0 Comment
Pengrajin batik tulis Rifaiyah Desa Kalipucang Wetan
Batang - Batik tulis Rifaiyah salah satu warisan budaya nenek moyang keturunan Syekh KH. Ahmad Rifai dari Desa Kali Pucang Wetan, Kecamatan/Kabupaten Batang Jawa Tengah.

Batik tulis Rifaiyah memiliki makna filosofi sangat mendalam untuk syiar agama Islam pada zaman dahulu. Proses pembuatanya ada ritual yang biasa dijalankan sebelum membatik, yakni dengan salat Duha terlebih dahulu.

Ritual lain pun dijalani pengrajin dengan nada lirih melafalkan syair kidung berbahasa jawa berisi ajaran Islam saat menorehkan malam ke selembar batik.

Batik Rifaiyah khas Kabupaten Batang itu juga sudah termasuk warisan budaya Indonesia yang diakui oleh UNESCO.

Kepala Desa Kalipucang Wetan Mundakir mengatakan dalam proses pembuatannya membutuhkan waktu minimal tiga minggu, bahkan enam bulan untuk sehelai kain.

“Dari kerja keras pembatik kain batik Rifaiyah termurah yang tergolong kasar dihargai Rp350 ribu. Untuk batik sedang mencapai Rp4 juta, batik halus dijual Rp6,5 juta,” kata Mundakir, Selasa 11 Oktober 2022.

Pangsa pasar Batik Rifaiyah tidak hanya di Indonesia, tapi juga sudah merambah ke mancanegara yakni Singapura, Malaysia, India, Korea, Jepang, Yunani, Amerika dan Swedia.

“Batik Rifaiyah murni merupakan batik tulis. Warga tidak mau mengubahnya menggunakan mesin karena demi mempertahankan tradisi, sehingga hanya melayani pesananan terbatas,” ungkapnya.

Mundakir juga menjelaskan, membatik bagi warga Kalipucang Wetan bukan menjadi bagian hidup, karena kalau secara ekonomi tidak memungkinkannya.

“Semangat warga dan pengrajin batik hanya mempertahankan tradisi dan warisan leluhur,” ujar dia.

Untuk lebih mempertahankan budaya dan kearifan lokal masyarakat pengrajin batik. Di setiap peringatan Hari Batik Nasional, Desa Kalipucang Wetan menggelar festival Batik Rifaiyah.

Dalam peringatan kalai ini, festival berlangsung di Desa Kalipucang Wetan. Kegiatan itu dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Batang Willopo, Senin 11 Oktober 2022.

“Kegiatan merayakan Hari Batik Nasional ini sebagai upaya mengenalkan batik khas Kabupaten Batang ke kancah nasional maupun internasional. Ini bagian dari kekayaan khasanah seni dan budaya serta kreatifitas masyarakat, yang harus kita dukung untuk dapat dikembangkan,” katanya.

Wilopo juga mengatakan, Batik memang identik dengan Indonesia, tetapi tidak menutup kemungkinan negara lain juga membuat batik seperti Malaysia dan Vietnam. Makanya agar tidak memudarkan batik sebagai salah satu budaya Negara Indonesia harus tetap dijaga. Seperti yang tercatat di dunia saat ini satu-satunya adalah batik tulisnya.

Batik Rifaiyah dibuat dengan cara ditulis secara tradisional menggunakan canting yang diawali dengan membuat motif, corak, hingga pewarnaan yang memerlukan proses cukup lama.

“Ciri khas batik Rifaiyah tiga negeri, yakni larangan penggambaran motif hewan secara utuh pada lembaran kain. Alasannya, mereka meyakini menggambar makhluk hidup itu berdosa,” ungkapnya.

Post a Comment Blogger

 
Top