0 Comment
pekalongan-news.com
Pengurus BPC ASEPHI Pekalongan menunjukan hologram yang akan disematkan dalam produk batik asli
Kota Pekalongan
Badan Pengurus Cabang (BPC) Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) Pekalongan kembali melaunching stiker hologram versi terbaru untuk kebutuhan perlindungan produk batik asli dari pemalsuan. 

Ketua BPC ASEPHI Pekalongan, Romi Oktabirawa mengatakan, tujuan dirinya kembali meluncurkan teknologi hologram terbaru tak lain hanyalah sebuah upaya untuk melindungi karya pengrajin atau produsen batik asli dari produk palsu yang banyak diaku sebagai batik asli.
"Hologram tersebut yang akan membantu membedakan mana batik yang asli dan mana yang palsu, sehingga konsumen atau pembeli batik yang asli tidak merasa dirugikan," ungkap Romi, Sabtu (4/3/17) disela kegiatan.
Romi pun menjelaskan, teknologi stiker hologram versi terbaru berbeda dengan hologram lama yang beberapa waktu lalu diluncurkan. Dalam stiker hologram yang baru, kata Romi, dibekali dengan teknologi yang sama dengan keamanan mata uang rupiah.
"Jadi tidak mudah dipalsu karena memiliki tingkat keamanan yang tinggi," ucapnya.
Selain itu, teknologi hologram yang baru, lanjut Romi, dilengkapi dengan teknologi pindai layaknya barcode dan memuat beberapa informasi penting didalamnya.

Kedepan, imbuhnya, informasi yang ada didalam stiker hologram tersebut akan bisa terbaca oleh smart phone melalui aplikasi khusus dengan cara menscanya.
"Saya tidak bisa buka semuanya, namun yang jelas salah satu informasi yang termuat misalnya akan diketahui dari mana asal produk batik tersebut dan siapa yang membuatnya," beber Romi.
Informasi-informasi itulah, ungkap Romi, bisa terlacak dan tidak akan bisa tertukar satu sama lainya karena akan mudah terbaca melalui angka nomerik yang ada.

Dalam kesempatan tersebut, Romi mengaku bekerjasama dengan Indonesia Fashion Chamber (IFC) untuk secara bersama melindungi batik dari kepunahan.

Romi menuturkan, Unesco memberikan penghargaan batik warisan kekayaan dunia bukan pada motif atau designya, namun prosesnya, karena batik merupakan aktualisasi dari olah rasa penciptanya atau kata lain visualisasi sepiritual dari pembuatnya.
"Mendesaign batik sekarang tidak seperti jaman dahulu yang banyak melibatkan laku sepiritual seperti tirakat, puasa dan lain sebagainya," jelas Romi.
Sekarang penggunaan teknologi untuk mendesaign batik, kata Romi, sudah sangat mudah dan cepat sehingga batik bisa dibuat rekayasa dan rentan dipalsu.

Romi juga mengingatkan, bahwasanya batik yang asli itu meliputi, batik tulis, cap dan kombinasinya, sehingga beberapa nama batik atau jenis betik sarat makna dan banyak mengandung filosofi tinggi.
"Batik seperti harapan penciptanya tentunya dibuat dengan doa untuk sebuah karya batik dari berbagai jenis," terang Romi.
Seperti halnya batik Trumtum yang identik dipakai pengantin misalanya, penciptanya sangat berharap pengantin yang memakai batik tersebut akan langgeng dalam mengarungi kehidupan.
"Begitu juga dengan batik Parang Rusak yang bermakna kebesaran. Tentu ada harapan tertentu dari sekedar sebuah nama batik, karena konon batik ini diciptakan oleh Sultan Agung," papar Romi.
Adanya hologram batik ini, tutur Romi, akan dapat menciptakan added value dan menjadi bagian dari standarisasi terbaru dari sebuah produk dari batik asli.
"Ini sudah disetujui oleh BPP ASEPHI, kita akan mengaplikasikanya tidak hanya batik asal Pekalongan namun juga yang berasal dari seluruh pelosok nusantara," tandasnya.

Post a Comment Blogger

 
Top