-->

Dari Vietnam ke Filipina: Krisis Energi Mengguncang Asia Tenggara

Pekalongan News
Saturday, March 28, 2026, March 28, 2026 WIB Last Updated 2026-03-28T11:01:32Z
Dari Vietnam ke Filipina: Krisis Energi Mengguncang Asia Tenggara
Gambar Ilustrasi Dibuat dengan AI
Pekalongannews - Dampak konflik di Timur Tengah mulai terasa hingga kawasan Asia. Sejumlah negara seperti Vietnam, Filipina, dan Bangladesh kini menghadapi krisis energi, khususnya bahan bakar pesawat (avtur), yang berimbas langsung pada sektor transportasi dan ekonomi.

Vietnam menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Maskapai nasional mereka terpaksa mengurangi hingga 23 penerbangan setiap pekan dan menutup sejumlah rute domestik. Langkah ini diambil setelah pasokan avtur tersendat, menyusul penghentian ekspor dari China dan Thailand.

Situasi makin rumit karena Vietnam selama ini sangat bergantung pada impor. Sekitar 70% kebutuhan avtur negara tersebut berasal dari luar negeri. Upaya mencari alternatif pasokan pun menemui jalan buntu, termasuk dari Singapura yang juga mengalami keterbatasan suplai.

Tak hanya Vietnam, Filipina juga berada dalam tekanan berat. Pemerintah setempat bahkan telah menetapkan status darurat energi nasional. Cadangan bahan bakar mereka disebut hanya cukup untuk sekitar 45 hari ke depan.

Skenario terburuk pun disiapkan, termasuk kemungkinan penghentian operasional penerbangan jika pasokan tak kunjung stabil. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan, mengingat sektor penerbangan menyumbang sekitar 4,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Filipina dan menyerap hampir 2 juta tenaga kerja.

Sementara itu, Bangladesh menghadapi lonjakan harga avtur hingga lebih dari 80%. Pemerintah setempat bahkan mulai mengambil langkah penghematan energi, termasuk membatasi aktivitas pendidikan dan operasional tertentu demi menekan konsumsi bahan bakar.

Akar dari krisis ini tak lepas dari terganggunya distribusi minyak global, terutama dari kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia menyuplai sekitar 80% kebutuhan energi ke Asia. Ketika pasokan terganggu, efek domino langsung terasa di berbagai negara.

Kondisi diperparah dengan kebijakan pengurangan ekspor minyak oleh produsen utama seperti Arab Saudi. Penurunan suplai ini membuat harga avtur global melonjak lebih dari 100% dalam waktu singkat. Dampaknya, harga tiket pesawat di sejumlah negara ikut meroket hingga tiga kali lipat.

Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Pemerintah memastikan kondisi dalam negeri masih relatif aman. Cadangan avtur nasional saat ini berada di kisaran 33 hari, di atas ambang batas aman 26 hari. Selain itu, ketergantungan impor Indonesia juga lebih rendah dibanding negara lain, yakni sekitar 40%.

Indonesia juga mulai melakukan diversifikasi pasokan energi, termasuk membuka peluang impor dari Amerika Serikat. Di sisi lain, produksi dalam negeri masih menjadi penopang utama kebutuhan bahan bakar.

Meski demikian, para pengamat mengingatkan agar Indonesia tidak lengah. Pasalnya, rantai pasok energi global saling terhubung. Gangguan di satu wilayah tetap bisa berdampak ke negara lain, termasuk Indonesia.

Krisis ini menjadi pengingat pentingnya kemandirian energi. Jika tidak diantisipasi sejak dini, bukan tak mungkin tekanan serupa akan menghantam Indonesia di masa mendatang.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI