Pekalongannews, Batang — Siang itu, jalanan Kecamatan Bawang berubah menjadi lautan manusia.
Ratusan warga berkumpul di sekitar Masjid Baitul Muttaqin Bawang, bukan untuk sekadar melihat, tetapi untuk mengantar doa.
Tangis pecah di antara pelukan.
Ada yang menggenggam tangan orang tua lebih lama dari biasanya.
Ada pula yang hanya bisa menatap sambil menahan haru.
Bagi para jemaah, ini bukan perjalanan biasa.
Ini adalah mimpi yang dipeluk bertahun-tahun lamanya.
Kusriyah (66) termasuk yang akhirnya bisa tersenyum setelah penantian panjang.
Delapan tahun ia menunggu, hingga akhirnya namanya dipanggil.
“Sudah lama sekali. Yang penting saya sehat dan selamat,” ucapnya lirih.
Di sudut lain, Imroatun Saadah menyimpan cerita yang lebih panjang.
Empat belas tahun ia menunggu.
Kini, ia berangkat bersama suami dan ibunya, meninggalkan anaknya di rumah.
“Saya ingin ibadahnya diterima dan bisa jadi lebih baik,” katanya.
Di balik haru itu, ada kerja panjang yang tak terlihat.
Ketua KBIHU Al Madinah, Nafiul Athfal, memastikan para jemaah telah dibekali ilmu dan kesiapan.
“Manasik sudah 12 kali, praktik juga sudah. Insyaallah siap,” ujarnya.
Sebanyak 73 jemaah tahun ini tergabung dalam kloter 15 dan akan menuju Asrama Haji Donohudan sebelum terbang ke Tanah Suci.
Namun yang membuat Bawang berbeda bukan hanya jumlah jemaahnya.
Melainkan cara masyarakatnya merayakan keberangkatan itu.
Di sini, haji bukan hanya urusan pribadi.
Ini adalah peristiwa desa.
“Bahkan satu desa bisa kosong, semua ikut mengantar ke Solo,” kata Gus Nafi.
Ada yang rela menginap, ada yang sekadar ikut mengantar sampai batas kota.
Semua dilakukan dengan satu tujuan: mengiringi doa.
Tradisi ini terus hidup dari tahun ke tahun.
Mengikat warga dalam satu rasa yang sama—harapan.
Di tengah riuhnya pelukan dan doa, satu kalimat tak pernah berubah.
Semoga berangkat dengan selamat.
Dan pulang sebagai haji yang mabrur.


No comments:
Post a Comment