Pekalongannews, Kota Pekalongan - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menembus angka Rp17.700 mulai berdampak langsung pada pelaku usaha kecil, salah satunya pemilik bengkel motor di wilayah Pekalongan Batang dan sekitarnya.
Kondisi tersebut memicu kenaikan harga berbagai suku cadang dan oli kendaraan yang sebagian besar masih bergantung pada bahan baku maupun produk impor.
Para pemilik bengkel dan penjual Sparepart motor mengaku saat ini menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga spare part yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan harga dinilai cukup signifikan dan membuat biaya operasional usaha semakin membengkak. Tidak hanya pemilik bengkel, para konsumen juga mulai mengeluhkan mahalnya biaya servis kendaraan.
Joko salah satu pemilik bengkel di kota Pekalongan mengatakan hampir seluruh komponen kendaraan mengalami kenaikan harga. Mulai dari ban luar, oli, hingga sejumlah spare part lainnya mengalami penyesuaian harga yang cukup tinggi.
“Ban naik sekitar Rp20 ribuan, oli juga naik sampai Rp10 ribu. Hampir semua spare part naik. Konsumen juga banyak yang komplain karena sekarang biaya servis jadi lebih mahal,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi saat ini jauh lebih berat dibanding kenaikan harga sebelumnya. Pelemahan rupiah membuat harga barang impor terus merangkak naik, sementara daya beli masyarakat justru cenderung menurun.
“Ini bukan sekadar naik biasa, tapi sudah terasa parah. Banyak pelanggan akhirnya menunda ganti spare part atau servis karena keberatan dengan harganya,” tambahnya.
Kenaikan harga oli menjadi salah satu yang paling dirasakan masyarakat. Pasalnya, oli merupakan kebutuhan rutin kendaraan yang harus diganti secara berkala agar performa mesin tetap terjaga. Ketika harga oli naik, pemilik kendaraan otomatis harus mengeluarkan biaya tambahan setiap bulannya.
Di sisi lain, pelaku usaha bengkel juga berada dalam posisi sulit. Mereka harus tetap menyediakan stok spare part demi memenuhi kebutuhan pelanggan, meski harus membeli dengan harga yang lebih tinggi dari distributor.
Pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir memang menjadi perhatian banyak pihak. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada berbagai sektor usaha yang masih mengandalkan produk impor, termasuk industri otomotif dan jasa perbengkelan.
Para pemilik bengkel berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah agar harga spare part dan kebutuhan otomotif kembali normal.
Kondisi tersebut memicu kenaikan harga berbagai suku cadang dan oli kendaraan yang sebagian besar masih bergantung pada bahan baku maupun produk impor.
Para pemilik bengkel dan penjual Sparepart motor mengaku saat ini menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga spare part yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan harga dinilai cukup signifikan dan membuat biaya operasional usaha semakin membengkak. Tidak hanya pemilik bengkel, para konsumen juga mulai mengeluhkan mahalnya biaya servis kendaraan.
Joko salah satu pemilik bengkel di kota Pekalongan mengatakan hampir seluruh komponen kendaraan mengalami kenaikan harga. Mulai dari ban luar, oli, hingga sejumlah spare part lainnya mengalami penyesuaian harga yang cukup tinggi.
“Ban naik sekitar Rp20 ribuan, oli juga naik sampai Rp10 ribu. Hampir semua spare part naik. Konsumen juga banyak yang komplain karena sekarang biaya servis jadi lebih mahal,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi saat ini jauh lebih berat dibanding kenaikan harga sebelumnya. Pelemahan rupiah membuat harga barang impor terus merangkak naik, sementara daya beli masyarakat justru cenderung menurun.
“Ini bukan sekadar naik biasa, tapi sudah terasa parah. Banyak pelanggan akhirnya menunda ganti spare part atau servis karena keberatan dengan harganya,” tambahnya.
Kenaikan harga oli menjadi salah satu yang paling dirasakan masyarakat. Pasalnya, oli merupakan kebutuhan rutin kendaraan yang harus diganti secara berkala agar performa mesin tetap terjaga. Ketika harga oli naik, pemilik kendaraan otomatis harus mengeluarkan biaya tambahan setiap bulannya.
Di sisi lain, pelaku usaha bengkel juga berada dalam posisi sulit. Mereka harus tetap menyediakan stok spare part demi memenuhi kebutuhan pelanggan, meski harus membeli dengan harga yang lebih tinggi dari distributor.
Pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir memang menjadi perhatian banyak pihak. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada berbagai sektor usaha yang masih mengandalkan produk impor, termasuk industri otomotif dan jasa perbengkelan.
Para pemilik bengkel berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah agar harga spare part dan kebutuhan otomotif kembali normal.
Mereka khawatir jika kondisi ini terus berlangsung, penjualan akan semakin menurun dan berdampak pada keberlangsungan usaha kecil di daerah.
“Harapannya rupiah bisa kembali stabil supaya harga-harga normal lagi dan usaha bengkel tetap jalan,” pungkas salah seorang pemilik bengkel.
“Harapannya rupiah bisa kembali stabil supaya harga-harga normal lagi dan usaha bengkel tetap jalan,” pungkas salah seorang pemilik bengkel.



No comments:
Post a Comment