-->

Optimisme Publik Indonesia Bertahan di Tengah Risiko Krisis Ekonomi 2026

Pekalongan News
Thursday, January 01, 2026, January 01, 2026 WIB Last Updated 2026-01-01T10:32:30Z
Optimisme Publik Indonesia Bertahan di Tengah Risiko Krisis Ekonomi 2026
gambar ilustrasi
Pekalongannews - Indonesia memasuki 2026 dengan bayang-bayang perlambatan ekonomi global yang masih membebani prospek pertumbuhan. Tekanan dari suku bunga tinggi di negara maju, fragmentasi geopolitik, serta volatilitas harga komoditas menempatkan banyak ekonomi berkembang dalam posisi defensif. Namun, sentimen domestik Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif kuat.

Indikator kepercayaan konsumen tetap berada di zona optimistis, mencerminkan keyakinan rumah tangga bahwa tekanan ekonomi akan bersifat sementara. 

Meski masyarakat mengakui risiko kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan, ekspektasi terhadap stabilitas makro dan keberlanjutan kebijakan pemerintah menjadi penyangga utama sentimen tersebut.

Makin Tahu Indonesia  Fondasi ekonomi Indonesia dinilai lebih solid dibandingkan periode krisis sebelumnya. Rasio utang pemerintah yang terkendali, stabilitas sektor perbankan, serta cadangan devisa yang memadai memberikan ruang kebijakan bagi otoritas fiskal dan moneter. 

Bank Indonesia mempertahankan pendekatan yang berhati-hati, menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar dengan upaya mendukung pertumbuhan.

Di tingkat akar rumput, daya tahan ekonomi tercermin dari adaptasi sektor informal dan UMKM. Pelaku usaha kecil memanfaatkan digitalisasi untuk menekan biaya distribusi dan menjangkau konsumen baru, sementara sektor ekonomi kreatif dan jasa berbasis teknologi tetap mencatat pertumbuhan, meski dengan laju yang lebih moderat.

Belanja rumah tangga, yang menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto, masih menjadi motor utama pertumbuhan. Program perlindungan sosial dan subsidi yang lebih terarah membantu menjaga daya beli, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah. 

Hal ini menjadi faktor penting dalam meredam dampak perlambatan global terhadap konsumsi domestik.

Meski demikian, risiko tetap membayangi. Ketergantungan pada ekspor komoditas membuat Indonesia rentan terhadap penurunan harga global, sementara ketidakpastian geopolitik berpotensi menekan arus modal. 

Para ekonom memperingatkan bahwa tanpa reformasi struktural lanjutan dan penciptaan lapangan kerja yang konsisten, optimisme publik dapat terkikis.

Untuk saat ini, masyarakat Indonesia memilih bersikap pragmatis. Mereka mengakui tekanan ekonomi yang ada, namun tetap menaruh harapan pada kemampuan pemerintah dan bank sentral menjaga stabilitas. 

Di tengah prospek global yang suram, optimisme domestik menjadi salah satu aset paling berharga bagi ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI