Pekalongannews, Kota Pekalongan – Antusiasme terhadap lomba membatik dalam rangka Hari Batik Nasional 2026 membludak.
Museum Batik Pekalongan menambah kuota peserta kategori umum menjadi 100 orang dari sebelumnya 50 peserta, setelah pendaftaran dibanjiri peminat, termasuk dari luar Kota Pekalongan.
Lomba yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Batik Nasional tersebut digelar pada 5–8 Oktober 2026 dengan tiga kategori, yakni umum, SMP, dan SMA. Khusus kategori umum, kuota 100 peserta bahkan telah terpenuhi dalam waktu singkat.
“Kalau tahun lalu 50 orang, sekarang kami tambah menjadi 100 orang. Antusiasmenya memang tinggi, bahkan kuota 100 orang sudah penuh,” ujar Humas Museum Batik Pekalongan, Hery Dwi Prasetyo, Kamis (1/10/2026).
Untuk mengantisipasi kepadatan dan menjaga kenyamanan peserta, kategori umum tersebut dibagi dalam dua hari pelaksanaan, masing-masing sebanyak 50 peserta. Peserta tidak hanya berasal dari Kota dan Kabupaten Pekalongan, tetapi juga dari luar daerah, di antaranya Jepara dan Yogyakarta.
Sementara itu, kategori SMP menyediakan kuota 30 peserta dengan peserta dari Kota dan Kabupaten Pekalongan. Adapun kategori SMA tahun ini telah berkembang ke tingkat Provinsi Jawa Tengah, dengan peserta dari berbagai daerah, seperti Brebes, Kendal, Tegal, Surakarta, Blora, Semarang, Sragen, Purwodadi, Wonogiri, Rembang, Pemalang, Batang, dan Kabupaten Pekalongan.
Khusus kategori SMA, peserta terlebih dahulu mengikuti proses seleksi desain. Desain yang dibuat di atas kertas dikirimkan kepada panitia untuk dikurasi dan disesuaikan dengan tema lomba sebelum peserta mengikuti tahapan membatik.
Tingginya minat tersebut dinilai menunjukkan bahwa lomba membatik Museum Batik Pekalongan telah menjadi salah satu kegiatan yang dinantikan masyarakat setiap momentum Hari Batik Nasional. Informasi lomba disampaikan melalui media sosial Museum Batik, sehingga dapat menjangkau peserta dari berbagai daerah.
Selain lomba, peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2026 juga dimeriahkan dengan gratis tiket masuk Museum Batik bagi pengunjung. Museum Batik juga menyiapkan pameran bertema Green Batik sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Museum Batik Pekalongan berharap momentum Hari Batik Nasional semakin mendorong generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan turut melestarikan batik sebagai warisan budaya.
Daya tarik Museum Batik tidak hanya dirasakan peserta lomba, tetapi juga pengunjung. Risma, warga Semarang yang baru pertama kali berkunjung ke Pekalongan, mengaku mendapatkan pengalaman baru saat melihat koleksi batik sekaligus mencoba membuat batik sendiri.
“Batik ternyata banyak banget macamnya. Saya juga menemukan beberapa batik yang mirip dengan punya nenek saya. Tadi saya juga mencoba membuat batik sendiri supaya punya ciri khas saya,” ungkapnya.
Ia mengaku tertarik untuk kembali berkunjung dan mengajak teman-temannya mencoba pengalaman membatik. Menurutnya, Museum Batik memberikan pengalaman yang menarik karena pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi juga dapat mengenal proses membatik secara langsung.
Lomba yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Batik Nasional tersebut digelar pada 5–8 Oktober 2026 dengan tiga kategori, yakni umum, SMP, dan SMA. Khusus kategori umum, kuota 100 peserta bahkan telah terpenuhi dalam waktu singkat.
“Kalau tahun lalu 50 orang, sekarang kami tambah menjadi 100 orang. Antusiasmenya memang tinggi, bahkan kuota 100 orang sudah penuh,” ujar Humas Museum Batik Pekalongan, Hery Dwi Prasetyo, Kamis (1/10/2026).
Untuk mengantisipasi kepadatan dan menjaga kenyamanan peserta, kategori umum tersebut dibagi dalam dua hari pelaksanaan, masing-masing sebanyak 50 peserta. Peserta tidak hanya berasal dari Kota dan Kabupaten Pekalongan, tetapi juga dari luar daerah, di antaranya Jepara dan Yogyakarta.
Sementara itu, kategori SMP menyediakan kuota 30 peserta dengan peserta dari Kota dan Kabupaten Pekalongan. Adapun kategori SMA tahun ini telah berkembang ke tingkat Provinsi Jawa Tengah, dengan peserta dari berbagai daerah, seperti Brebes, Kendal, Tegal, Surakarta, Blora, Semarang, Sragen, Purwodadi, Wonogiri, Rembang, Pemalang, Batang, dan Kabupaten Pekalongan.
Khusus kategori SMA, peserta terlebih dahulu mengikuti proses seleksi desain. Desain yang dibuat di atas kertas dikirimkan kepada panitia untuk dikurasi dan disesuaikan dengan tema lomba sebelum peserta mengikuti tahapan membatik.
Tingginya minat tersebut dinilai menunjukkan bahwa lomba membatik Museum Batik Pekalongan telah menjadi salah satu kegiatan yang dinantikan masyarakat setiap momentum Hari Batik Nasional. Informasi lomba disampaikan melalui media sosial Museum Batik, sehingga dapat menjangkau peserta dari berbagai daerah.
Selain lomba, peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2026 juga dimeriahkan dengan gratis tiket masuk Museum Batik bagi pengunjung. Museum Batik juga menyiapkan pameran bertema Green Batik sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Museum Batik Pekalongan berharap momentum Hari Batik Nasional semakin mendorong generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan turut melestarikan batik sebagai warisan budaya.
Daya tarik Museum Batik tidak hanya dirasakan peserta lomba, tetapi juga pengunjung. Risma, warga Semarang yang baru pertama kali berkunjung ke Pekalongan, mengaku mendapatkan pengalaman baru saat melihat koleksi batik sekaligus mencoba membuat batik sendiri.
“Batik ternyata banyak banget macamnya. Saya juga menemukan beberapa batik yang mirip dengan punya nenek saya. Tadi saya juga mencoba membuat batik sendiri supaya punya ciri khas saya,” ungkapnya.
Ia mengaku tertarik untuk kembali berkunjung dan mengajak teman-temannya mencoba pengalaman membatik. Menurutnya, Museum Batik memberikan pengalaman yang menarik karena pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi juga dapat mengenal proses membatik secara langsung.



No comments:
Post a Comment