-->

Lahan Terdampak Rob Disulap Jadi Sawah, Padi Biosalin Mulai Panen di Batang

imajinasi
Tuesday, August 11, 2026, August 11, 2026 WIB Last Updated 2026-08-11T02:11:50Z


Pekalongannews, BatangLahan pertanian yang sebelumnya sulit dimanfaatkan akibat terjangan air pasang laut atau rob mulai menunjukkan harapan baru. Di Desa Depok, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, tanah pesisir berkadar garam tinggi berhasil dimanfaatkan untuk budidaya padi biosalin yang kini memasuki masa panen.

Panen perdana tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Batang melalui Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) dalam mengoptimalkan lahan marginal sekaligus menjaga produktivitas pertanian di kawasan pesisir.

Hamparan sawah seluas sekitar dua hektare dikelola oleh tiga petani. Tanaman padi biosalin tersebut dikembangkan dengan pendampingan petugas pertanian untuk menghadapi kondisi lahan yang memiliki tingkat salinitas tinggi dan keterbatasan air tawar.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispaperta Batang, Rini Diana Anggiani, mengatakan budidaya padi tahan salinitas menjadi salah satu solusi untuk mengembalikan fungsi lahan yang terdampak rob.

“Ini merupakan program pendampingan dari Dispaperta Batang untuk memanfaatkan lahan rob melalui penanaman padi salin. Alhamdulillah hasilnya cukup bagus dan sesuai dengan harapan,” ujarnya saat ditemui di Desa Depok, Senin (10/8/2026).

Tanaman yang secara ideal dipanen pada usia sekitar 82 hari terpaksa dipanen lebih awal, yakni pada usia 76 hari setelah tanam. Keputusan tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas bulir padi, mengingat ketersediaan air tawar di lokasi semakin terbatas.

Dalam proses budidayanya, petani tetap membutuhkan perlakuan khusus. Pengaturan irigasi, pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman, serta pendampingan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) menjadi bagian penting agar tanaman dapat tumbuh di tengah kondisi tanah yang memiliki kadar garam tinggi.

Berdasarkan hasil sementara, produktivitas padi biosalin di lahan tersebut diproyeksikan mencapai 5 hingga 6 ton per hektare. Bahkan, varietas tersebut memiliki potensi produktivitas hingga 7-8 ton per hektare apabila kondisi budidaya dan ketersediaan air mendukung.

Pengembangan padi tahan salinitas tidak hanya dilakukan di Desa Depok. Program serupa juga mulai dikembangkan di kawasan Kasepuhan melalui kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Perusahaan Gas Negara (PGN).

Bagi petani pesisir, kehadiran varietas tahan asin menjadi angin segar. Rianto, petani asal Desa Ujungnegoro, mengaku sebelumnya tanaman padi konvensional kerap gagal tumbuh akibat tingginya kadar garam pada air dan tanah.

“Dulu karena air asin, pakai bibit biasa sering tidak jadi karena terlalu asin. Kalau pakai bibit ini agak lumayan, bisa tahan. Kalau airnya mendukung, bisa panen bagus,” ungkapnya.

Menurut Rianto, pola perawatan padi biosalin tidak jauh berbeda dengan padi pada umumnya. Perbedaannya lebih banyak terletak pada kemampuan tanaman dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang memiliki kadar garam tinggi.

Ia juga mengaku terbantu dengan pendampingan dan dukungan dari pemerintah daerah selama proses budidaya.

Kendala utama yang masih dihadapi petani adalah ketersediaan air tawar. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan pertanian di kawasan pesisir yang terus menghadapi ancaman rob.

Keberhasilan panen perdana padi biosalin di Desa Depok menjadi bukti bahwa lahan terdampak rob masih memiliki peluang untuk kembali produktif. Pemerintah Kabupaten Batang berharap inovasi tersebut dapat diperluas ke wilayah pesisir lainnya.

Selain memberikan peluang ekonomi bagi petani, pemanfaatan lahan rob melalui padi tahan salinitas juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan daerah dan mendukung terwujudnya swasembada pangan secara berkelanjutan.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI