-->

Rupiah Melemah ke Rp17.500, Harga Elektronik dan Bahan Pokok Terancam Naik

Pekalongan News
Wednesday, May 13, 2026, May 13, 2026 WIB Last Updated 2026-05-13T14:20:47Z
Rupiah Melemah ke Rp17.500, Harga Elektronik dan Bahan Pokok Terancam Naik
gambar ilustrasi
Pekalongannews, Jakarta - Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran di berbagai kalangan. 

Kondisi tersebut dinilai menjadi alarm bagi perekonomian nasional karena dampaknya perlahan mulai dirasakan oleh masyarakat maupun pelaku usaha di dalam negeri.

Pelemahan rupiah sebenarnya sudah terjadi sejak awal tahun. Namun tekanan semakin besar setelah situasi geopolitik dunia memanas, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS.

Tingginya suku bunga di Amerika Serikat membuat investor global lebih memilih menyimpan dana dalam aset berbasis dolar. Akibatnya, arus modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia, mulai keluar dan berpindah ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan surat utang pemerintah Amerika.

Kondisi tersebut diperparah karena Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah kebutuhan strategis, mulai dari energi, bahan baku industri, hingga pangan. Ketika dolar menguat, biaya impor otomatis meningkat dan berdampak pada kenaikan harga barang di pasar domestik.

Beberapa sektor yang mulai merasakan dampak pelemahan rupiah di antaranya elektronik, kosmetik, fashion, hingga properti. Para pedagang mengaku harga barang elektronik mulai naik sekitar lima persen akibat tingginya biaya impor. Di sisi lain, daya beli masyarakat juga belum sepenuhnya pulih sehingga omzet penjualan ikut menurun.

Tak hanya itu, bahan pangan berbasis impor seperti kedelai dan gandum juga diperkirakan akan terdampak. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dalam beberapa waktu ke depan.

Meski demikian, para narasumber menilai situasi saat ini masih berbeda dengan krisis moneter 1998. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif terjaga, mulai dari inflasi yang masih terkendali, cadangan devisa yang cukup besar, hingga kondisi perbankan yang lebih kuat dibanding masa lalu.

Pemerintah dan Bank Indonesia juga disebut telah melakukan berbagai langkah untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Mulai dari intervensi pasar valuta asing, pembatasan pembelian dolar, hingga upaya stabilisasi pasar surat utang negara.

Namun demikian, pemerintah diminta tidak hanya menenangkan pasar dengan pernyataan bahwa kondisi masih aman. Langkah konkret dinilai tetap diperlukan agar kepercayaan investor dan masyarakat tetap terjaga.

Stabilitas rupiah menjadi sangat penting karena dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor, mulai dari inflasi, daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi, hingga potensi meningkatnya PHK apabila tekanan ekonomi terus berlanjut.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI