0 Comment
Mbendo, Lokasi Bursa Kerja Ala Pekalongan
Setiap pagi kecuali hari jum'at berjejer sepanjang jalan buruh menunggu didatangi para juragan
Pekalongan
Hal Yang umum dilakukan seseorang ketika ingin mendapat pekerjaan tentunya dengan melamar kerja salah satunya. Tapi hal tersebut tidak akan anda temui kalau sempat berkunjung ke Jalan Jendral Suprapto Kradenan, Pekalongan Selatan atau tepatnya di Mbendo kalau orang pekalongan menyebutnya. setiap harinya ratusan orang bergerombol berjejer di sepanjang jalan tersebut. 
Mereka bergerombol bukan untuk demo atau nongkrong melainkan sedang menunggu juragan atau bos yang akan melamar mereka sebagai karyawanya. kebalikanya bukan? Itulah keunikanya. 

Bursa kerja ala Pekalongan Selatan tersebut mulai jam 07.00 sampai jam 09.00 pagi setiap hari kecuali hari Jum'at dan konon itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun lampau.

Seperti dituturkan Pak anas (59 th) seorang buruh babar batik, warga Kebon sari, kecamatan Karang Dadap, Kabupaten Pekalongan, Dirinya sudah 40 tahun menjalani rutinitas sebagai buruh yang mencari pekerjaan dengan cara mangkal di Mbendo tersebut. Dirinya masih ingat ketika masih belia sering diajak ayahnya mangkal, sepengetahuanya tahun 1952 sudah ada karena dulu ayahnya pernah cerita kalau awal tahun 50-an bersama teman sekampungnya yang belum punya pekerjaan pasti mangkal.

"Beberapa tahun ini sebenarnya saya sudah ikut juragan batik mas, tapi karena usaha juragan saya tersebut sedang sepi, akhirnya saya kembali lagi kesini (jl Jendral Suprapto), biasa menunggu ada yang datang membutuhkan tenaga saya," ujar kakek 6 cucu yang diamini oleh dua orang rekanya.

Dikisahkan Anas, dulu awalnya saya mendapatkan pekerjaan juga dari sini, karena belum mene mukan pekerjaan yang permanen sebagai buruh babar ya sementara jadi serep dulu sambil menunggu juragan yang bisa mengikatnya sebagai karyawan.

"Kini setelah anak-anak sudah mandiri semua dan saya hanya tinggal berdua dengan istri ya saya justru memilih mangkal saja, kalau dulu kan butuh yang langgeng karena harus menghidupi anak istri, kalau sekarang kan beban sudah berkurang, kalau nyerep paling hanya sebentar, dalam satu minggu paling dua atau 3 hari kerjanya," jelasnya.

Tampak beberapa buruh sedang menunggu

Dikatakan Anas, kalau ikut menetap bersama juragan gajinya lebih kecil dari pada mangkal tapi langgeng, namun kalau mangkal kita bisa pasang tarif, yang butuh kan para juragan, seringnya dari pada kekurangan tenaga karena karyawan cuti atau berhalangan kerja para juragan biasanya setuju asal tawar menawar upah harianya sudah sepakat.

"Paling selisihnya gak seberapa, semisal yang tetap itu harianya Rp 40 ribu, nah kalau mangkal bisa sampai 65 ribu. Tak banyak namun sangat berarti," tutur nya.

Hal yang sama juga dikatakan Imron (45 th) buruh babar batik sekampung dengan Anas, Dirinya sengaja memilih mangkal selain karena lebih hemat tenaga karena bekerja hanya 3 sampai 4 hari dalam seminggu juga karena kondisi usaha sedang lesu.

"Ya ini salah satu cara bertahan saja mas, daripada tidak ada pekerjaan sama sekali," tukasnya.

Sementara itu obrolan dengan dua orang buruh tersebut harus terputus karena kedatangan seorang juragan yang membutuhkan jasa keduanya, seperti saling tahu tidak ada pembicaraan tawar menawar, yang terucap hanya kata 'mangkat saiki' (berangkat sekarang) seolah keduanya sudah terbina relasi onship sejak lama. 

Beruntung saya masih sempat melontarkan permintaan kesediaan waktu untuk wawancara kepada sang juragan yang rupanya bernama Haji Malik (51 th) pemilik Batik Zanoor Kelurahan Pringlangu, sekarang Pringrejo gang 7 nomor 99.

Haji Malik mengaku sudah sering melakukan mengambil tenaga kerja di bursa kerja Jalan jendral Suprapto tersebut karena menurut hematnya lebih praktis dan siap kerja dengan keahlianya bisa diandalakan meski harus mengeluarkan budget lebih tinggi dari pada biasanya.

"Daripada saya kesulitan karena sedang ada pesanan yang harus terkejar sementara ada beberapa karyawan saya ijin cuti, ya solusinya ambil disini. Soal beda upah masih wajarlah, toh mereka kerja hanya sebentar nanti karyawan saya masuk bisa kembali seperti semula," terangnya.

Tak ada yang tahu pasti kapan tepatnya kebiasaan mangkal di jalan Jendral Suprapto sebagai ajang menunggu tawaran pekerjaan, yang jelas dari pantauan di lokasi peminatnya tidak hanya dari warga seputar Pekalongan saja tetapi juga luar kota seperti, Ulujami, comal, pemalang dan lainya.

Post a Comment Blogger

 
Top