Pekalongannews, Kota Pekalongan – Kota Pekalongan – Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) bidang Tata Busana yang diperuntukkan bagi anak putus sekolah, memberikan pengalaman dan manfaat nyata bagi para pesertanya.
Salah satunya dirasakan oleh Danies Maifa (19), warga Kelurahan Kandang Panjang, Kota Pekalongan, yang untuk pertama kalinya mengikuti pelatihan kewirausahaan melalui program tersebut.
Danies mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam PKW menjadi pengalaman yang sangat berkesan.
Danies mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam PKW menjadi pengalaman yang sangat berkesan.
Menurutnya, pelatihan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan baru yang sebelumnya belum pernah ia miliki.
“Ini pertama kali saya ikut pelatihan PKW. Kesan saya sangat seru karena mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang lebih. Awalnya saya benar-benar dari nol, tidak tahu apa-apa dan belum pernah memegang mesin jahit sama sekali,” ungkapnya saat ditemui di LKP Nisfisano belum lama ini.
Makin Tahu Indonesia Melalui pelatihan yang berlangsung selama 250 jam, dirinya mengaku mengalami banyak perkembangan, mulai dari pengenalan dasar menjahit hingga mampu menghasilkan berbagai produk busana secara mandiri.
“Dalam waktu 250 jam pelatihan, saya mendapatkan pengalaman yang banyak sekali sampai akhirnya bisa membuat produk sendiri,” tambahnya.
Selama mengikuti pelatihan, Danies bersama peserta lainnya dibekali keterampilan tata busana secara bertahap. Berbagai produk yang berhasil dibuat antara lain daster, outer, kebaya, kutu baru, rok, celana panjang, tas, dan produk fesyen lainnya.
Ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pelatihan adalah pada tahap perhitungan pola busana, karena setiap orang memiliki ukuran tubuh yang berbeda.
“Yang paling sulit itu saat menghitung pola. Kalau ukurannya kebesaran hasilnya tidak bagus, kalau kekecilan juga tidak bagus. Jadi harus benar-benar jeli dan teliti dalam menghitung," ungkapnya.
Tidak hanya keterampilan teknis menjahit, Danies juga mendapatkan pembekalan kewirausahaan dan pemasaran. Dengan pendampingan dari LKP, ia kini mampu membuat toko online sendiri, memahami cara menarik pelanggan, serta mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai legalitas usahanya.
"Dengan bantuan dari LKP, saya jadi tahu bagaimana cara membuat toko online sendiri, mengurus NIB sendiri, dan bagaimana menarik customer,” tuturnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kemandirian peserta, setelah pelatihan selesai Danies juga menerima mesin jahit yang dapat digunakan sebagai modal awal untuk memulai usaha.
“Setelah selesai pelatihan, saya mendapatkan mesin jahit. Insyaallah dengan ilmu yang sudah diberikan dan amanah ini, saya ingin mengembangkan pelajaran yang saya dapatkan dan mewujudkan cita-cita menjadi fashion desainer,” tukasnya.
Pengalaman Danies menjadi gambaran nyata bahwa Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri dan harapan baru bagi peserta untuk membangun masa depan yang lebih mandiri melalui dunia wirausaha.
“Ini pertama kali saya ikut pelatihan PKW. Kesan saya sangat seru karena mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang lebih. Awalnya saya benar-benar dari nol, tidak tahu apa-apa dan belum pernah memegang mesin jahit sama sekali,” ungkapnya saat ditemui di LKP Nisfisano belum lama ini.
Makin Tahu Indonesia Melalui pelatihan yang berlangsung selama 250 jam, dirinya mengaku mengalami banyak perkembangan, mulai dari pengenalan dasar menjahit hingga mampu menghasilkan berbagai produk busana secara mandiri.
“Dalam waktu 250 jam pelatihan, saya mendapatkan pengalaman yang banyak sekali sampai akhirnya bisa membuat produk sendiri,” tambahnya.
Selama mengikuti pelatihan, Danies bersama peserta lainnya dibekali keterampilan tata busana secara bertahap. Berbagai produk yang berhasil dibuat antara lain daster, outer, kebaya, kutu baru, rok, celana panjang, tas, dan produk fesyen lainnya.
Ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pelatihan adalah pada tahap perhitungan pola busana, karena setiap orang memiliki ukuran tubuh yang berbeda.
“Yang paling sulit itu saat menghitung pola. Kalau ukurannya kebesaran hasilnya tidak bagus, kalau kekecilan juga tidak bagus. Jadi harus benar-benar jeli dan teliti dalam menghitung," ungkapnya.
Tidak hanya keterampilan teknis menjahit, Danies juga mendapatkan pembekalan kewirausahaan dan pemasaran. Dengan pendampingan dari LKP, ia kini mampu membuat toko online sendiri, memahami cara menarik pelanggan, serta mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai legalitas usahanya.
"Dengan bantuan dari LKP, saya jadi tahu bagaimana cara membuat toko online sendiri, mengurus NIB sendiri, dan bagaimana menarik customer,” tuturnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kemandirian peserta, setelah pelatihan selesai Danies juga menerima mesin jahit yang dapat digunakan sebagai modal awal untuk memulai usaha.
“Setelah selesai pelatihan, saya mendapatkan mesin jahit. Insyaallah dengan ilmu yang sudah diberikan dan amanah ini, saya ingin mengembangkan pelajaran yang saya dapatkan dan mewujudkan cita-cita menjadi fashion desainer,” tukasnya.
Pengalaman Danies menjadi gambaran nyata bahwa Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri dan harapan baru bagi peserta untuk membangun masa depan yang lebih mandiri melalui dunia wirausaha.



No comments:
Post a Comment