-->

Di Tengah Gempuran Gadget, Anak-anak Mulai Gandrungi Handy Talky

Pekalongan News
Monday, May 18, 2026, May 18, 2026 WIB Last Updated 2026-05-18T14:30:25Z
Di Tengah Gempuran Gadget, Anak-anak Mulai Gandrungi Handy Talky
Pekalongannews Di tengah gempuran gadget modern dan media sosial, handy talky (HT) ternyata masih punya tempat di hati generasi muda. Bahkan, anak-anak generasi alpha kini mulai piawai memainkan perangkat komunikasi radio amatir tersebut.

Pemandangan menarik itu terlihat dalam acara Gathering Net Control Station (NCS) yang digelar Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Lokal Batang di halaman Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Batang, Sabtu (16/5/2026).

Di antara para operator radio senior, muncul sosok peserta termuda yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Bocah itu bahkan tampil sebagai peserta nomor urut pertama dalam kompetisi operator radio amatir tersebut.

Ketua ORARI Lokal Batang, Edhy Sulisdiyanto, mengaku bangga melihat antusiasme generasi muda yang mulai tertarik dengan dunia radio amatir.

“Peserta nomor satu tadi masih kelas 6 SD. Generasi muda sekali, masih sangat belia,” ujar Edhy.

Peserta muda itu diketahui memiliki call sign Yankee Delta Two Alpha Echo Mike (YD2AEM) dan akrab disapa Mas Bara. Ia datang dari Pemalang untuk mengikuti gathering bersama para operator radio dari berbagai daerah.

Meski usianya masih muda, kemampuan Bara dalam mengendalikan frekuensi radio dinilai sudah cukup matang. Edhy menyebut bocah generasi alpha tersebut telah memenuhi syarat sebagai operator radio amatir.

“Sudah cukup oke. Bagi kami sudah memenuhi syarat untuk menjadi operator kegiatan amatir radio,” katanya.

Ajang Gathering NCS ini diikuti peserta dari Call Area 2, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Jawa Tengah. 

Dalam lomba tersebut, para peserta diuji kemampuan komunikasi radionya, mulai dari jumlah QSO atau kontak radio yang berhasil dilakukan, validitas data, tata bahasa, hingga teknik penyampaian saat mengudara.

Menurut Edhy, anggapan bahwa radio amatir merupakan teknologi usang justru tidak terbukti. Saat ini, banyak anak muda usia SMP hingga SMA mulai tertarik menggunakan HT karena mulai jenuh dengan ponsel pintar.

Selain menjadi hobi, radio amatir juga memiliki fungsi penting dalam kondisi darurat. Saat jaringan seluler dan listrik lumpuh akibat bencana, komunikasi radio masih bisa diandalkan.

“ORARI ini kayaknya tidak akan mati karena menjadi cadangan komunikasi emergency nasional. Ketika ada bencana, seluler mati, listrik mati, hanya komunikasi radio yang masih bisa digunakan,” tegasnya.

Kegiatan gathering yang berlangsung selama dua hari itu tidak hanya berisi perlombaan operator radio. Pada hari kedua, peserta mengikuti kegiatan Eyeball QSO, yakni tradisi pertemuan tatap muka antaranggota radio amatir yang sebelumnya hanya saling berkomunikasi lewat frekuensi udara.

Dalam kegiatan tersebut, peserta saling berburu tanda tangan untuk mengumpulkan poin. Semakin tinggi jabatan anggota yang ditemui, semakin besar poin yang didapat.

“Biasanya hanya ketemu di frekuensi dan tidak tahu orangnya yang mana. Kalau Eyeball QSO ini bisa langsung ketemu dan saling ngobrol,” ujar Edhy.

Lewat kegiatan ini, ORARI menunjukkan bahwa komunikasi radio amatir masih tetap eksis dan terus diwariskan dari generasi senior kepada generasi muda.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI