dari sini, karena belum mene mukan pekerjaan yang permanen sebagai buruh babar ya sementara jadi serep dulu sambil menunggu juragan yang bisa mengikatnya sebagai karyawan.

"Kini setelah anak-anak sudah mandiri semua dan saya hanya tinggal berdua dengan istri ya saya justru memilih mangkal saja, kalau dulu kan butuh yang langgeng karena harus menghidupi anak istri, kalau sekarang kan beban sudah berkurang, kalau nyerep paling hanya sebentar, dalam satu minggu paling dua atau 3 hari kerjanya," jelasnya.

Tampak beberapa buruh sedang menunggu

Dikatakan Anas, kalau ikut menetap bersama juragan gajinya lebih kecil dari pada mangkal tapi langgeng, namun kalau mangkal kita bisa pasang tarif, yang butuh kan para juragan, seringnya dari pada kekurangan tenaga karena karyawan cuti atau berhalangan kerja para juragan biasanya setuju asal tawar menawar upah harianya sudah sepakat.

"Paling selisihnya gak seberapa, semisal yang tetap itu harianya Rp 40 ribu, nah kalau mangkal bisa sampai 65 ribu. Tak banyak namun sangat berarti," tutur nya.

Hal yang sama juga dikatakan Imron (45 th) buruh babar batik sekampung dengan Anas, Dirinya sengaja memilih mangkal selain karena lebih hemat tenaga karena bekerja hanya 3 sampai 4 hari dalam seminggu juga karena kondisi usaha sedang lesu.

"Ya ini salah satu cara bertahan saja mas, daripada tidak ada pekerjaan sama sekali," tukasnya.

Sementara itu obrolan dengan dua orang buruh tersebut harus terputus karena kedatangan seorang juragan yang membutuhkan jasa keduanya, seperti saling tahu tidak ada pembicaraan tawar menawar, yang terucap hanya kata 'mangkat saiki' (berangkat sekarang) seolah keduanya sudah terbina relasi onship sejak lama. 

Beruntung saya masih sempat melontarkan permintaan kesediaan waktu untuk wawancara kepada sang juragan yang rupanya bernama Haji Malik (51 th) pemilik Batik Zanoor Kelurahan Pringlangu, sekarang Pringrejo gang 7 nomor 99.

Haji Malik mengaku sudah sering melakukan mengambil tenaga kerja di bursa kerja Jalan jendral Suprapto tersebut karena menurut hematnya lebih praktis dan siap kerja dengan keahlianya bisa diandalakan meski harus mengeluarkan budget lebih tinggi dari pada biasanya.

"Daripada saya kesulitan karena sedang ada pesanan yang harus terkejar sementara ada beberapa karyawan saya ijin cuti, ya solusinya ambil disini. Soal beda upah masih wajarlah, toh mereka kerja hanya sebentar nanti karyawan saya masuk bisa kembali seperti semula," terangnya.

Tak ada yang tahu pasti kapan tepatnya kebiasaan mangkal di jalan Jendral Suprapto sebagai ajang menunggu tawaran pekerjaan, yang jelas dari pantauan di lokasi peminatnya tidak hanya dari warga seputar Pekalongan saja tetapi juga luar kota seperti, Ulujami, comal, pemalang dan lainya.

Betulkan Alkon, Tukang Servis Ini Tewas Tersengat Listrik

May 07, 2015 Add Comment
Betulkan Alkon, Tukang Servis Ini Tewas Tersengat Listrik
gambar ilustrasi
Kota Pekalongan
Fajar Nugroho (23 th) seorang teknisi yang biasa menservis pompa air ditemu kan tewas setelah tersengat aliran listrik di lokasi proyek pembangunan Hotel Pesona Pegadaian, Selasa sore (5/5/15) di jalan Dr Cipto Kota Pekalongan.

Korban Fajar Nugroho merupakan warga Rt 05, Rw 02 Kelurahan Pasirkratonkramat, Kecamatan Pekalongan Barat sempat dilarikan ke RS Siti Khadijah namun nyawanya tidak terselamatkan, Keterangan yang dihimpun menyebutkan korban tewas saat sedang memperbaiki alkon yang rusak sekitar pukul 15.00 WIB.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Luthfie Sulistiawan, melalui Kapolsek Pekalongan Timur AKP Agus Riyanto membenarkan adanya kejadian itu. Ia menjelaskan kronologisnya. Beberapa jam sebelum kejadian, korban dimintai tolong oleh pihak pelaksana proyek pembangunan Hotel Pesona untuk memperbaiki alkon yang tak berfungsi.


"Korban merupakan tenaga freelance, yang dipanggil untuk memperbaiki mesin pompa air yang rusak. Jadi dia bukan pekerja proyek di situ. Saat itu, diduga korban tidak menyadari bahwa di situ masih ada aliran listriknya. Ditambah lagi saat itu korban tidak mengenakan sepatu boot, beda dengan pekerja proyek di situ yang pada memakai sepatu boot," jelasnya.

Agus menyatakan bahwa musibah tersebut adalah murni kecelakaan kerja, akibat korban yang diduga kurang berhati-hati saat melaksanakan pekerjaan nya. 

"Sejumlah saksi sudah kita mintai keterangan. Kita juga sudah melakukan olah TKP, itu murni kecelakaan," tandasnya.





Demi Sosialisasi Tertib Lalulintas, Para Polisi Ini Jadi Punakawan

April 08, 2015 Add Comment
Demi Sosialisasi Tertib Lalulintas, Para Polisi Ini Jadi Punakawan
para punakawan sedang lakukan pengaturan lalu lintas diperempatan alun-alun Kota Pekalongan
Kota Pekalongan
Ada banyak cara dilakukan untuk menyampaikan pesan atau sosialisasi, seperti halnya yang dilakukan oleh Satlantas Polres Pekalongan Kota, Demi menarik simpati sekaligus menghibur warga masyarakat pengguna jalan untuk bisa tertib dan mentaati peraturan lalulintas para penegak hukum dari kesatuan lalulintas Polres Pekalongan Kota berkostum tokoh pewayangan Punakawan yang secara mengejutkan melakukan penga turan lalu lintas diberbagai sudut Kota Pekalongan, tentu saja hal tersebut sangat menarik perhatian masya rakat baik pengguna jalan maupun pejalan kaki.

Semar turun langsung dari tempat bertapanya dan perintahkan anak-anaknya Petruk, Gareng dan Bagong atur lalulintas di Jalan-jalan Kota Pekalongan. Adegan menarik tersebut tersaji dalam sosialisi Satlantas Polres Pekalongan Kota dalam Operasi Simpatik Candi 2015.

Keempat tokoh bijak di Pewayangan tersebut tidak turun sendiri di jalan raya. Sebanyak 18 bidadari yang diperankan Polwan, turut membantu mensosialisasikan tertib berlalu lintas dan tertib berkendara tersebut.

Demi Sosialisasi Tertib Lalulintas, Para Polisi Ini Jadi Punakawan
Sosialisasi Tertib Lalulintas
 
Mereka membagi-bagikan leaflet tentang berkendara yang benar, serta membetulkan pengendara motor yang tidak mengklik kan helm yang dikenakan.Tidak sekedar mengatur lalulintas saja, para juga menari luwes layaknya Punakawan saat berada di panggung wayang orang. Iringan musik tembang Jawa dari becak, semakin membuat Semar, Petruk, Gareng dan Bagong beraksi dijalanan.

Perempatan Alun-alun di persimpangan Jalan Hasanudin, Hayam Wuruk, Dr Cipto dan Wahid Hasyim, men jadi lokasi awal tim dari Satlantas beraksi. Sebanyak 55 anggota turun dalam pelaksanaan sosialisai tersebut.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Luthfie Sulistiawan melalui Kasatlatas AKP Ady Pratikto ungkapkan, kegiatan tersebut merupakan upaya pihaknya dalam menyuseskan Operasi Candi 2015.

 “Kita disamping sosialisasi lalin, juga ingin memperdayakan kebudayaan agar lebih mengena ke masyarakat dengan mengambil tema budaya,” jelas Ady.

“Karena kedisiplinan perlu peran serta masyarakat, terlebih kini transportasi darat yang berkembang pesat. Sehingga peran serta masyarakat semakin harus lebih besar,” lanjutnya.

Pihaknya berharap dengan pendekatan budaya akan lebih mengena. Sehingga bisa  menekan angka pelang garann lalulintas di jalan raya Kota Pekalongan.

Dipilihanya tokoh Punakawan di mitologi Pewayangan, karena keempat sosok tersebut walaupun orang hebat tapi merakyat. Mereka juga udah diterima oleh rakyat dengan gayanya yang unik dan lucu.

Selain sosialisasi tertib lalulintas dengan Punakawan, Satlantas Polres Pekalongan Kota juga beagikan paket sembako untuk tukang parkir. Hal tersebut sebagi wujud ungkapan terima kasih karena selam ini sudah diban tu dalam penertiban lalulintas di kawasannya.

“Kebetulan yang kami pilih adalah tukang parkir di Kawasan Tertil Lalulintas (KTL) di jalan Sultan Agung dan Jalan Hasanudin. Setyelah kami survey selama ini, mereka turut membantu kami dalam penerangan rambu
lalulintas kepada pengendara,” ucapnya.

Selama ini Kasatlantas juga ungkapan saat berdialog dengan tukang parkir, keinginan  melanggar larang lalin malah datang dari masyarakat, karena kadang sulit diatur.

 “Makannya kami ingin peran serta juru parkir agar mereka bisa membantu kami dalam penertiban lalulintas,” tandasnya.

Tolong Nenek Terlantar, Para Polisi Ini Ajak Makan Bersama Di Restoran

March 04, 2015 Add Comment
Tolong Nenek Terlantar, Para Polisi Ini Ajak Makan Bersama Di Restoran
nenek carmiah bersama cucunya
Kota Pekalongan
Carmiah (73 th) janda tua asal Desa Sambong Tengah Rt 04/Rw 04 Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, ditemukan oleh petugas Polwan dari Satuan Satlantas Polres Pekalongan Kota dalam keadaan kepayahan di pos Polisi perempatan Alun-alun Kota, Rabu (4/3/15).

Diperoleh keterangan, nenek yang ditemukan bersama  seorang anak kecil yang diaku sebagai cucu tersebut berniat menonton pawai barongsai di Kota Pekalongan.

Dari informasi yang didapat dari sang nenek rupanya bocah perempuan bernama Luki Umi Habibah (6 th) adalah yatim piatu yang sejak bayi ditinggal mati kedua orang tuanya.
" ayahnya meninggal  beberapa saat setelah Luki dilahirkan, sementara ibunya menyusul sang ayah ketika Luki belum genap berumur 40 hari."  tutur Carmiah kepada pekalongan-news.
Rupanya sang ayah meninggal dunia dengan tragis, terkena sengatan listrik ketika sedang bekerja untuk mencari uang buat selamatan 40 hari kelahiran sang anak,
" mungkin karena tak kuat menanggung derita anak perempuan sayapun meninggal dunia dan Luki saya asuh sendiri menemani hari tua saya karena saya hidup sendirian." ucapnya sambil menyeka butiran bening yang nyaris tumpah.
Demi memanjakan sang cucu, dirinya kerap menuruti permintaan sang cucu termasuk harus menempuh perjalanan Pekalongan-Batang untuk menonton pawai.

Tak pelak kisah tragis tersebut membuat beberapa petugas kepolisian yang usai melakukan sosialisasi Bulan Tertib Lalu-lintas di perempatan lampu merah alun-alun jadi merasa iba tanpa merasa sungkan para petugaspun mengajak mereka untuk makan siang bersama di sebuah makan terdekat sembari memberikan bantuan kemanusiaan sekedarnya.



Meriahkan Imlek, Kospin Jasa Luncurkan Produk Tabungan Baru

February 26, 2015 Add Comment
Meriahkan Imlek, Kospin Jasa Luncurkan Produk Tabungan Baru
dimeriahkan dengan tarian barongsai
Kota Pekalongan
Kospin Jasa meluncurkan Produk tabungan baru yang diberi nama, Tabungan Imlek, Rabu (25/2/15) bertepatan dengan momen imlek ada yang unik dari acara launching produk baru dari Kospin Jasa tersebut, acara diramaikan dengan aksi tarian barongsai yang dilakukan oleh tiga etnis.

Menurut Wakil sekretaris umum yang juga Wakil WalikotaKota Pekalongan, H Alf Arslan Djunaed, bahwa produk tabungan imlek tersebut sengaja didesain dengan nuansa imlek yang identik dengan warna merah.

" program tabungan imlek ini berlaku untuk semua, karena di Kospin Jasa ini ada tiga etnis maka biar semarak warna warni karena bagaimanapun dengan tiga etnis inilah yang turut membangun dan membesarkan nama Kospin Jasa sekaligus turut berkontribusi membangun Pekalongan.

Alex, sapaan akrabnya juga mengharapakan dengan adanya produk baru tabungan imlek dapat membantu penggalangan dana dari masyrakat sebagai salah satu bentuk investasi yang dapat dipilih.

" Kospin Jasa menawarkan tabungan imlek ini disertai hadiah-hadiah menarik dan juga berlaku untuk simpanan berjangka untuk waktu tertentu diberikan bunga yang menarik pula dan harapan saya masyarakat umum tertarik untuk menabung di Kospin jasa ini." tuturnya.

Sementara itu menurut keterangan Kasi Marketing Kospin Jasa, Arie susetyaningsih, momen imlek kita manfaatkan untuk meluncurkan produk baru.

" Kita ada simpanan berjangka yang akan kita beri benefit tambahan, biasanya simpanan berjangka tiap bulan ada tambahan rate bunga, ini akan kita beri tambahi lagi."jelasnya.

Dijelaskan Arie, peringatan imlek yang ke 2566 diberikan insentif tambahan seperti, tiap tabungan 25 juta setiap 6 bulan sekali akan diberi voucher makan disertai pengambilan amplop angpau yang berisi souvenir. Juga ada undian yang berhadiah 2 sepeda motor, 5 tv led 32 inc, 6 hanphone android, uang tunai untuk 6 orang yang masing-masing 1 juta rupiah.

Ditemui di lokasi, Taufan warga jalan merdeka kelurahan Pasir kraton kramat Kota Pekalongan mengatakan, dirinya sudah tiga tahunan menjadi nasabah Kospin Jasa.

" tema imlek ini bagus dan menarik, saya lihat banyak yang buka tabungan baru karena memang pelayanan memuaskan," ungkapnya




Pekalongan Dalam Lintasan Sejarah

January 21, 2015 Add Comment
Pekalongan Dalam Lintasan Sejarah
Ustadz Moh Ali Khudlori
Pekalongan bukan kota baru, Pekalongan adalah kota tua. Dapat dikatakan Pekalongan termasuk kota tertua di Jawa. Di Jawa ada tiga kota tua; Jeporo, Pekalongan dahulu lebih dikenal Plelen atau Alasroban. Plelen itu mulai dari pantai utara Pekalongan sampai Weleri disebut Alasroban. Alasroban itu bukan berarti hanya Waleri Banyu Putih dari Subah sampai pantai utara itu disebut Alasroban. Dijaman sebelum wali 9 Pekalongan sudah ada. Bukti-bukti untuk menunjukkan bahwa Pekalongan itu kota tua bisa dilihat dari bukti-bukti peninggalan sejarah terutama makam-makam tua yang ada di Pekalongan, Batang dan sekitarnya. Karena dulu Batang termasuk kabupaten Pekalongan.

Kita ambil mulai dari Syekh Jamaludin Husen dahulu. Beliau dengan rombongannya berlabuh melalui Pasai. Beliau kelahiran dari Indo-Cina, daerah Kamboja, Vietnam dan sekitarnya. Ibu beliau dari Champa ayah beliau Ahmad Syah Jalal adalah kelahiran India dan ayah Syah Jalal adalah menantu raja India Naser Abad. Ahmad Syah Jalal menikah dengan putri raja Champa. Putri Champa itu melahirkan Syekh Jamaludin Husen.dari Jamaludin Husen beliau mempunyai anak 11. Itulah kakek dari wali 9. Perjalanan Syekh Jamaludin dengan para ulama yang dari Timur Tengah. Ada juga yang dari Maroko. Maka rombongan tersebut ada yang menyebut al Maghrobi-al maghrobi. Rombongan tersebut yang pertemuannya Dipasai langsung menuju Jawa, tepatnya Semarang.

Dari Semarang meneruskan perjalannya ke Trowulan-Mojokerto. Karena akhlaknya dan budi pekertinya yang baik beliau sangat di hormati di Maja Pahit. Meskipun beda agama pada waktu itu, beliau mendapat beberapa sebidang tanah dari Gajah Mada. Terutama membuat sebuah padepokan pendidikan yang mana santri beliau itu tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri. Selain itu juga karena sangat popular maka disbut syekh Jumadil Kubro. Rombongan beliau berpencar dalm menjalankan tugasnya masing-masing. Yang terbanyak di Jawa Timur, Jawa Tengah, sebagian kecil ke Jawa Barat. Dan makam-makam beliau dinamakan almaghrobi-al maghrobi. Kalau makam almaghrobi itu banyak sekali, pantas, karena orangnya bukan satu tapi banyak.

Rombongan kedua dipimpin oleh dua tokoh.yang pertama Malik Ibrohimdan Sayid Ibrohim Asmoro qondi atau Pandito Ratu. Ketika itu, rombongan Malik Abdul Ghofur yang juga merupakan kakak Malik Ibrohim yang disebut juga Almaghrobi-almaghrobi. Rombongan ini lebih banyak dari sebelumnya. Malik Ibrohim itu cucu dari Syekh Jumadil Kubro. Rombongan ini juga berpencar, dan diantara robongan-rombongan tersebut ada yang ke Pekalongan sekitar 25 al Maghrobi. Makam beliau juga terpencar-terpencaer dengan nama Maulana Maghrobi.

Diantaranya Prabu Siliwangi memanggil beliau itu kakek (pernahnya).Jadi Maulan Maghrobi itu lebih tua dari Prabu Siliwangi. Diantara anggota rombongan ada yang wafat satu orang. Yang wafat ini dimakamkan di pesisir Semarang. Juga dikenal dengan Syekh Jumadil Kubro. Lokasinya dekat Kali Gawe. Dan ada juga yang wafat di Pekalongan, namanya yang pertama Syarifudin Abdullah, Hasan alwi al Quthbi. Beliau bersama rombongannya tinggal di dareh Blado Wonobodro. Terus yang dua orang lagi Ahmad al Maghrobi dan Ibrohim Almaghrobi tingal di daerah Bismo. Tiga tokoh tersebut dimakamkan di Bismo dan Wonobodro. Yang di Bismo membangun masjid di Bismo yang di Wonobodro membangun masjid di Wonobodro. Terus yang disetono Abdul Rahman dan Abd Aziz Almaghrobi.

Diantaranya lagi Syekh Abdullah Almaghrobi Rogoselo, Sayidi Muhammad Abdussalam Kigede Penatas angina. Jadi Almaghrobi tersebut empat generasi; generasi Jamaludin al Husen, generasi Ibrohim Asmoroqondi dan generasi Malik Ibrohim dan generasi Sunan Ampel. Termasuk yang dimakam kan di Paninggaran, daerah Sawangan; Wali Tanduran. Beliau itu termasuk generasi kedua walaupun bukan golongan al Maghrobi. Beliau sangat gigih dalam syi’ar Islam di Paninggaran. Kalau dalam bahasa Sunda Paninggaran itu berarti cemburu.
Di Pekalongan ini masih terpengaruh, sebagian Jawa Barat dan sebagian Jawa Timur. Karena perbatasan Mangkang itu wilayah Majapahit terus kebarat ikut Pajajaran kuno. Pekalongan sendiri terpengaruh bahasa-bahasa sunda seperti ada nama tempat, Cikoneng Cibeo di daerah sragi.

Kalau kita melihat pertumbuhan islam pada waktu itu yang dibawa oleh beliau-beliau belum al Magrobi-Almaghrobi. Yang 25 tersebut sebagian dimakamkan di Wonobodro, sebelum wali 9 yang masyhur itu, seperti Sunan Ampel, Sunan Giri Sunan, Kali Jogo dll, itu sudah ada wali sembilan seperti lembaga wali Sembilan jamannya Sunan Ampel itu. Lembaga wali Sembilan itu seperti Wali Abdal, Wali Abdal itu ada 7. Wafat satu akan ada yang menggantikannya, wafat satu ganti, wafat satu ganti dan seterusnya. Jumlahnya tidak lepas dari 7. Nah wali 9 pun demikian. Termasuk Kigede Penatas Angin itu wali 9, yang Wonobodro juga bagian dari wali Sembilan, tentunya generasi sebelum wali Sembilan yang masyhur itu.

Ki Gede Penatas Angin adalah yang mempertahankan Pekalongan dari serangan Portugis. Pada waktu wali 9 dijaman Sunan Gunung Jati diantaranya sudah ada yang masuk ke Pekalongan. Juga yang namanya Kiyai Gede Gambiran di pesisir pantai. Tapi karena terkena erosi sekarang Gambiran sendiri sudah tidak ada. Ada lagi Sayid Husen didaerah Medono dikenal makam Dowo Syarif Husen, beliau itu juga hidup dijaman wali 9. Diantara tahun 1590 an, sebelim masuk pejajahan Belanda.

Pekalongan walaupun tidak banyak disebut dalam sejarah Demak tapi dekat hubungannya dengan kerajaan Demak. Pekalongan tahun1900 lebih seadikit pelabuhannya didaerah Loji daerah hilir. Makanya didaerah sekitar nama-nama desanya seperti Bugis; Bugisan, Sampang; Sampangan, itu diantaranya. Pekalongan pada waktu itu sudah mulai maju. Dalam pendidikan agama, ekonomi dan lain s sebagainya. Di Dieng dan daerah sekitarnya ada beberapa Candi. Itu menunjukkna kultur di Pekalongan sudah maju. Di daerah Reban sampai Blado itu pernah ditemukan situs air langga. Itu semua menunjukan kalau Pekalongan sudah tua, hanya kita belum menemukan bukti secara kongritnya. Pekalongan pada waktu itu sudah maju, diantara buktinya pada jaman Sultan Agung Pekalongan pada waktu itu sudah mendapat kepercayaan menjadi tempat lumbung-lumbung padi atau beras.

Dan diantara tokoh-tokoh yang berperan pada waktu itu, di adalah tokoh yang di makamkan di Sapuro, yaitu Ki Gede Mangku Bumi sayang makamnya sudah rusak. Jaman almarhum Pak Setiono saya masih sempat meminta untuk menulis tentang tokoh itu. Beliau meninggal pada tahun 1517 Masehi, makamnya di Sapuro belakang masjid. Ada lagi walaupun aslinya dari Bupati Pasuruan Raden Husen Among Negoro, beliau meninggal tahun 1665 dimakamkan di belakang masjid Sapuro. Beliau adalah Putra Tejo Guguh, Putra bupati Kayu-Gersik ke dua. Beliau ini yang menurunkan bupati Pekalongan yang pertama. Pada waktu itu penduduk sudah ramai disusul dengan beberapa tokoh yang lain seperti Ki Hasan Sempalo atau Kyai Ahmad Kosasi adalah menantu beliau.

Bupati Pekalongan yang namanya Adipati Tanja Ningrat meninggal tahun 1127 H. Dimakamkan di Sapuro juga sejaman dengan Jayeng Rono Wiroto putra Amung Negoro. Kiyai Gede Hasan Sempalo. Dan di Noyontaan (Jl. Dr. Wahidin) ada Kiyai Gede Noyontoko hingga desa tersebut disebut Noyontaan, sebabwaktu tokoh yang membuka adalah Ki Gede Noyontoko. makamnya di dalam Kanzus Sholawat. Dulu di belakang rumahnya Pak Teko meninggal tahun 1660 M. dan banyak lagi seperti Wali Rahman di Noyontaan, dulu di Tikungan jl toba atau di depan pabrik Tiga Dara sekarang makam nya sudah hilang.

Sesudah pekalongan mulai rame datang pula tokoh-tokoh yang popular datang dari Hadramaut Yaman beliau adalah Habib Abubakar bin Toha. Habib Abu Bakar lahir didaerah Tarim namanya daerah Gorot. Makanya kayu geritan itu berasal dari kata Gorot. Sekitar abad 17 sebelum masuk Indonesia beliau berdakwah di India, Malaysia, Malaka, Pasai lalu Kalimantan. Beliau pernah tinggal di sebuah desa namanya Angsana daerah Kalimantan Selatan dan masuk ke Surabaya menuju ke Jogja. Beliau dikenal sebagai tokoh pendamai; baliaulah yang menyatukan menyelesaikan sengketa-sengketa. Beliau sangat tinggim ilmunya dan sangat di segani. Beliau mendapatkan gelar Penembahan Tejo Hadi Kusumo. Setelah itu beliau masuk di Pekalongan tinggal di daerah Karang Anyar.

