0 Comment
Sering Bermain Dan Nongkrong Di Tengah Jalan Depan Perlintasan Kereta Api, Remaja Penderita Down Syndrome Akhirnya Di Evakuasi
Kapolres Pekalongan Kota AKBP Luthfie Sulistiawan bersalaman dengan Mishbahudin, remaja penderita down syndrom yang sedang dalam proses penanganan selanjutnya oleh beberapa stake holder yang peduli dengan keadaan siswa SMPLB tersebut
Kota Pekalongan
Dianggap membahayakan keselamatan pengguna jalan, seorang anak penderita down syndrom atau keterbelakangan mental yang biasa nongkrong di tengah jalan KH Mansyur tepatnya di depan pintu perlintasan kereta api Bendan terpaksa harus dievakuasi Satpol PP, Jum'at malam (22/4/16).

Evakuasi dilakukan setelah sebelumnya berkoordinasi dengan Polres Pekalongan Kota untuk penanganan lebih lanjut serta melibatkan berbagai pihak seperti, Dinas Sosial dan Pemerintah Kota Pekalongan.

Menurut Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Luthfi Sulistiawan, persoalan anak tersebut harus diselesaikan karena menyang kut keselamatan pengguna jalan dan keselamatan jiwa anak itu sendiri dan hal itu menjadi kepedulian kita.
"Ada yang salah dengan penanganan sebelumnya. Satpol PP berkali-kali melakukan evakuasi tapi tak sampai sehari anak tersebut sudah kembali ke tempat semula. Jadi saya gandeng Dinas Sosial dan salah satu pengusaha untuk cari solusinya," Ucap Kapolres didampingi Dinas Sosial dan petugas Satpol PP usai mediasi dengan pihak keluarga.
Sementara Kepala Bidang (Kabid) Sosial Dinas Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), Bambang Zabidi menyampaiakan, pihaknya berencana akan memasukan anak tersebut ke Panti Margo Widodo Semarang untuk diatasi.

"Nanti akan kita asissment, tapi itu tergantung orang tuanya. Boleh atau tidak. Karena ada dua opsi, meneruskan sekolah atau direhabilitasi. Kalau ibunya cenderung memilih direhabilitasi. Kita akan tunggu karena harus seijin bapaknya," ungkap Bambang.
Bambang menjelaskan, penanganan Penyandang Masalah Kesejah teraan Sosial (PMS) tidak dipungut biaya karena di tanggung oleh Kementrian.
"Di Jawa Tengah ada 17 Balai Rehabilitasi. Kita punya satu RSPBM di Kuripan. Tidak menutup kemungkinan dari Polres juga akan kita asissment sejauh mana anak itu. Kenapa kok bisa jadi gelandangan, kenapa jadi orang terlantar dan kenapa jadi anak punk," tuturnya.
Seperti diketahui, Mishbahudin (16 th) putra dari Faritno (48 th) warga Kelurahan Bendan Gang 5, Rt 04 Rw 07, Kecama tan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan terpakasa harus dievakuasi dari tengah jalan padat ramai, karena membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Setiap hari Mishbahudin menghabiskan waktunya dengan bermain di tengah jalan, di depan pintu perlintasan kereta api Bendan Jalan KH Mansyur, kota Pekalongan. Keberadaan Mishbahudin di tengah jalan tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu arus lalu lintas.

Putra penjual tahu campur yang mangkal di depan minimarket Jalan KH mansyur ini tercatat sebagai siswa SMPLB N Wiradesa Kabupaten Pekalongan.

Post a Comment Blogger

 
Top