![]() |
| Gambar Ilustrasi dibuat dengan AI |
Praktisi dan aktivis pendidikan, Retno Listiarti, mengatakan ada sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.
“Selain perubahan sistem Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), perubahan demografi dan pola permukiman masyarakat juga menjadi penyebab utama berkurangnya jumlah siswa di sekolah-sekolah, terutama yang berada di kawasan perkotaan,” jelasnya.
Menurutnya, banyak keluarga muda kini memilih tinggal di wilayah pinggiran kota karena tingginya harga hunian.
“Akibatnya, sekolah-sekolah di pusat kota kehilangan calon peserta didik. Di sisi lain, sebagian orang tua juga lebih memilih sekolah swasta atau sekolah berbasis agama yang menawarkan jam belajar lebih panjang dan dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan keluarga,” katanya.
Retno menilai, masyarakat kini tidak lagi hanya mempertimbangkan biaya pendidikan, tetapi juga kualitas layanan, fasilitas, dan program pembelajaran yang ditawarkan sekolah. Karena itu, fenomena sekolah sepi peminat tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan kualitas sekolah negeri.
Sebagai solusi, ia mendukung kebijakan regrouping atau penggabungan sekolah yang kekurangan murid agar penggunaan tenaga pendidik dan anggaran menjadi lebih efisien. Gedung sekolah yang tidak lagi digunakan juga diusulkan untuk dialihfungsikan menjadi SMA atau SMK negeri di daerah yang masih membutuhkan tambahan ruang belajar.
Fenomena ini dinilai menjadi tantangan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menata kembali pemerataan layanan pendidikan.
Perencanaan berbasis data kependudukan, pemerataan kualitas sekolah, serta penyesuaian jumlah satuan pendidikan dinilai menjadi langkah penting agar layanan pendidikan tetap efektif di tengah perubahan demografi yang terus berlangsung.



No comments:
Post a Comment