![]() |
| Gambar Ilustrasi Dibuat Dengan AI |
Dampak tersebut tidak hanya dirasakan pelaku usaha besar, tetapi juga buruh, petani, nelayan, pedagang pasar hingga UMKM yang sehari-hari bergantung pada kebutuhan pokok dan barang produksi berbahan impor.
Ekonom Indonesia, Dipo Satria Ramli, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor bahan baku industri. Akibatnya, harga barang di pasar ikut mengalami kenaikan, sementara pendapatan masyarakat cenderung tetap.
“Ketika rupiah melemah, industri yang menggunakan bahan baku impor otomatis mengalami kenaikan biaya produksi. Pada akhirnya harga barang naik, tetapi gaji masyarakat tidak ikut naik. Ini yang membuat daya beli melemah,” ujar Dipo dalam wawancara di program Kompas Bisnis.
Menurutnya, masyarakat desa tetap terdampak meski tidak menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari. Hal itu karena banyak kebutuhan pokok dan barang konsumsi diproduksi menggunakan bahan baku impor yang harganya dipengaruhi kurs dolar.
“Warga desa memang tidak pegang dolar, tetapi mereka membeli barang yang rantai pasoknya terpapar dolar. Jadi efeknya tetap terasa lewat kenaikan harga kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.
Dipo menambahkan, kondisi tersebut memicu imported inflation atau inflasi impor, yakni kenaikan harga barang akibat faktor eksternal seperti pelemahan kurs dan naiknya harga minyak dunia. Dampaknya paling terasa pada masyarakat berpenghasilan tetap karena kemampuan belanja terus menurun.
Ia mencontohkan, nilai uang yang sebelumnya cukup membeli lebih banyak kebutuhan kini semakin menyusut akibat harga barang yang naik. Namun, dampak kenaikan tiap komoditas tidak selalu sama karena dipengaruhi stok barang, subsidi pemerintah, hingga strategi pelaku usaha.
Selain sektor pangan, tekanan juga dirasakan pada sektor energi. Data Kementerian ESDM menunjukkan ketergantungan impor LPG Indonesia mencapai lebih dari 80 persen. Meski pemerintah masih menahan harga BBM subsidi, tekanan fiskal terhadap APBN dinilai semakin berat.
“Subsidi memang membantu masyarakat, tetapi pemerintah juga harus menjaga kemampuan fiskal negara. Karena pada akhirnya tidak ada kebijakan yang benar-benar gratis,” kata Dipo.
Untuk komoditas pangan, kenaikan harga mulai terasa pada produk berbahan kedelai seperti tahu dan tempe. Sementara produk terigu dinilai masih relatif stabil karena faktor stok dan distribusi industri.
Dipo mengingatkan, apabila pelemahan rupiah terus berlanjut tanpa langkah antisipasi yang kuat, maka tekanan ekonomi berpotensi semakin luas dan dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama kelas menengah bawah.
Ekonom Indonesia, Dipo Satria Ramli, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor bahan baku industri. Akibatnya, harga barang di pasar ikut mengalami kenaikan, sementara pendapatan masyarakat cenderung tetap.
“Ketika rupiah melemah, industri yang menggunakan bahan baku impor otomatis mengalami kenaikan biaya produksi. Pada akhirnya harga barang naik, tetapi gaji masyarakat tidak ikut naik. Ini yang membuat daya beli melemah,” ujar Dipo dalam wawancara di program Kompas Bisnis.
Menurutnya, masyarakat desa tetap terdampak meski tidak menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari. Hal itu karena banyak kebutuhan pokok dan barang konsumsi diproduksi menggunakan bahan baku impor yang harganya dipengaruhi kurs dolar.
“Warga desa memang tidak pegang dolar, tetapi mereka membeli barang yang rantai pasoknya terpapar dolar. Jadi efeknya tetap terasa lewat kenaikan harga kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.
Dipo menambahkan, kondisi tersebut memicu imported inflation atau inflasi impor, yakni kenaikan harga barang akibat faktor eksternal seperti pelemahan kurs dan naiknya harga minyak dunia. Dampaknya paling terasa pada masyarakat berpenghasilan tetap karena kemampuan belanja terus menurun.
Ia mencontohkan, nilai uang yang sebelumnya cukup membeli lebih banyak kebutuhan kini semakin menyusut akibat harga barang yang naik. Namun, dampak kenaikan tiap komoditas tidak selalu sama karena dipengaruhi stok barang, subsidi pemerintah, hingga strategi pelaku usaha.
Selain sektor pangan, tekanan juga dirasakan pada sektor energi. Data Kementerian ESDM menunjukkan ketergantungan impor LPG Indonesia mencapai lebih dari 80 persen. Meski pemerintah masih menahan harga BBM subsidi, tekanan fiskal terhadap APBN dinilai semakin berat.
“Subsidi memang membantu masyarakat, tetapi pemerintah juga harus menjaga kemampuan fiskal negara. Karena pada akhirnya tidak ada kebijakan yang benar-benar gratis,” kata Dipo.
Untuk komoditas pangan, kenaikan harga mulai terasa pada produk berbahan kedelai seperti tahu dan tempe. Sementara produk terigu dinilai masih relatif stabil karena faktor stok dan distribusi industri.
Dipo mengingatkan, apabila pelemahan rupiah terus berlanjut tanpa langkah antisipasi yang kuat, maka tekanan ekonomi berpotensi semakin luas dan dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama kelas menengah bawah.



No comments:
Post a Comment