-->

Ancaman Penutupan Selat Hormuz: Dampaknya Bisa Menjalar ke Pasokan Pupuk dan Ketahanan Pangan Global

Pekalongan News
Tuesday, March 10, 2026, March 10, 2026 WIB Last Updated 2026-03-11T13:58:28Z
Ancaman Penutupan Selat Hormuz: Dampaknya Bisa Menjalar ke Pasokan Pupuk dan Ketahanan Pangan Global
Gambar Ilustrasi Dibuat Dengan AI
Pekalongannews - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran global. Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah potensi penutupan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi penghubung utama perdagangan energi dunia. 

Selain berdampak pada sektor energi, gangguan di jalur ini juga berpotensi memengaruhi pasokan pupuk global yang menjadi komponen penting bagi sektor pertanian.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati selat yang berada di antara Iran dan Oman tersebut. 

Negara-negara produsen energi besar di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengandalkan jalur ini untuk mengirimkan minyak, gas alam cair (LNG), serta berbagai komoditas industri ke pasar internasional.

Namun dampaknya tidak hanya terbatas pada energi. Kawasan Teluk juga dikenal sebagai salah satu pusat produksi pupuk kimia dunia, terutama pupuk berbasis nitrogen seperti urea dan amonia. 

Produksi pupuk jenis ini sangat bergantung pada gas alam sebagai bahan baku utama. Jika distribusi gas atau energi terganggu akibat konflik atau blokade jalur pelayaran, maka biaya produksi pupuk akan ikut meningkat.

Sejumlah negara di Timur Tengah seperti Qatar, Arab Saudi, dan Iran termasuk produsen dan eksportir besar pupuk nitrogen di dunia. Gangguan distribusi di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga pupuk global, yang pada akhirnya berdampak pada biaya produksi sektor pertanian di banyak negara.

Indonesia juga tidak sepenuhnya terlepas dari dampak tersebut. Meski memiliki kapasitas produksi pupuk domestik yang cukup besar melalui industri nasional, kebutuhan pupuk pertanian masih ditopang oleh impor sejumlah bahan baku.

Salah satu komponen penting dalam pupuk majemuk NPK adalah kalium (potasium), yang sebagian besar masih harus diimpor dari luar negeri karena keterbatasan sumber daya alam di dalam negeri.

Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengantisipasi potensi gangguan tersebut. 

Makin Tahu Indonesia Dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp46 triliun untuk subsidi pupuk bagi petani. 

Anggaran ini ditujukan untuk menyalurkan sekitar 9,5 juta ton pupuk subsidi guna menjaga stabilitas produksi pertanian nasional.

Langkah lain yang dinilai penting adalah diversifikasi sumber impor pupuk. Selama ini Indonesia memperoleh pasokan pupuk dari sejumlah negara seperti Tiongkok, Rusia, Kanada, serta beberapa negara Timur Tengah. Dengan sumber impor yang beragam, risiko ketergantungan terhadap satu wilayah dapat diminimalkan.

Pengalaman krisis global sebelumnya menunjukkan bahwa konflik geopolitik sering kali memicu dampak berantai terhadap sektor pangan. Lonjakan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi pupuk, yang kemudian memicu kenaikan harga pangan di tingkat global.

Karena itu, penguatan ketahanan pangan nasional menjadi langkah strategis yang terus didorong pemerintah. Selain menjaga pasokan pupuk dan meningkatkan produksi pertanian domestik, kebijakan ini juga bertujuan memastikan stabilitas harga pangan serta melindungi kesejahteraan petani di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI