| gambar Ilustrasi |
Namun, di balik statusnya sebagai standar global, tidak banyak yang menyadari bahwa dual SIM lahir bukan dari pusat riset raksasa teknologi dunia, melainkan dari kebutuhan nyata pengguna di Asia.
Pada awal 2000-an, sebagian besar ponsel hanya mendukung satu kartu SIM. Di Eropa dan Amerika, kondisi ini tidak menjadi masalah besar karena tarif operator relatif stabil dan kualitas jaringan cukup merata.
Situasinya berbeda di banyak negara Asia. Tarif operator sering berubah, kualitas sinyal tidak merata antarwilayah, dan pengguna memiliki kebutuhan ganda antara urusan kerja dan pribadi. Akibatnya, banyak orang terpaksa membawa dua ponsel sekaligus.
Kebutuhan untuk menggabungkan dua nomor dalam satu perangkat sebenarnya sudah terasa sejak lama. Namun, produsen besar seperti Nokia, Motorola, dan Sony Ericsson saat itu belum melihat dual SIM sebagai fitur penting.
Fokus mereka masih pada kamera, desain, dan daya tahan baterai. Dual SIM dianggap terlalu spesifik dan tidak relevan untuk pasar global.
Justru produsen kecil di Asia yang bergerak lebih cepat. Di Tiongkok, sejumlah pabrikan OEM mulai memproduksi ponsel dengan dua slot kartu, melihat langsung kebutuhan konsumen lokal.
Salah satu nama yang sering disebut sebagai pelopor adalah Gionee. Meski bukan pemain besar, inovasi ini cepat diadopsi oleh berbagai merek lokal di Asia Tenggara, India, dan Afrika. Di India, produsen seperti Micromax, Spice, dan Karbonn turut mempopulerkan ponsel dual SIM dengan respons pasar yang sangat positif.
Asia menjadi titik balik penting karena pola penggunaan ponselnya yang unik. Pengguna terbiasa memiliki beberapa kartu untuk memanfaatkan tarif murah, promosi, atau jaringan yang lebih stabil di lokasi tertentu.
Ketika ponsel dual SIM mulai beredar luas, permintaannya langsung melonjak, termasuk di Indonesia, Filipina, Vietnam, dan India.
Memasuki era Android sekitar 2009–2011, kebutuhan dual SIM justru semakin menguat. Penggunaan data meningkat pesat, mendorong pengguna memisahkan kartu khusus internet dan kartu nomor utama.
Produsen besar pun akhirnya ikut masuk. Samsung menjadi salah satu yang paling agresif melalui lini Galaxy Duos, disusul Lenovo dan berbagai merek regional.
Teknologi dual SIM juga terus berkembang. Dari sistem sederhana yang mengharuskan pengguna memilih kartu secara manual, beralih ke dual SIM standby, hingga dual SIM aktif dengan dua modul radio terpisah. Kini, fitur tersebut mendukung dual 4G, dual VoLTE, bahkan kombinasi kartu fisik dan eSIM.
Puncak pengakuan global terjadi saat Apple menghadirkan dual SIM pada iPhone XS. Langkah ini menandai perubahan status dual SIM dari solusi pasar Asia menjadi standar dunia. Saat ini, hampir semua smartphone, dari kelas entry hingga flagship, menawarkan konfigurasi dua kartu.
Dual SIM adalah bukti bahwa inovasi besar tidak selalu lahir dari pasar maju. Kebutuhan lokal yang nyata, ketika dijawab dengan tepat, mampu mengubah arah industri teknologi global.


No comments:
Post a Comment