1 Comment
Peringatan peristiwa pertempuran 3 Oktober antara rakyat Pekalongan melawan tentara Jepang diawali dengan penyajian drama teatrikal yang mencoba menggambarkan kembali peristiwa  hampir 70 tahun yang lalu di markas kompetai yang berada di de pan Monumen Juang yang saat ini berdiri sebagai lokasi upacara.

Saat itu terjadi tengah terjadi perundingan antara wakil dari rakyat Pekalongan dengan pihak tentara pendududakan jepang yang berupaya melakukan penyerahan kekuasaan  setelah rakyat Pekalo ngan mendengar Indonesia sudah merdeka melalui pembcaan merdeka Proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Sukarno dan Hatta di Jakarta.

Kesabaran rakyat Pekalongan habis menyaksikan perundingan berjalan lambat, sekitar pukul 10 pagi dua pemuda Pekalongan Rahayu dan Bismo menerobos masuk ke dalam menemui Mr Besar yang mewakili rakyat dalam perundingan untuk secepatnya menyelasai kan perundingan.

Dengan semangat menggelora dua pemuda, bismo dan Rahayu naik keatas gedung Kompetai markas tentara pendudukan Jepang untuk menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan sang saka merah putih sebagai lambang kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia.

Tindakan berani kedua pemuda Pekalongan disambut oleh tentara pendudukan Jepang dengan tembakan senapan yang memicu amarah rakyat hingga akhirnya pecahlah pertempuran 3 Oktober 1945 di Pekalongan.

Dengan peralatan seadanya rakyat Pekalongan mengadakan perlawanan. Suara rentetan senapan dan dentuman meriam bersanding dengan pekikan 'Allahu Akbar' serta teriakan merdeka penuh semangat terus berkobar dalam pertem puran tersebut.

Akhirnya dengan segala kemampuan dan pengorbanan darah, nyawa serta air mata, rakyat Pekalongan berhasil mengalahkan tentara pendudukan Jepang.

Tercatat korban meninggal di pihak rakyat ada 37 orang dan luka berat yang berakibat cacat ada 12 orang. 3 Oktober 1945 pemuda Rahayu dan Bismo mengantarkan kemerdekaan rakyat Pekalongan dengan darah dan nyawanya.

Usai peragaan teatrikal dengan suara hening mengalun himne lagu syukur yang di tandai menyalanya semua lampu peneranga setelah sebelumnya sempat dimatikan selama peragaan teatrikal.

Pejabat Pelaksana Walikota Pekalongan, Prijo Anggoro yang jadi inspektur upacara mengatakan, 70 tahun yang lalu sejarah Pekalongan telah membuktikan bahwa perlawanan rakyat Pekalongan dalam mengusir tentara pendudukan Jepang telah menghasilkan kemerdekaan dan kemenangan yang dilandasi dengan semangat berkorban dan semangat persatuan.

"Kami bangga dengan rakyat Pekalongan, Kami bangga dengan sejarahnya, kami disini bangga dengan rasa persatuanya. Dengan nafas yang sama dengan latar belakang yang berbeda tapi tetap satu. Satu untuk Pekalongan dan Satu untuk Indonesia," ucap Prijo dalam sambutanya.

Hadir dalam kesempatan upacara peringatan peristiwa pertempuran 3 Oktober 1945 tersebut, Dandim 0710/Pekalongan, Kapolres Pekalongan, Ketua LVRI Pekalongan, Ketua DPRD Kota Pekalongan, Kajari Pekalongan, para veteran dan ahli warisnya serta jajaran SKPD Kota Pekalongan.

Upacara Peringatan tersebut juga menarik animo ribuan masyarakat Kota Pekalongan dan sekitarnya untuk melihat langsung jalannya upacara sekaligus merasakan suasan mencekam seperti yang terjadi 70 tahun yang lalu.

Post a Comment Blogger

  1. Salut dengan pemuda pekalongan yang ingat dengan sejarah perjuangan pahlawanya.Saran Saya kalau bisa monumen perjuangan Pekalongan tetap dirawat.

    ReplyDelete

 
Top