-->

Gelombang Panas Ekstrem Landa China dan Jepang, Kuil Bersejarah Muncul Kembali Akibat Sungai Surut

Pekalongan News
Monday, July 20, 2026, July 20, 2026 WIB Last Updated 2026-07-20T02:14:46Z
Gelombang Panas Ekstrem Landa China dan Jepang, Kuil Bersejarah Muncul Kembali Akibat Sungai Surut
Gambar Ilustrasi dibuat dengan AI
Pekalongannews, Chongqing - Gelombang panas ekstrem kembali melanda sejumlah wilayah di Asia Timur. China dan Jepang menjadi dua negara yang merasakan dampak signifikan dari kenaikan suhu udara, mulai dari perubahan kondisi alam hingga penyesuaian kebijakan pemerintah demi menjaga kesehatan masyarakat.

Di China, suhu udara di sejumlah wilayah Chongqing dilaporkan menembus angka 40 derajat Celsius. Kondisi tersebut menyebabkan debit Sungai Yangtze menyusut sehingga sebuah bangunan bersejarah yang selama ini terendam air kembali terlihat.

Kuil Sepau Cai, yang berada di kawasan wisata Tiga Ngarai, kini muncul sepenuhnya di permukaan dan menarik perhatian wisatawan.

Kuil bersejarah yang diperkirakan berasal dari era Dinasti Ming itu memiliki pagoda kayu setinggi sekitar 56 meter dengan 12 lantai yang berdiri di atas puluhan pilar penyangga di tebing sungai. Fenomena munculnya kembali kuil tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana cuaca ekstrem mampu mengubah bentang alam dalam waktu singkat.

Tak hanya memengaruhi kondisi lingkungan, suhu tinggi juga mengubah kebiasaan masyarakat. Warga Chongqing kini memiliki cara unik untuk mengatasi panas, yakni bermain mahjong di kolam renang dangkal. Meja permainan sengaja ditempatkan di dalam air sehingga para pemain dapat menikmati kesejukan sambil berkumpul bersama keluarga maupun kerabat.

Aktivitas tersebut semakin populer setelah Badan Meteorologi Chongqing mengeluarkan peringatan siaga merah untuk suhu tinggi, menandakan risiko cuaca panas yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Jepang juga menghadapi tantangan serupa. Pemerintah Metropolitan Tokyo meluncurkan kampanye Tokyo Cool Biz, yang memperbolehkan aparatur sipil negara mengenakan kaus, celana pendek, serta sepatu kasual saat bekerja. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan kenyamanan pegawai sekaligus mengurangi penggunaan pendingin ruangan sehingga konsumsi energi dapat ditekan.

Badan Meteorologi Jepang bahkan telah mengeluarkan peringatan bahaya sengatan panas (heat stroke) pertama tahun ini untuk wilayah metropolitan Tokyo. Warga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan, menjaga kecukupan cairan tubuh, dan menggunakan pendingin ruangan secara bijak karena suhu udara telah melampaui 31 derajat Celsius.

Para ahli menilai gelombang panas yang semakin sering terjadi merupakan salah satu dampak perubahan iklim global. Selain meningkatkan risiko gangguan kesehatan, suhu ekstrem juga dapat memengaruhi sektor pertanian, ketersediaan air, hingga konsumsi energi. Di Jepang, para pakar bahkan mengingatkan bahwa musim panas tahun ini berpotensi menurunkan kualitas hasil panen beras apabila suhu tinggi berlangsung dalam waktu lama.

Fenomena yang terjadi di China dan Jepang menjadi pengingat bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim semakin penting dilakukan. Mulai dari penyesuaian gaya hidup, kebijakan pemerintah, hingga upaya mitigasi lingkungan diperlukan agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan di masa mendatang.


Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI