-->

Panda Bonds Masih Dilirik Investor China, Tapi Bukan Obat Pelemahan Rupiah

Pekalongan News
Tuesday, May 19, 2026, May 19, 2026 WIB Last Updated 2026-05-19T01:53:41Z
Panda Bonds Masih Dilirik Investor China, Tapi Bukan Obat Pelemahan Rupiah
gambar ilustrasi
Pekalongannews, Jakarta - Ekonom menilai penerbitan Panda Bonds masih berpotensi menarik minat investor China meski iklim investasi di Indonesia tengah mendapat sorotan dari pelaku usaha Negeri Tirai Bambu. 

Namun instrumen utang berdenominasi yuan itu disebut bukan solusi utama untuk menyelamatkan rupiah dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS).

Kepala Ekonom Bank Permata, Joshua Pardede, mengatakan daya tarik Panda Bonds tidak hanya berasal dari tingkat bunga yang lebih rendah dibanding Surat Berharga Negara (SBN) rupiah. 

Menurutnya, bunga obligasi di China memang lebih rendah dibanding Indonesia, tetapi biaya keseluruhan tetap dipengaruhi sejumlah faktor lain.

“Risiko nilai tukar, biaya hedging, hingga tenor obligasi tetap menjadi pertimbangan utama investor,” kata Joshua.

Ia juga menyoroti keluhan dari China Chamber of Commerce in Indonesia terkait regulasi di Indonesia. Menurut Joshua, investor China sangat memperhatikan kepastian kebijakan serta stabilitas ekonomi sebelum menanamkan modal.

Meski begitu, kondisi tersebut dinilai belum membuat Panda Bonds kehilangan daya tarik. 

Indonesia masih dianggap memiliki prospek yang menjanjikan karena pertumbuhan ekonomi relatif kuat, pasar domestik besar, dan hubungan ekonomi dengan China yang terus berkembang.

Joshua menjelaskan, Panda Bonds dapat menjadi salah satu strategi diversifikasi pembiayaan pemerintah.

"Instrumen ini juga dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan berbasis dolar AS," jelasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya dipicu satu faktor. 

Tekanan terhadap mata uang rupiah saat ini dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia, tingginya impor energi, arus modal keluar, hingga penguatan dolar AS secara global.

Karena itu, Panda Bonds dinilai hanya bisa membantu mengurangi tekanan pembiayaan dalam jangka pendek, bukan menjadi solusi utama untuk memperkuat rupiah di tengah gejolak ekonomi global.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI