-->

Jejak Para Legenda Timnas Indonesia Dihidupkan Kembali Lewat Peluncuran Buku Para Pionir

Pekalongan News
Friday, October 23, 2026, October 23, 2026 WIB Last Updated 2026-10-23T12:04:02Z

Jejak Para Legenda Timnas Indonesia Dihidupkan Kembali Lewat Peluncuran Buku Para Pionir

Pekalongannews, Jakarta – Sejarah Timnas Indonesia tak hanya berisi kemenangan dan kekalahan di lapangan. Di balik perjalanan sepak bola nasional pada dekade 1950-an, terdapat kisah para pemain, pelatih asing, hingga perjuangan membangun tim di tengah keterbatasan. Cerita-cerita tersebut kini dihidupkan kembali melalui buku.


Peluncuran buku Para Pionir: Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia 1951–1960 dilaksanakan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, pada Rabu, (21/10/2026).

Dalam acara tersebut, diungkap bahwa buku yang ditulis Aulli Reza Atmam dan Dimas Wahyu Indrajaya ini berupaya menghadirkan kembali sejarah Timnas Indonesia melalui penelusuran arsip surat kabar dan majalah lawas. Keduanya ingin menunjukkan bahwa perjalanan generasi awal sepak bola nasional tidak semata-mata ditentukan oleh hasil pertandingan, tetapi juga proses panjang membangun fondasi tim.

Gagasan penulisan buku ini berangkat dari kegelisahan Dimas terhadap minimnya pengetahuan publik mengenai pemain-pemain Indonesia pada masa lalu. Ia merasa masyarakat lebih mengenal legenda sepak bola dunia, seperti Diego Maradona dan Pelé, dibandingkan para pemain yang pernah membela Merah Putih.

Dimas menceritakan, ketertarikannya semakin kuat ketika mengelola konten sejarah pada 2020 dan menemukan nama Ramang. Penelusuran arsip kemudian membawanya pada kisah-kisah lain yang belum banyak diketahui publik.

“Timnas zaman itu nggak soal kekalahan saja, nggak prestasinya juga. Tapi juga bagaimana perjuangannya mendapatkan prestasi itu,” ujar Dimas.

Proses pengumpulan bahan telah dimulai sejak 2021 melalui inisiatif mengarsipkan artikel-artikel olahraga dan sepak bola. Aulli dan Dimas menelusuri koleksi surat kabar di Perpustakaan Nasional, serta memanfaatkan arsip digital dari luar negeri, termasuk Delpher di Belanda dan koleksi Perpustakaan Nasional Singapura.

Aulli menjelaskan bahwa sebagian besar isi buku bersumber dari dokumen tertulis yang memuat laporan pertandingan, persiapan tim, hingga berbagai situasi yang memengaruhi perjalanan Timnas.

“Kita nemu banyak cerita yang sebenarnya menarik, tapi nggak banyak orang tahu. Kita merasa sayang bahwa ini cuma tersimpan di dalam pojokan ruang Perpustakaan Nasional,” kata Aulli.

Setelah mengumpulkan dan mengolah bahan selama beberapa tahun, naskah buku rampung
pada 2024. Buku tersebut kemudian diterbitkan dalam dua jilid. Bagi para penulis, arsip bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber untuk memahami sepak bola Indonesia secara lebih utuh.

Perjalanan Timnas Indonesia pada era awal kemerdekaan juga memperlihatkan pentingnya peran pelatih dalam membangun tim. Salah satu sosok yang dibahas adalah Choo Seng Quee, pelatih asal Singapura sebagai pelatih pertama Timnas Indonesia. Ia menangani tim pada awal dekade 1950-an, termasuk ketika Indonesia tampil di Asian Games 1951.

Nama lain yang mendapat perhatian adalah Antun Pogačnik, pelatih asal Yugoslavia yang berkontribusi dalam perkembangan sepak bola Indonesia. Ia dikaitkan dengan perjalanan tim menuju pencapaian medali perunggu Asian Games 1958 di Tokyo.

Menurut kisah yang dipaparkan dalam diskusi buku, perekrutannya melibatkan Ketua Umum PSSI saat itu, Maladi, serta bantuan Presiden Soekarno, mengingat Indonesia belum memiliki hubungan diplomatik dengan Yugoslavia. Pogačnik saat itu memiliki keyakinan terhadap potensi sepak bola Indonesia.

Perjalanan para pelatih tersebut berjalan beriringan dengan munculnya pemain-pemain yang kini jarang dibicarakan. Selain Ramang dan Maulwi Saelan, ada Aang Witarsa, Tan Liong Houw, Ashari Danu, Rukma Sujana, hingga pemain bernama Van der Vin yang turut memperkuat Timnas pada masanya.

Penelusuran arsip juga memperlihatkan keberagaman latar belakang pemain. Pesepak bola keturunan Tionghoa, Arab, dan Eropa menjadi bagian dari perjalanan tim nasional sejak dekade awal. Catatan tersebut memberikan gambaran bahwa sepak bola Indonesia sejak dahulu dibentuk oleh beragam latar belakang dan kontribusi.

Melalui Para Pionir: Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia 1951–1960, Aulli dan Dimas mengajak pembaca melihat sejarah Timnas lebih dari sekadar skor akhir. Arsip-arsip lama menghadirkan cerita tentang pencarian pemain, keterbatasan fasilitas, keputusan pelatih, serta perjuangan membangun identitas sepak bola nasional.

Upaya itu sekaligus menjadi pengingat bahwa fondasi Timnas Indonesia hari ini terbentuk melalui perjalanan panjang generasi sebelumnya. Mengenal mereka bukan hanya soal bernostalgia, tetapi juga memahami akar sepak bola Indonesia dan pelajaran yang masih relevan untuk masa depan.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI