-->

Tinggalkan Marketplace atau Bertahan? Ini Risiko dan Peluang yang Harus Diketahui UMKM

Pekalongan News
Monday, June 08, 2026, June 08, 2026 WIB Last Updated 2026-06-08T14:21:32Z
Tinggalkan Marketplace atau Bertahan? Ini Risiko dan Peluang yang Harus Diketahui UMKM
gambar ilustrasi
Pekalongannews - Marketplace selama bertahun-tahun menjadi salah satu pintu utama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menjangkau pasar yang lebih luas. 

Dengan kemudahan membuka toko, promosi yang masif, serta dukungan berbagai program diskon dan gratis ongkir, banyak pelaku usaha berhasil meningkatkan penjualan tanpa harus memiliki toko fisik.

Namun kondisi tersebut mulai berubah. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pelaku UMKM mengeluhkan meningkatnya biaya administrasi, komisi layanan, hingga beban promosi yang harus ditanggung penjual. 

Akibatnya, margin keuntungan yang sebelumnya cukup besar kini semakin menipis.

Fenomena ini memunculkan gerakan di kalangan pelaku usaha yang mulai mempertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap marketplace. 

Sebagian bahkan mulai membangun website toko online sendiri, memanfaatkan media sosial, hingga mengoptimalkan penjualan melalui WhatsApp dan komunitas pelanggan.

Menurut berbagai pelaku usaha digital, marketplace sebenarnya memiliki peran besar dalam mempercepat adopsi belanja online di Indonesia. 

Pada tahap awal, platform-platform tersebut memberikan berbagai insentif seperti diskon besar, cashback, dan subsidi ongkos kirim untuk menarik penjual maupun pembeli.

Seiring bertambahnya jumlah pengguna dan transaksi, model bisnis marketplace pun mulai bergeser menuju profitabilitas. Berbagai biaya layanan yang sebelumnya minim kini mengalami penyesuaian. 

Kondisi inilah yang kemudian memicu keresahan sebagian penjual, terutama UMKM dengan margin keuntungan yang relatif kecil.

Meski demikian, meninggalkan marketplace sepenuhnya bukanlah keputusan yang mudah. Marketplace masih menjadi tempat berkumpulnya jutaan konsumen yang aktif mencari produk setiap hari. 

Selain itu, faktor kepercayaan, kemudahan pembayaran, serta sistem pelacakan pengiriman menjadi alasan mengapa banyak pembeli tetap memilih bertransaksi melalui platform tersebut.

Di sisi lain, membangun toko online mandiri juga memiliki tantangan tersendiri. Pelaku usaha harus mampu mendatangkan trafik secara mandiri, membangun kepercayaan pelanggan, serta mengelola pemasaran digital yang membutuhkan waktu dan biaya tidak sedikit.

Karena itu, sejumlah pengamat bisnis digital menyarankan pendekatan yang lebih seimbang. 

Marketplace dapat tetap digunakan sebagai sarana memperoleh pelanggan baru, sementara website atau kanal penjualan mandiri dikembangkan sebagai aset jangka panjang yang memberikan kontrol lebih besar terhadap data pelanggan dan identitas merek.

Strategi multi-channel ini dinilai lebih realistis dibandingkan meninggalkan marketplace secara total. Dengan memanfaatkan berbagai saluran penjualan secara bersamaan, pelaku UMKM dapat mengurangi risiko ketergantungan pada satu platform sekaligus memperkuat daya saing bisnis mereka di tengah persaingan digital yang semakin ketat.

Bagi UMKM, tantangan saat ini bukan sekadar memilih bertahan atau keluar dari marketplace. 

Yang lebih penting adalah membangun fondasi bisnis yang kuat, memiliki pelanggan loyal, serta menciptakan nilai tambah yang membuat produk tetap diminati di mana pun kanal penjualannya.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI