Belasan Tuyul Taklukan Pohon Pinang Setinggi 18 Meter

August 19, 2015
Belasan Tuyul Taklukan Pohon Pinang Setinggi 18 Meter
Tingginya pohon pinang menjadi kesulitan tersendiri bagi belasan  peserta lomba panjat pinang yang digelar warga Sapuro , Kota Pekalongan, Senin malam (17/8/15)
Kota Pekalongan
Lomba Panjat pinang diperingatan hari kemerdekaan sudah hal umum diselenggarakan masyarakat indonesia di berbagai tempat. Akan tetapi kalau lomba panjat pinang diselenggarakan pada malam hari dan pesertanya diharuskan berkostum ala tuyul lengkap dengan rambut plontos serta mengenakan popok seperti halnya bayi pada umumnya tentu menjadi sesuatu hal yang unik dan warga Rw 08 Kelurahan Sapuro Kota Pekalongan menggelarnya kemarin malam, Senin (17/8/15).

Tak tanggung-tanggung ukuran pohon pinang yang disediakan panitia juga termasuk luar biasa ukuranya. Tinggi pohon pinang mencapai 18 meter yang harus ditaklukan oleh belasan pemuda setempat yang menyaru jadi tuyul.

Dengan tubuh dicat warna merah putih belasan tuyul jatuh bangun dan tak kenal lelah mencoba menggapai puncak. Usaha para tuyul rupanya tak sia-sia setelah 4,5 jam dengan susah payah akhirnya pohon pinang berhasil ditaklukan.

Ratusan penonton yang sedari awal tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah konyol belasan tuyul tersebut akhirnya juga memberikan aplus tepuk tangan meriah dan salut terhadap usaha yang dilakukan mengingat tingginya pohon pinang yang agak kurang wajar dibanding dengan pohon pinang di tempat lain.

Salah satu tuyul yang berhasil menggapai puncak dengan semangatnya mengambil hadiah yang sengaja digantung oleh panitia diatas, mulai dari baju batik, kain batik, kaos, sarung, daster, dan sejumlah uang tunai yang nominalnya mencapai Rp 2 juta rupiah.

Panitia penyelenggara, bachtiar menjelaskan bahwa kegiatan lomba panjat pinang pada malam hari sudah rutin digelar tiap tahun oleh warga sapuro, khususnya warga Rw 08 setiap peringatan HUT kemerdekaan RI.
"Tiap tahun sudah rutin kita gelar. Kali ini, selain lomba panjat pinang, kami juga menggelar lomba makan," ungkapnya.
Untuk anggaran, panitia dibantu warga dan paguyuban pedagang batik di kompleks makam sapuro secara suka rela.
"Semuanya ikut berpartisipasi sehingga kegiatan ini bisa sukses," bebernya.
Sedangkan salah satu panitia lainya, Gumawang,mengklaim bahwa pohon pinang yang dipakai dalam lomba itu adalah yang tertinggi dibanding yang dipakai di tempat-tempat lain di Pekalongan.
"Sepengetahuan kami, pohon jambe (pinang, red) ini merupakan yang tertinggi di Pekalongan. Setelah selesai digunakan di sini, ada beberapa panitia lomba dari kelurahan lain yang berminat untuk meng gunakan pohon pinang ini di tempat mereka," ungkapnya.

Share this

Related Posts