0 Comment
Sebuah kolaborasi megah diperagakan oleh gabungan seniman Pekalongan dan Jakarta dalam kegiatan pentas seni Batik Bertutur di Pendopo Rumah Dinas Bupati Pekalongan. Pagelaran seni yang mengusung dan mengangkat batik Kawung sebagai ikon khas Pekalongan terwujud dalam rentetan teatrikal sendra tari mulai dari jaran ebeg, tarian obor, tari batik Kawung maupun kolaborasi tarian jawa klasik dengan batik khas Pekalongan dikombinasikan dengan tarian khas sufi.
Alat musik yang mengiringi pagelaran seni tutur batik pun berasal dari gabungan musik moderen, etnik dan musik tradisional jawa seperti gending jawa, kentongan dan rebana.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi yang malam itu turut membacakan puisi monolog berkisah tentang batik Pekalongan mengatakan, Tutur Batik ini merupakan kegiatan perdana yang menggabungkan seni tari, seni musik dan seni pertunjukan termasuk sinematografi.
"Kita akan kembangkan lagi kegiatan ini, kedepan kita akan eksplorasi untuk mendeskripsikan batik dalam pagelaran seni agar terus sebagai kegiatan rutin Kabupaten Pekalongan sebagai legenda batik nusantara," tuturnya, Jum'at (27/1/17) malam.
Tadi bisa kita lihat bagaimana batik motif kawung yang dibuat dengan hati, sarat makna dan penuh filosofi bisa dikolaborasikan dengan seni tetrikal dan seni yang lainya.

Apalagi menurut dia, narasi batik yang dibuat tidak sembarangan hingga membentuk motif tematik batik Kawung didasari unsur yang menjelaskan bahwa hakekatnya kita sama dihadapan sang pencipta.
"Ini merupakan bagian dari budaya nenek moyang orang Pekalongan yang akan menjadi peta jalan bagi seni batik itu sendiri," ucap Asip.
Selain pertunjukan kolaborasi seni tari, kegiatan Tutur Batik juga melelang tiga lembar batik tulis motif Kawung karya pengrajin batik tulis Pekalongan Sunto Seno yang bangga disebut sebagai Ki Lurah Semut dan juga mengahdirkan ikon Bosa Nova Indonesia dekade lalu, Iga Mawarni sebagai host lelang.

Tiga lembar batik tulis motif Kawung tersebut laku terjual masing-masing sebesar Rp 25 juta untuk kain batik Kawung yang diberi nama pengantin tebu, kemudian kain batik Kawung Antebing Khalbu yang terjual Rp 10 juta dan terakhir terjual Rp 3 juta.

Post a Comment Blogger

 
Top