Habib Abu bakar masuk daerah ini karena urutanya dekat dengan Ki Hasan Cempalo, beliau mendirikan padepokan. Kiyai Bukhori salah seorang tokoh pernah menceritakan kalau dijaman nabi beliau seperti sahabat nabi, maksudnya kedudukan kewaliaanya sangat tinggi beliau termasuk golongan Bin Yahya. Pertamakali masuk ke daerah wonopringgo. Guru beliau banyak sekali diantaranya pengarang kitab Nashoih Addiniyah; al Habib Abdullah bin Alwi al Hadad. Dan murid Habib Alwi Al Hadad di Indonesia banyak sekali.

Habib Abu Bakar meninggal tahun 1130 H. Gurunya adalah paman dan ayahnya sendiri yang sangat popular kewaliannya dan banyak lagi guru-guru yang lain. Dan murid-murid beliau di Pekalongan dan luar Pekalongan banyak sekali. Termasuk kakeknya Kyai Nurul Anam dimakamkan di Kayu Geritan juga. Daerah dakwahnya terpencar. selain mengajarkan ilmu agama juga ilmu yang lainnya seperti ilmu kelautan dan ilmu-ilmu lainnya. Beliau dan kakaknya; bertiga, Sayid Abdurahman, Sayid Abu Bakar dan sayyid Muhammad Qadhi.
Sayyid Abdurahman di Cirebon dan Sayyid Muhammad Qodli di Semarang Terboyo. Beliau mendapat gelar banyak selain sunan Qodli juga gelar Ki Gede Semarang. Beliau; Syekh Abu Bakar bin Toha juga sangat gigih memimpin dalam melawan Belanda. Ketiga kakak-adik tersebut hampir sama dalam pola dakwahnya, dan juga sama-sama sangat gigih dalam melawan Belanda. Selain makam beliau di Kayu Geritan juga ada makam kasepuhan lainnya, diantaranya Qodli Shon’a, juga dua pamenang atau prajurit dari Mataram.

Lalu kakenya dan ayahnya Nurul Anam dan tokoh ke bawah Kiyai Utsman, Kiyai Asy’ari Karang Anyar. Beliau itu juga dimakam kan di Kayu geritan. Kalau kiyai utsman sebelah barat Kiyai Asy’ari sebelah timur. Tokoh-tokoh dahulu yang ziarah ke Kayu Geritan ini adalah tokoh-tokoh yang top semuanya. Habib Hasyim selain sering ziarah ke makam Habib Abu Bakar bin Thoha ini, juga sumbernya sejarah makam ini. Selain sumbernya dari beliau, saya juga mengambil dari beberapa kitab diantaranya kitab punya Sayyid bin Tohir Mufti Johor Malaysia. namanya Alatho’if, dan buku-buku atau kitab-kitab silsilah. Jadi ada bukti sejarahnya dan jelas kita tidak ngawur dalam hal ini.









Oh, Ini Kawasaki Seharga 1 Miliar ?

January 19, 2015 Add Comment

Oh, Ini Kawasaki Seharga 1 Miliar ?
Kawasaki Ninja H2

Kota Pekalongan
Indonesia adalah surga bagi para penikmat motor kencang, harga? so bukan sesuatu yang perlu dirisaukan, faktanya berapapun tingginya harga sebuah kendaraan roda, penggila motor negeri ini mampu membelinya. Utilitas bukanlah prioritas karena prestise adalah nomor satu, itulah makanya banyak produsen motor dunia selalu menempatkan Indonesia sebagai pasar utama.

Seperti halnya Kawasaki, lewat jualanya Kawasaki Ninja H2 dan H2R yang sudah ditunggu publik negeri ini, sudah mampu menjual 10 unit Ninja H2 hanya di awal tahun 2015, asal tahu 1 unit H2 dibandrol 580 juta off the road dan Indonesia sendiri di jatah 20 unit pertahun artinya setengahnya sudah terjual, sisanya diprediksi akan disapu bersih oleh Kawasaki maniak anak negri. Ribuan calon pembeli lainya harus bersabar menunggu tahun depan, Pabrikan Kawasaki Jepang sendiri hanya mampu membuat 15 unit H2 perhari.

Tak jauh beda dengan saudara mudanya, H2 yang versi jalanan, PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) juga bersedia memenuhi hasrat biker lokal dengan menghadirkan Kawaski H2R yang diplot hanya untuk sirkuit namun menurut informasi yang didapat belum bisa diorder karena ada satu hal yang belum diselesaikan untuk bisa dijual disini.
Kawasaki H2R
 Kawasaki Seharga 1 Miliar ?

Kawasaki Ninja H2R yang akan dilepas kepasar Indonesia ini, dibandrol 1 miliar !, Fantastis ! sebuah harga yang menurut Kawasaki holic republik ini sebanding dengan performa dan sensasinya, mengusung dapur pacu 998 cc Doch 16 katup dengan semburan tenaga sebesar 300 Ps atau hampir setara truk tronton pengangkut semen, menjadikan H2R sebuah monster roda dua paling beringas saat ini. Klaim suzuki Hayabusa sebagai motor tercepat agaknya perlu di revisi, melawan sang adik saja H2, Suzuki Hayabusa dipastikan lewat apalagi diadu dengan H2R yang berteknologi hyperbike diyakini tembus 321 Kilometer perjam, sebuah angka yang luar biasa untuk motor roda dua. Ambisi Kawaski menjungkalkan seterunya suzuki terlampaui sudah.

Deputy Departemen Head Sales & Promotion Departement Marketing & Sales Division PT KMI Michael Chandra Tanadhi mengatakan, tipikal pembeli Kawasaki Indonesia tergolong loyal, itulah mengapa hampir setiap produk yang dirilis PT KMI selalu laris manis di pasaran.

" kita sedikit diatas Amerika, artinya Indonesia menjadi pengkonsumsi motor Kawasaki terbesar di dunia, terkoreksi 10.000 an unit terjual tiap tahunya." katanya.

Menyinggung tipe jalanan H2, Assistant GM Marketing PT Kawasaki Motor Indonesia, Yusuke Shimada menegaskan jika motor ini punya power hingga 210 dk dan akselerasi yang sangat cepat dari putaran bawah

"Hingga saat ini belum ada tandingannya. Di segmen motor jalanan belum ada yang lebih cepat dari Kawasa ki H2," yakin pria asal Jepang ini.

Adu gengsi motor produksi massal tercepat di dunia menjadi ramai, kalau sebelumnya Kawasaki zx-14 dan Suzuki Hayabusa berebut yang tercepat. Tapi dengan kehadiran Kawasaki H2, diyakini motor ini jauh lebih kencang. Meski sejatinya, jika dibandingkan dengan Kawasaki ZX-14 dan Suzuki Hayabusa yang mengusung mesin 1.400cc, Kawasaki H2 hanya memiliki kapasitas ruang bakar 998cc. Tapi berkat teknologi supercharger yang mampu meningkatkan suplai udara ke ruang bakar, performanya jauh lebih kencang. Bahkan disela peluncurannya hari Jumat (16/1) yang lalu, diadakan demo drag bike antara Kawasaki H2 melawan Kawasaki ZX-14 yang sekelas Suzuki Hayabusa, hasilnya H2 menang telak.

Bagaimana ? tahun ini Kawasaki diatas angin, tentunya kedua produk yang baru diluncurkan tersebut cukup membuat ngiler publik bumi pertiwi, kita lihat saja apakah H2R mulus meluncur ditangan tangan pemegang rupiah yang super tebal. Dari data, motor seharga 3 miliar lebih versi sirkuit milik produsen italia ducati desmosedici saja ada 4 orang di tanah air memiliki, diyakinkan H2R seharga 1 miliar tentu bejibun yang antri beli.

Mahasiwa Berekspresi, Mahasiswa Mengkritisi

December 09, 2014 Add Comment
Sudah selayaknya kaum muda berkarya. Begitu pula lah mahasiswa, manakala ada kesempatan mereka tidak melewatkannya untuk sekadar berekspresi. Hari Anti Korupsi  jatuh pada hari Selasa, 9 Desember 2014 ini pun tak dibiarkan terlewatkan begitu saja. 
Mahasiwa Berekspresi, Mahasiswa Mengkritisi


Sekian banyak mahasiswa Universitas Pekalongan (UNIKAL) memanfaatkan hari ini dengan menyelenggarakan ajang peringatan melalui partipasi segenap civitas akademika secara spontanitas dan bebas. Acara ini mengalir begitu saja di teras depan Gedung C Kampus Universitas Pekalongan. Sehingga siapapun civitas akademika, yang berlalu lalang di sela aktivitas perkuliahan bisa ikut berkontribusi mengekspresikan diri. Hanya dengan selembar kain hitam yang tergelar ibarat panggung imajiner. Serta, selembar karton tertempel di atas pintu gerbang masuk gedung laksana spanduk MMT mengumandangkan tema “UNIKAL Bukan Pencetak Generasi Koruptor”.


Terlantun serak Minor “...bosan bicaramu, hanya logat itu-itu saja”  mendikte bait-bait puisi seiring dawai gitar bergemrincing terpetik lembut. Tersisip gelak tawa cekikan muda-mudi menyela apresiasi terhadap unjuk gigi sesama teman. Kembali pentas khayalan mendendangkan “…hukum buat permainan, maling besar dilindungi, maling kecil dihakimi” menggetarkan emphatic setiap hati pendengar menyimak serempak deret paduan suara, diiringi perkusi sederhana, berupa bangku kecil yang ditabuh sekenanya. Megaphone TOA pun berkoar-koar menawarkan peluang partisipasi mahasiswa-mahasiswi yang sedang asyik masyuk dengan berbagai kesibukannya masing-masing. Satin hitam pun harus tergeser kesana-kemari, tatkala anggota-anggota Teater SOGAN harus tertatih-tatih memerankan rakyat nan memelas, di antara arogansi sosok pejabat pemegang amanat menghaluskan ketamakannya merampas hak-hak kesejahteraan pemberi legitimasinya menduduki singgasana penentu kebijakan.


Akankah aksi mereka di pojok sebuah kampus ini akan bergaung di teras-teras penyelenggara kehidupan bermasyarakat-bernegara? Mungkinkah polah tingkah mereka akan menggema di tiap relung hati penyimak sebagai ajang pembelajaran tingkah laku para calon alumni yang segera berkiprah di masyarakat?
~Oleh: Arry Anand~

Serbuan Strike Nila Di Jembatan Slamaran Menyaingi Panen Tiga Waja Di Muara

December 07, 2014 Add Comment
Kiranya para pehobby mancing mania sekitaran Pekalongan sedang dimanjakan “strike”. Dalam 2 minggu terakhir ikan Grabah (lokal: Tigo Wojo) banyak ditemukan di Muara Kali Banger Slamaran, sangat menghibur wisata mancing. Ikan sebesar telapak tangan dewasa ini tiap hari memenuhi keranjang-keranjang pemancing. Cukup dengan menyisakan waktu sekitar 2 – 3 jam mereka berlomba banyak-banyak mendapatkan ikan yang cukup digemari dalam aksinya menarik umpan. Meski perolehannya masih terhitung dalam jumlah banyak, namun ikan Grabah yang terkail ini tinggal yang berukuran kecil-kecil.
Belum habis masa panen Ikan Grabah tersebut, di kisaran kanal terbendung penghubung antara Kali Loji dan Kali Banger para mancing mania disibukkan dengan strike yang bertubi-tubi dari Ikan Nila. Memang ikan ini tidak sebesar dan semenarik Ikan Grabah, tapi kalapnya ikan Nila melahap umpan cacing cukup menggoda. Salah satu anggota komunitas klub mancing mania “Srondo”, Wahyudi (49 tahun) menggambarkan, “…betapa mengasyikkan, sementara pergantian tampilan air di Kali Banger melenyapkan strike Ikan Kakap Putih, terhibur dengan adanya strike dari Ikan Nila ini.”
Secara terpisah Faisol (40 tahun) warga Krapyak Lor mengulas latar belakang, “…sebenarnya Ikan Nila itu kira-kira setahun yang lalu dilepas dalam acara pelepasan sejuta ikan oleh Bapak Walikota Pekalongan di tepian Tempat Pelelangan Ikan PPNP.”
~Oleh: Arry Anand~

Sungai Pekalongan Penuh Sampah

December 06, 2014 Add Comment
Pekalongan News
Contoh salah satu warga yang membuang sampah di sungai
Pekalongan
Disela-sela giatnya pemkot kota Pekalongan membenahi kebersihan dan promo pekalongan membatik dunia,  masih ada yang tercecer dari kurangnya sosialisasi kesadaran masyarakat membuang sampah dengan sembarangan.

Seperti tampak pada gambar seorang ibu dengan enteng nya membuang sampah rumah tangga ke pinggir sungai dan itu dilakukan hampir semua warga pinggir sungai dengan banyaknya bukti tumpukan sampah disepanjang aliran sungai terutama krapyak.
                         
Tanggung jawab kebersihan terutama sungai memang bukan pemkot semata, ada tokoh masyarakat lokal, ada perangkat desa, dan ulama yang katanya fatwa lan nasehatipun di dengarkan jamaahnya akan tetapi pemerintah harus mengerti apa yang menjadi kemauan warga dan memfasilitasinya,kenapa warga sampai nekat  membuang sampahnya kesungai, cari tahu sebabnya apa ketiadaan petugas sampah keliling, kalaupun ada apa tarifnya memberatkan warga,atau juga apa petugas sampahnya kurang maksimal tidak menjangkau rumah seluruh warga, atau bahkan warga minta di gratiskan retribusi sampah.

Penulis takutnya krapyak yang religius koq warganya kemproh, saya kira solusi seperti itu yakin ada tinggal semuanya bertanggung jawab sesuai fungsinya wujudkan sungai pekalongan bersih rindang sepanjang tepiannya dan tentunya nyaman untuk mata yang menatapnya.

By: warga pekalongan

Kere Ria, Orkes Melayu Pencetak Rekor Dunia

December 06, 2014 Add Comment
Biarpun Terlihat Biasa Saja,jangan anggap remeh kalou grup musik yang menamakan diri OM Kere Ria ini adalah pencetak banyak rekor dunia terutama sang vokalis yang mampu bekerja dengan banyak jabatan di bidang musik secara bersamaan.
Sang vokalis dalam sekali show mampu menjalankan tugas yang biasa dilakukan oleh beberapa orang ini dengan seorang diri misalkan, disamping sebagai vokalis dia juga merangkap jadi Music operator, sound enginer, mixing, music kareografi, artist manager, EO, music director, penarik properti show, penarik saweran, maintenance, mungkin juga editing karena kiprahnya dalam dunia shobiz dia harus pintar pintar promo baik off air atou on air terutama di youtube bahkan di media sosial sekalipun...
Sedangkan satu satunya jabatan yang tidak di pegang adalah sebagai property balancer atau penyeimbang atau pemberat properti agar properti bergerak stabil alias agar tidak terjungkal ke depan, jabatan tersebut  di pegang kru wanita yang terus ndeprok di spatbor belakang properti.....

Mbah Tohir Umbar Kaca mata Subyektif “Kok Bisa”

November 29, 2014 Add Comment
Pekalongan 28 november 2014
Mbah Tohir Umbar Kaca mata Subyektif “Kok Bisa”
mbah Tohir
Aktor teater gaek dari Surabaya, Mbah Tohir, dengan jalan terpincang-pincang ini masih piawai memerankankan karyanya “Kok Bisa”. Dengan 1 tongkat penyangga dia masih mampu menuntaskan lakon monolognya. Dalam durasi mendekati 1 jam dia memukau dengan kritik sosialnya, yang menekankan pada jati diri “Perempuan”. Tak terlewatkan, dia pun menyisipkan lelucon-leluconnya yang menunjukkan seorang  mantan anggota Srimulat angkatan tahun 1966. Gerak-gerik yang sudah tak kenal jengah lagi dengan paparan panggung, yang telah digelutinya sejak SMP.
Dari polah tingkah Mbah Tohir, dua patah kata “Kok Bisa” menjadi suatu rangkaian penuturan tak berbatas dan menjadi magnet tiap perhatian penonton. Pemirsa dibuat terlena laksana anak-anak kecil dinina-bobokkan dongeng Abu Nawas yang membuahkan cekikikan di sela kantuknya. Suatu ajang penggugah minat untuk lebih berkomitmen dalam menggeluti dunia teater. Memicu upaya pembelajaran tanpa harus menunggu tersibaknya talenta seseorang yang berkaitan dengan nilai seni.
Puing-puing sosok perempuan dibiarkan tercerna sebagai kisah-kisah secara terpisah. Gejala zaman yang serta merta mengusung perubahan peran tersajikan dalam kecenderungan kaum hawa untuk bersaing menampilkan keunggulannya dibanding lawan jenisnya. Emansipasi yang berujung pada ketidakterlepasan kodrati makhluk yang tetap melekat pada kebutuhan perlindungan dari pesaingnya.Yang pada akhirnya memandu dongeng biologisnya merunut pentahapan kehidupan berumaha tangga.
Acara ini digelar Jum'at , 28 November 2014 pukul 20:00 WIB di Gedung C lantai 3 Universitas Pekalongan. Diselenggarakan oleh BEM Universitas Pekalongan, berkolaborasi dengan Teater Zenith, Teater Unique, Sogan, dan Gandewa.
~Oleh: Arry Anand~

Festival Permainan Tradisional, Lestarikan Mainanan Yang Telah Punah

November 18, 2014 Add Comment

Kota Pekalongan-Ditengah permasalahan limbah dan sampah di kota pekalongan, serta budaya konsumstif terhadap mainan yang relatif harus mengeluarkan biaya dalam mendapatkannya, menghidupkan kembali permainan-permainan anak tradisional tampaknya harus dilakukan. Hal itu di katakan oleh Mushofa Basyir, Pakar Penelitian sekaligus penyelenggara Festival Permainan Tradisional di Kelurahan Tirto, Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Minggu (16/11).

Puluhan permaianan dari bahan yang relatif mudah didapatkan, minggu (16/11) bisa dijumpai dalam acara tersebut. Tampak puluhan warga berkompetisi dalam membuat permainan dari bahan-bahan yang relatif mudah didapat dilingkungan sekitar. Congklak, panggalan, serta maianan lain yang terbuat dari limbah, sampah, dan barang-barang bekas. Tidak hanya anak-anak saja yang ikut terlibat dalam perlombaan ini, melainkan orang tua juga turut berpartisipasi dalam kompetisi tersebut.

“memang tidak hanya anak-anak saja, orang tua juga dituntut untuk bisa membuat sendiri mainan tradisional. Karena bagaimana pun juga, kala orang tua dibenturkan dengan permasalahan ekonomi, permaianan tradisionallah yang kiranya tepat untuk menghadapi situasi seperti itu” kata pria yang kesehariannya di Pusat Penelitian Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STAIN pekalongan itu.

Ia menjelaskan keprihatinannya terhadap realita kehidupan anak yang kala ingin memiliki sebuah permainan harus dituntut membeli dan ironisnya permainan yang dibelinya cenderung permaianan-permainan impor. 

“padahal permaianan tradisional lebih relatif murah mendapatkannya, dan disamping itu ada nilai pelestarian terhadap budaya tradisional juga melestarikan lingkungan.” Bebernya.
Dalam festival tersebut, tidak hanya diperuntukkan kepada anak saja, melainkan pemuda dan orang tua. Mereka berkompetisi membuat mainan dengan tangan sendiri.

 “orang tua justru yang menjadi sasaran utama kami, karena merekalah yang tau permaianan-permainan masa kecil mereka. Dan pemuda juga dituntut bisa lebih menginovasikan.” Imbuhnya.
Sementara Khoirun Nikmah, 14, mengaku dengan melihat puluhan mainan dalam festival tersebut ia bisa sewaktu-waktu membuatnya sendiri untuk menghibur adiknya di rumaha kala rewel. 
“ada beberapa maianan yang saya lihat proses pembuatannya sangat mudah. Sehingga lain waktu saya akan membuatkannya untuk menghibur adik saya” katanya.
Ahli Psikologi Anak, Sri Mumun Muniroh, mengatakan permaianan anak tradisional lebih dipengaruhi oleh kebijakan orang tua dalam memilihkan permaianan untuk anakanya. Melihat orang tua sekarang cenderung lebih memilih yang instan.
“dalam kacamata perkembangan, dunia anak merupakan dunia bermain. Terkait pemilihan permaianan untuk anaknya tergantung kebijakan orang tua. Dan orang tua sekarang cenderung tidak mau direpotkan. Ia memilih merogoh gocek lebih untuk membelikan permaianan untuk anaknya. dan hal ini yang justru lebih mempengaruhi kepunahan dari budaya permaianan tradisonal yang relatif ekonomis” paparnya.

Menengok Kebijakan One Day No Rice (ODNR) Kota Pekalongan

October 28, 2014 Add Comment
Kota Pekalongan-
Di Berlakukanya Program One Day No Rice (ODNR) atau program sehari tanpa nasi yang mulai di laksanakan hari ini di tanggapi beragam oleh masayarakat dan pengusaha warung di seputar Kantor Pemerintah Kota pekalongan, banyak masyarakat hari ini kecele ketika akan makan di warung nasi
seputaran Kantor Pemkot Pekalongan, pasalnya rata-rata mereka tidak mengetahui kalau hari itu warung nasi yang ada tidak menyediakan menu nasi seperti biasanya, sehingga banyak dari  mereka yang memilih makan di tempat lain, sementara yang
memang sudah tahu tetap makan seperti biasa nya.

Seperti di warung nasi milik Bang Ali yang ada di sebelah barat Kantor Dinas Pertanahan Kota pekalongan yang hari itu menyediakan menu gado-gado, pecel, dan aneka makanan serta cemilan yang terbuat selain nasi dan tepung terigu.

Kepada pekalongan-news.com Selasa (28/10/24) Bu Ali pengelola
warung mengaku kaget dengan surat edaran yang ia terima mengharuskan dirinya menyediakan menu alternatif sebagai pengganti nasi, padahal dirinya sudah berbelanja seperti biasanya sedang surat menurut pengakuanya baru di terima sore hari.

" saya baru terima surat edaran senin sore sedangkan pemberlakuan kebijakan tersebut mulai selasa pagi harinya, jelas saya tidak siap dan meminta dispensasi untuk di tunda selasa depan namun begitu
saya sempatkan menyediakan menu yang sesuai dengan surat edaran hanya saja tetap menyertakan menu nasi." katanya.

Lain halnya dengan Bu Dewi Palupi pengelola warung Dewi yang ada di
belakang Puskesmas Pemkot Pekalongan mengaku kepada pekalongan-news.com dirinya sore menerima surat edaran esoknya lebih memilih mengikuti intruksi dengan menyedia kan aneka jenis makanan pengganti nasi seperti ketoprak. pecel dan berbagai macam makanan yang terbuat dari umbi-umbian.

" Saya hanya mencoba ikuti mas, tapi tadi banyak yang kecele dan banyak yang pindah warung karena lebih memilih nasi, jelas hari ini omset saya turun drastis tapi mau bagaimana lagi peraturanya sudah seperti itu." akunya.


Salah satu pengunjung warung yang berhasil pekalongan-news.com temui mengatakan bahwa ia sudah tahu akan ada aturan seperti itu dan mencoba bersikap biasa saja dengan menyantap hidangan alternatif tersebut untuk menjawab rasa penasaranya dengan tidak makan nasi.

" bagus sih programnya, akan tetapi lebih bagus kalau harinya di ganti Senin dan Kamis dengan alasan ada  dua pilihan, tetap makan dengan menu alternatif atau sekalian memilih puasa karena
saya kira tetap sama-sama tidak mengenyangkan." kata Bodro TS, salah satu Pegawai dinas Pertanahan yang hari itu kedapatan menya ntap menu alternatif.

Seperti di beritakan sebelumnya Pemerintah Kota Pekalongan mengeluarkan surat edaran tentang kebijakan pengurangan mengkonsumsi nasi demi menjaga ketahanan pangan dan juga melakukan percepatan konsumsi asupan karbohidrat selain dari produk nasi dan terigu lewat hasil rapat Dewan Ketahanan Pangan Kota Pekalongan pada Tanggal 16 oktober dan atas prakarsa Tim penggerak PKK
Kota Pekalongan dalam acara sepeda sehat tanggal 17 oktober lalu agar di berlakukanya program One Day No Rice (ODNR) di Kota Pekalongan.