Pekalongannews, Jakarta - Pemerintah tengah mematangkan kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pekerja swasta.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini sedang menyusun detail teknis pelaksanaan kebijakan tersebut. Ia menegaskan bahwa fleksibilitas kerja akan diberikan dalam bentuk WFH satu hari dari total lima hari kerja dalam sepekan.
“Fleksibilitas akan dibuka untuk work from home satu hari dalam lima hari kerja,” ujar Airlangga.
Rencananya, kebijakan ini akan mulai diterapkan setelah periode Lebaran. Namun, pemerintah masih akan menentukan waktu pasti pelaksanaannya dengan mempertimbangkan dinamika global, terutama yang berkaitan dengan harga minyak mentah dan situasi geopolitik internasional.
Menurut Airlangga, durasi penerapan kebijakan WFH ini juga bersifat fleksibel dan akan disesuaikan dengan kondisi yang berkembang. Jika tekanan terhadap harga energi masih tinggi, maka kebijakan ini berpotensi diperpanjang guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Pemerintah memproyeksikan bahwa penerapan WFH satu hari dalam seminggu dapat memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan konsumsi BBM. Dengan berkurangnya mobilitas pekerja, penggunaan bahan bakar untuk transportasi harian diperkirakan dapat ditekan hingga sekitar 20 persen.
“Penghematan dari sisi mobilitas, terutama penggunaan bensin, bisa cukup signifikan, bahkan mencapai seperlima,” jelasnya.
Selain efisiensi energi, kebijakan ini juga diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Pengurangan beban konsumsi energi dinilai mampu membantu menjaga stabilitas anggaran serta mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga energi global.
Saat ini, pemerintah masih melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna memastikan kesiapan implementasi di lapangan. Masyarakat, baik dari kalangan ASN maupun pekerja swasta, diminta untuk menunggu pengumuman resmi terkait jadwal pasti penerapan kebijakan tersebut.
Pemerintah berharap seluruh pihak dapat mendukung penuh inisiatif ini. Transformasi pola kerja melalui WFH dinilai tidak hanya menjadi solusi jangka pendek dalam penghematan energi, tetapi juga langkah strategis menuju budaya kerja yang lebih adaptif dan efisien di masa depan.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi nasional untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah ketidakpastian kondisi global, khususnya terkait fluktuasi harga energi dunia, Sabtu (21/3/2026).
Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta adanya upaya konkret dalam penghematan energi secara nasional.
Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta adanya upaya konkret dalam penghematan energi secara nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini sedang menyusun detail teknis pelaksanaan kebijakan tersebut. Ia menegaskan bahwa fleksibilitas kerja akan diberikan dalam bentuk WFH satu hari dari total lima hari kerja dalam sepekan.
“Fleksibilitas akan dibuka untuk work from home satu hari dalam lima hari kerja,” ujar Airlangga.
Rencananya, kebijakan ini akan mulai diterapkan setelah periode Lebaran. Namun, pemerintah masih akan menentukan waktu pasti pelaksanaannya dengan mempertimbangkan dinamika global, terutama yang berkaitan dengan harga minyak mentah dan situasi geopolitik internasional.
Menurut Airlangga, durasi penerapan kebijakan WFH ini juga bersifat fleksibel dan akan disesuaikan dengan kondisi yang berkembang. Jika tekanan terhadap harga energi masih tinggi, maka kebijakan ini berpotensi diperpanjang guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Pemerintah memproyeksikan bahwa penerapan WFH satu hari dalam seminggu dapat memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan konsumsi BBM. Dengan berkurangnya mobilitas pekerja, penggunaan bahan bakar untuk transportasi harian diperkirakan dapat ditekan hingga sekitar 20 persen.
“Penghematan dari sisi mobilitas, terutama penggunaan bensin, bisa cukup signifikan, bahkan mencapai seperlima,” jelasnya.
Selain efisiensi energi, kebijakan ini juga diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Pengurangan beban konsumsi energi dinilai mampu membantu menjaga stabilitas anggaran serta mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga energi global.
Saat ini, pemerintah masih melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna memastikan kesiapan implementasi di lapangan. Masyarakat, baik dari kalangan ASN maupun pekerja swasta, diminta untuk menunggu pengumuman resmi terkait jadwal pasti penerapan kebijakan tersebut.
Pemerintah berharap seluruh pihak dapat mendukung penuh inisiatif ini. Transformasi pola kerja melalui WFH dinilai tidak hanya menjadi solusi jangka pendek dalam penghematan energi, tetapi juga langkah strategis menuju budaya kerja yang lebih adaptif dan efisien di masa depan.



No comments:
Post a Comment