![]() |
| gambar ilustrasi |
Saat harga kebutuhan pokok naik, nilai tukar rupiah melemah, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai muncul di sejumlah sektor, masyarakat justru masih terlihat aktif nongkrong di coffee shop, membeli skincare, hingga melakukan staycation.
Fenomena ini dikenal dengan istilah lipstick effect. Istilah tersebut menggambarkan perilaku masyarakat yang cenderung menahan pembelian besar saat ekonomi sulit, tetapi tetap mencari hiburan kecil atau bentuk self reward agar tetap merasa nyaman secara psikologis.
Istilah lipstick effect pertama kali populer di Amerika Serikat pasca tragedi 11 September 2001.
Fenomena ini dikenal dengan istilah lipstick effect. Istilah tersebut menggambarkan perilaku masyarakat yang cenderung menahan pembelian besar saat ekonomi sulit, tetapi tetap mencari hiburan kecil atau bentuk self reward agar tetap merasa nyaman secara psikologis.
Istilah lipstick effect pertama kali populer di Amerika Serikat pasca tragedi 11 September 2001.
Saat itu penjualan barang-barang mahal mengalami penurunan, namun produk kosmetik seperti lipstik justru mengalami peningkatan penjualan. Kondisi serupa kini dinilai mulai tampak di Indonesia.
Di media sosial, banyak masyarakat mengeluhkan biaya hidup yang semakin tinggi. Namun di sisi lain, pusat perbelanjaan modern, restoran, hingga coffee shop tetap dipadati pengunjung, terutama pada akhir pekan.
Pengamat menilai kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan daya beli masyarakat masih kuat. Keramaian mall dan tempat nongkrong bisa saja menjadi bentuk pelarian dari tekanan hidup dan stres ekonomi yang sedang dirasakan masyarakat perkotaan.
Banyak orang kini memilih mengurangi pengeluaran besar seperti membeli kendaraan baru atau liburan ke luar negeri. Sebagai gantinya, mereka tetap menyisihkan anggaran untuk hiburan yang dianggap lebih terjangkau, seperti membeli kopi premium, makan di restoran, atau staycation dalam kota.
Namun di balik gaya hidup tersebut, muncul kekhawatiran baru. Sebagian masyarakat mulai mengandalkan layanan paylater, kartu kredit, bahkan mengurangi tabungan demi mempertahankan pola konsumsi dan gaya hidup sehari-hari.
Kondisi ini dinilai berisiko apabila berlangsung dalam jangka panjang. Secara kasat mata ekonomi terlihat normal karena aktivitas konsumsi tetap berjalan, tetapi kondisi finansial masyarakat sebenarnya bisa saja mulai rapuh.
Kelompok kelas menengah disebut menjadi pihak yang paling merasakan tekanan. Selain menghadapi kenaikan harga kebutuhan hidup, mereka juga dibebani cicilan, biaya pendidikan, serta kebutuhan keluarga yang terus meningkat.
Karena itu, masyarakat diimbau lebih bijak dalam mengatur keuangan.
Di media sosial, banyak masyarakat mengeluhkan biaya hidup yang semakin tinggi. Namun di sisi lain, pusat perbelanjaan modern, restoran, hingga coffee shop tetap dipadati pengunjung, terutama pada akhir pekan.
Pengamat menilai kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan daya beli masyarakat masih kuat. Keramaian mall dan tempat nongkrong bisa saja menjadi bentuk pelarian dari tekanan hidup dan stres ekonomi yang sedang dirasakan masyarakat perkotaan.
Banyak orang kini memilih mengurangi pengeluaran besar seperti membeli kendaraan baru atau liburan ke luar negeri. Sebagai gantinya, mereka tetap menyisihkan anggaran untuk hiburan yang dianggap lebih terjangkau, seperti membeli kopi premium, makan di restoran, atau staycation dalam kota.
Namun di balik gaya hidup tersebut, muncul kekhawatiran baru. Sebagian masyarakat mulai mengandalkan layanan paylater, kartu kredit, bahkan mengurangi tabungan demi mempertahankan pola konsumsi dan gaya hidup sehari-hari.
Kondisi ini dinilai berisiko apabila berlangsung dalam jangka panjang. Secara kasat mata ekonomi terlihat normal karena aktivitas konsumsi tetap berjalan, tetapi kondisi finansial masyarakat sebenarnya bisa saja mulai rapuh.
Kelompok kelas menengah disebut menjadi pihak yang paling merasakan tekanan. Selain menghadapi kenaikan harga kebutuhan hidup, mereka juga dibebani cicilan, biaya pendidikan, serta kebutuhan keluarga yang terus meningkat.
Karena itu, masyarakat diimbau lebih bijak dalam mengatur keuangan.
Mulai dari mencatat pengeluaran kecil, mengurangi utang konsumtif, memperkuat dana darurat, hingga membedakan kebutuhan dan keinginan agar kondisi finansial tetap aman di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.



No comments:
Post a Comment