Menjadi Pengurus Organisasi Harus Ikhlas Dan Lillahi Ta’alla

January 22, 2018
Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, menghadiri dan memberikan pengarahan dalam Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Wonokerto
Kabupaten Pekalongan
Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, menghadiri dan memberikan pengarahan dalam Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Wonokerto, Minggu (21/01/2018) pagi di MIS Bebel Wonokerto.

Pembukaan konferensi dibuka oleh Anggota DPR RI H. Bisri Romly, M.Si., dihadiri Camat Wonokerto beserta jajaran Muspika, Rois Syuriah Pimpinan Cabang NU (PCNU) Kabupaten Pekalongan KH. Muhammadun Jundi, Ketua Tanfidz PCNU KH. Muslikh Khudori, M.Si., Pengurus MWC NU dan badan otonom, Pengurus Ranting NU se Kecamatan Wonokerto dan ratusan undangan yang memadati halaman MIS Bebel Wonokerto.

“Organisasi ini dapat hidup apabila ada proses kaderisasi atau re-organisasi dalam rangka revitalisasi organisasi. Sehingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu membuat Peraturan Organisasi (PO) yang kalau di tingkat MWC ini harus ada konferensi lima tahun sekali,” kata Bupati mengawali pengarahannya.
Bupati berpesan kepada segenap pengurus NU baik di tingkat Cabang, MWC maupun Ranting untuk secara ikhlas dan lillahi ta’alaa karena akan banyak hikmah yang akan kita peroleh tanpa kita sadari. Sebagai contoh Bupati menceritakan bagaimana dirinya menjadi orang nomor satu di Kota Santri saat ini. Kata Bupati, itu semua karena dirinya pernah mengabdikan diri dan berkhidmah untuk NU. 
“Saya dulu juga pernah menjadi pengurus MWC NU Kedungwuni, kemudian pengurus Cabang. Bahkan jaman Gus Dur, saya menjadi salah satu pengurus Lakpesdam dan Robithoh Maarif Islamiyah Pusat,” ujarnya.
Tantangan menjadi Ketua MWC NU Wonokerto ke depan, kata Bupati, tidaklah mudah karena ada beberapa proyek nasional dan regional yang akan tiba di Wonokerto. 
“Kami sedang melakukan studi untuk pasca berdirinya tanggul melintang proyek Provinsi dan Pusat. Dalam minggu depan akan dilakukan ground breaking. Untuk kajian-kajian sosialnya saya minta dibantu oleh MWC NU Wonokerto ini,” kata Bupati.
Dijelaskan Bupati, setelah tanggul melintang jadi, yang sebelah utaranya itu akan seperti apa, ini Bupati telah meminta dari Roterdam University maupun HHSK (Dewan Air di Belanda) yang siap membantu Kabupaten Pekalongan dalam konteks water management. “Jadi proyek tanggul melintang itu spektakuler dan saya meyakini akan merubah kultur sosial, ekonomi, budaya masyarakat Wonokerto. Ini adalah tantangan Ketua MWC NU ke depan,” imbuhnya.

Dari hasil Konferensi MWC NU Kecamatan Wonokerto telah terpilih Kyai M. Alwi Hamim sebagai Ra'is Syuriyah dan Ahmad Zaki, S.Pd sebagai Ketua Tanfidziyah untuk masa khidmah 2018-2023.Semoga penuh barokah dan tambah amanah. (didik/dinkominfo kab.Pekalongan)

Share this

Related Posts