-->

Kematian ART 15 Tahun Asal Batang Disorot Rizal Bawazier, Polisi Diminta Bongkar Dugaan Tekanan Majikan

Pekalongan News
Saturday, April 25, 2026, April 25, 2026 WIB Last Updated 2026-04-25T14:10:40Z
Kematian ART 15 Tahun Asal Batang Disorot Rizal Bawazier, Polisi Diminta Bongkar Dugaan Tekanan Majikan
Pekalongannews, Jakarta - Anggota DPR RI untuk Dapil Batang, Pekalongan, Pemalang, Rizal Bawazier mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus tewasnya seorang asisten rumah tangga (ART) asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang diduga melompat dari lantai empat sebuah rumah kos di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta.

Permintaan tersebut ditujukan kepada Polda Metro Jaya agar penanganan perkara dilakukan secara transparan dan menyeluruh, termasuk mengungkap kemungkinan adanya unsur tekanan atau kekerasan yang dialami korban sebelum kejadian.

“Logikanya, jika seseorang sampai memilih melompat dengan mengetahui risikonya, berarti ada tekanan yang luar biasa,” kata Rizal, Sabtu (25/4/2026).

Ia menilai, dugaan tekanan psikologis terhadap korban perlu didalami secara serius oleh penyidik. Terlebih, dalam peristiwa tersebut terdapat dua ART yang diduga terlibat dalam insiden serupa, sehingga memunculkan indikasi adanya kondisi yang tidak wajar di lingkungan tempat tinggal maupun kerja korban.

Rizal Bawazier menegaskan, siapa pun yang terlibat dan terbukti melakukan pelanggaran hukum harus diproses tanpa pandang bulu.

“Siapapun tokoh atau pihak yang terlibat, jika ditemukan unsur pidana yang menyebabkan korban nekat melompat hingga meninggal dunia, harus diproses secara adil,” ujarnya.

Selain mendorong penegakan hukum, Rizal juga menyoroti pentingnya peran pemerintah daerah dalam memberikan edukasi ketenagakerjaan kepada masyarakat, khususnya di daerah asal korban, yaitu Kabupaten Batang.

Menurut dia, edukasi terkait risiko kerja di luar daerah, termasuk perlindungan tenaga kerja, perlu diperkuat hingga ke tingkat desa.

“Pemerintah daerah melalui camat, kepala desa, hingga RT harus aktif memberikan sosialisasi. Jangan sampai warga, terutama yang masih di bawah umur, bekerja jauh tanpa perlindungan yang memadai,” kata dia.

Ia juga mengaitkan peristiwa ini dengan kondisi ekonomi masyarakat yang masih terbatas, sehingga mendorong sebagian warga untuk merantau ke kota besar demi mencari penghidupan.

“Kalau di daerah tersedia lapangan kerja yang cukup, tentu warga tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta. Ini menjadi tanggung jawab bersama, termasuk pemerintah daerah,” ujarnya.

Korban dalam peristiwa ini diketahui bernama Diva Maelisa (15), warga Desa Ngroto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, putri pasangan Raudin (37) dan Umayah (33).

Kepala Desa Ngroto, Siam Susanto, menyebutkan bahwa keluarga korban tergolong dalam kondisi ekonomi terbatas. Ayah korban bekerja serabutan sebagai buruh tani dan kuli bangunan di luar kota.

“Kalau di kampung, bapaknya kerja serabutan. Kadang ikut proyek di luar kota,” kata Siam.

Sejak kecil, Diva dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan kerap membantu orang tua, termasuk dalam produksi emping melinjo di rumah. Namun, karena keterbatasan ekonomi, ia memutuskan berhenti sekolah dan bekerja untuk membantu keluarga.

Padahal, secara usia, korban seharusnya masih menempuh pendidikan di tingkat sekolah menengah atas. Ia diketahui baru bekerja sebagai ART di Jakarta selama beberapa bulan setelah Lebaran tahun ini.

“Baru beberapa bulan kerja. Habis Lebaran langsung berangkat ke Jakarta,” ujar Siam.

Keputusan tersebut diambil keluarga dengan harapan dapat membantu perekonomian rumah tangga, mengingat pekerjaan di kampung tidak selalu tersedia.

Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait kronologi kejadian, termasuk kemungkinan adanya faktor lain yang menyebabkan korban nekat melompat dari lantai atas bangunan.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI