-->

Dari Tidur di Teras ke Jadi Tokoh, Cerita Ponpes Santri Al Khafifiyah Batang

arya pekalongan news
Friday, April 24, 2026, April 24, 2026 WIB Last Updated 2026-04-24T02:51:52Z

Dari Tidur di Teras ke Jadi Tokoh, Cerita Ponpes Santri Al Khafifiyah Batang
Pekalongannews, Batang — Di balik gang sempit kawasan Kauman, Kecamatan Bawang, berdiri Pondok Pesantren Al Khafifiyah yang diam-diam menyimpan sejarah panjang tentang ketekunan dan harapan.

Pesantren Al Khafifiyah Batang bukan dibangun dari kemegahan, melainkan dari tradisi sederhana yang hidup sejak era 1990-an.

Kala itu, anak-anak desa datang mengaji pada malam hari lalu pulang saat pagi untuk kembali bekerja sebagai petani atau buruh.

Tradisi itu dikenal sebagai santri kalong, sebuah fase awal yang justru menjadi fondasi kuat berdirinya pesantren ini.

Pengasuh pondok, Nafiul Athfal atau Gus Nafi, mengisahkan bagaimana semuanya bermula dari kebiasaan kecil yang konsisten.

“Dulu mereka ngaji malam, tidur di rumah kami, paginya pulang untuk bekerja,” ujarnya.

Seiring waktu, beberapa santri mulai menetap sekitar tahun 1993 dan menjadi awal lahirnya sistem pesantren mukim.

Nama Al Khafifiyah sendiri diambil dari pendirinya, KH Khafif Syakur, seorang tokoh yang memiliki garis keturunan ulama di Batang.

Dari titik itu, pesantren berkembang menjadi ruang pendidikan yang memadukan ilmu agama dan pendidikan formal.

Santri di pesantren ini tetap bersekolah di luar, mulai dari SMP hingga SMK, lalu kembali ke pondok untuk mengaji dari sore hingga malam.

Ritme itu berlangsung setiap hari, bahkan dilanjutkan dengan kegiatan keagamaan selepas subuh.

Letaknya yang berada tepat di belakang Masjid Baitul Muttaqin Bawang membuat akses pendidikan formal menjadi mudah dijangkau.

Yang membedakan Pesantren Al Khafifiyah Batang adalah sistem pilihan jalur pendidikan yang fleksibel.

Santri dapat memilih fokus pada Al-Qur’an atau pendalaman kitab kuning sesuai minat dan kemampuan.

Dalam waktu tiga hingga enam tahun, santri ditargetkan mampu menguasai bidang yang dipilih secara mendalam.

“Kalau Al-Qur’an, tiga sampai empat tahun bisa hafidz, kalau kitab bisa khatam beberapa kitab,” jelas Gus Nafi.

Namun di tengah kualitas pendidikan itu, yang paling mencuri perhatian justru biaya yang sangat terjangkau.

Dengan sekitar Rp250 ribu per bulan, santri sudah mendapatkan fasilitas lengkap termasuk makan tiga kali sehari dan layanan laundry.

Model ini menjadi solusi bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi yang ingin anaknya tetap mendapatkan pendidikan agama.

“Ini memang kami niatkan untuk membantu masyarakat,” tegasnya.

Meski sederhana, pesantren ini telah melahirkan alumni yang tersebar ke berbagai daerah, bahkan hingga luar Jawa.

Sebagian besar dari mereka kini menjadi tokoh masyarakat, membuktikan bahwa kualitas tidak selalu lahir dari fasilitas mewah.

Tidak hanya ilmu agama, pesantren juga menanamkan kemandirian ekonomi kepada santri.

Beberapa alumni bahkan diarahkan untuk terjun ke dunia usaha dan perdagangan setelah lulus.

“Yang penting ilmunya bermanfaat dan mereka bisa mandiri,” kata Gus Nafi.

Hingga kini, jumlah santri mencapai ratusan dengan sistem pembiayaan berbasis swadaya dan donatur.

Di tengah modernisasi pendidikan yang semakin mahal, Pesantren Al Khafifiyah Batang menjadi bukti bahwa kesederhanaan masih relevan.

Lebih dari sekadar tempat belajar, pesantren ini menjadi ruang tumbuh bagi generasi yang ingin mengubah hidup tanpa harus menunggu fasilitas sempurna.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI