-->

Krisis Lapangan Kerja di China, Anak Muda Ramai-Ramai Tinggalkan Kota demi Hidup Sederhana

Pekalongan News
Thursday, July 23, 2026, July 23, 2026 WIB Last Updated 2026-07-22T23:38:28Z
Krisis Lapangan Kerja di China, Anak Muda Ramai-Ramai Tinggalkan Kota demi Hidup Sederhana
Gambar Ilustrasi Dibuat dengan AI
Pekalongannews, China - Selama bertahun-tahun, Tiongkok dikenal sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Narasi tentang "Impian Rakyat Cina" mendorong masyarakat untuk bekerja keras demi meraih kehidupan yang lebih sejahtera.

Namun, kondisi itu kini mulai berubah. Perlambatan ekonomi dan meningkatnya persaingan kerja membuat banyak generasi muda mempertanyakan kembali arti kesuksesan.

Potret kehidupan anak muda Tiongkok yang menghadapi tantangan zaman dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian harus menerima kenyataan kehilangan pekerjaan, sementara lainnya memilih meninggalkan kehidupan kota demi mencari ketenangan di pedesaan.

Salah satunya adalah Wanqing, mantan pegawai perusahaan properti yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Di usia 38 tahun, ia kini bekerja sebagai kurir makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup sambil terus berusaha mencari peluang karier baru.

Penghasilannya yang terbatas membuatnya masih bergantung pada bantuan orang tua, tetapi ia tidak menyerah dan mulai mempersiapkan diri mengikuti ujian lisensi agen asuransi.

Di sisi lain, ada Fang Jintao, pemuda berusia 23 tahun yang memilih jalur kewirausahaan. Setelah mengalami kegagalan bisnis, ia kembali bangkit dengan berjualan makanan kaki lima bersama keluarganya.

Seluruh tabungan keluarga bahkan diinvestasikan untuk membuka sebuah restoran dengan harapan memperoleh penghasilan yang lebih stabil di masa depan.

Tak semua anak muda Tiongkok masih terpikat kehidupan kota. A Diao justru memutuskan kembali ke desa kelahirannya.

Melalui media sosial, ia membagikan kehidupan sederhana di pedesaan kepada ratusan ribu pengikutnya. Baginya, alam, kebebasan, dan kehidupan yang lebih tenang jauh lebih berharga dibanding tekanan pekerjaan di kota besar.

Fenomena serupa juga terlihat pada dua perempuan muda yang membuka usaha bakeri dan penginapan di desa terpencil.

Mereka meninggalkan pekerjaan di sektor perhotelan karena merasa lelah dengan ritme kerja yang nyaris tanpa batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Kini mereka menikmati biaya hidup yang lebih rendah sekaligus mengembangkan potensi wisata desa.

Di tengah perubahan tersebut, muncul pula fenomena "Tang Ping" atau "rebahan", yaitu gaya hidup yang menolak persaingan kerja berlebihan. Banyak anak muda lebih memilih keseimbangan hidup, kesehatan mental, serta kebebasan untuk mengejar minat pribadi dibanding mengejar jabatan atau pendapatan tinggi.

Meski demikian tidak semua generasi muda mengalami kesulitan. Sejumlah pengusaha muda tetap mampu membangun perusahaan teknologi, termasuk di bidang kecerdasan buatan (AI), dan menikmati kehidupan yang serba berkecukupan. Hal ini memperlihatkan bahwa kesenjangan pengalaman hidup di kalangan generasi muda Tiongkok semakin nyata.

Pada akhirnya, impian generasi muda Tiongkok kini menjadi jauh lebih beragam. Jika dahulu kesuksesan identik dengan kekayaan dan karier, kini banyak yang mendefinisikannya sebagai kebebasan memilih jalan hidup, memiliki waktu untuk diri sendiri, serta menjalani pekerjaan yang memberi makna. Perubahan cara pandang inilah yang menjadi wajah baru generasi muda di negeri Tirai Bambu.

Sumber : DW dokumenter
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI