Kisah Sabine Bolk, Cewek Belanda Yang Benci Batik Printing

October 09, 2016
Pekalongan news
Sabine Bolk dengan latar seni batik instalasi karyanya yang dibuat di Musium Batik Pekalongan
Kota Pekalongan
Sabine Bolk (26 th) sudah 7 tahun mempelajari batik. Beberapa daerah yang dikenal sebagai pembuat batik seperti Lasem, Solo, Jogjakarta dan Pekalongan sudah ia jelajahi. Cewek asal Belanda yang aktif ngeblok ini mengaku sangat mencintai batik. Baginya batik itu warisan yang harus dilestarikan keberadaanya. Tak ayal, ia paham betul soal jenis, corak ragam, asal dan bahan pembuat batik.
"Saya sangat membenci batik printing, karena itu merusak dan batik printing bukan sebuah seni," ucapnya blak-blakan saat berbincang dengan penulis beberapa waktu lalu ketika ia tengah menyiapkan sebuah seni instalasi yang diambil dari filosofi batik.
Sabine Bolk mengisahkan, dirinya dan keluarganya yang tinggal di Belanda sangat mencintai Indonesia terutama batik. Makanya ia diijinkan selama 7 tahun menghabiskan waktunya untuk mengeksplorasi Indonesia dengan mengambil spesialisasi di bidang batik.

Saking pahamnya soal batik, pada suatu saat, ketika sedang berada dalam suatu tempat yang begitu banyak tersedia batik, ia dengan mudah mengenali kalau batik tersebut hasil karya si A asal Lasem dan benar.

Jadi jangan kaget kalau misalnya dia hadir dalam kegiatan yang terkait dengan batik semisal pagelaran seni atau fashion show yang bertema batik, bisa dipastikan matanya yang tajam langsung dapat mengenali keberadaan batik printing di acara tersebut. Dan Sabine pun tak merasa sungkan untuk menyebut atau menunjuk kalau batik yang mungkin anda kenakan terbuat dari printing.
"Batik Printing tidak bagus, itu produk industri bukan karya tangan asli orang Indonesia seperti batik tulis dan batik cap," ujar Sabine Bolk berprinsip.
Menurut Sabine, seni dan budaya orang Indonesia itu luar biasa, berkali-kali Sabine menyebut orang Indonesia itu sangat beruntung di beri anugrah Tuhan dengan luar biasa.
"Kalian sangat beruntung memiliki semuanya. Jangan sampai orang lain yang peduli, tapi kamulah yang harus peduli. Itu seni dan budaya kamu, jadi semua milik kamu," kata Sabine menghujam gendang telingan penulis.
Sampai beberapa saat, penulis terdiam seperti kehabisan bahan obrolan.
Untuk mengisi kebekuan penulis meminta ijin menawarkan diri untuk menuliskan secuil dari kisahnya yang menarik dalam sebuah postingan berita dan membuatkan sebuah vidio berita tv.

Seperti sebuah kejutan baginya, Sabine Bolk pun antusias. Bahkan menyiapkan sebuah janji, menyelesaikan partisipasinya di Pekan Batik Nusantara dengan membuat seni instalasi batik dari bahan organik seperti beras, biji-bijian dan serpihan kulit kayu sebagai medianya.

Share this

Related Posts