-->

Kasus Dugaan Keracunan 717 Orang, SPPG Bawang Batang Resmi Disuspend Permanen

Pekalongan News
Sunday, October 18, 2026, October 18, 2026 WIB Last Updated 2026-10-18T00:09:51Z
Kasus Dugaan Keracunan 717 Orang, SPPG Bawang Batang Resmi Disuspend Permanen
Pekalongannews, Batang  – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang milik Yayasan Bela Batang Sejahtera resmi disuspend secara permanen oleh pengelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pusat. 

Keputusan ini diambil menyusul insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa 717 siswa penerima manfaat beserta orang tua mereka di wilayah Bawang, Kabupaten Batang.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program MBG Kabupaten Batang yang juga Wakil Bupati Batang, Suyono, membenarkan keputusan penghentian operasional dapur tersebut. Menurutnya, informasi penutupan permanen sebenarnya telah diterima sejak pekan sebelumnya, tetapi ia memilih menunggu kepastian tertulis dari pemerintah pusat.

“Iya, sebenarnya penutupan permanen itu sudah dari minggu yang lalu saya sudah dengar, tapi saya belum berani menyampaikan karena belum ada secara tertulis dari pusat,” ujar Suyono saat dikonfirmasi, Kamis (15/10/2026).

Ia menjelaskan, keputusan penutupan permanen tersebut kini telah diumumkan oleh pihak pengelola MBG pusat setelah mempertimbangkan kejadian yang terjadi.

Meski dapur SPPG Bawang tidak lagi beroperasi, pemerintah memastikan distribusi makanan bergizi bagi para siswa penerima manfaat tetap berjalan. Pemkab Batang telah berkoordinasi dengan koordinator wilayah (corwil) agar penyaluran dialihkan ke SPPG terdekat yang masih beroperasi dan memenuhi ketentuan.

“Pembagian penerima manfaat itu akan terbagi ke SPPG terdekat. Itu pun tersistem dari pusat, jadi tinggal menerima,” jelasnya.

Terkait hasil pemeriksaan laboratorium atas insiden dugaan keracunan tersebut, Suyono belum bersedia menyampaikan kesimpulan. Ia menegaskan, informasi mengenai penyebab kejadian harus didasarkan pada dokumen resmi yang telah diterima dan dapat dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, meskipun sejumlah informasi mengenai hasil pemeriksaan telah beredar, ia belum dapat memberikan keterangan lebih jauh karena belum melihat dokumen tertulis secara langsung.

Sikap tersebut diambil agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat tetap akurat dan tidak menimbulkan kesimpangsiuran mengenai penyebab insiden.
Seluruh Dapur MBG Diminta Patuhi SOP

Di sisi lain, Suyono memberikan peringatan kepada seluruh pengelola SPPG di Kabupaten Batang agar memastikan setiap tahapan operasional berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP). 

Imbauan ini disampaikan menyusul masih ditemukannya dapur pelayanan yang belum memenuhi standar saat inspeksi mendadak (sidak).

Ia menegaskan akan terus melakukan pengawasan langsung ke lapangan. Para pengelola diminta segera membenahi kekurangan sebelum pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh.

“Saya sampaikan seluruh SPPG harus memenuhi SOP. Kalau tidak memenuhi SOP, dari sekarang dibenahi sebelum saya turun secara keseluruhan di lapangan,” tegasnya.

Suyono mengakui, penghentian operasional sebuah SPPG bukan keputusan yang mudah. Pasalnya, pengelola telah mengeluarkan investasi besar dan mempekerjakan sejumlah karyawan yang turut terdampak apabila dapur ditutup.

Namun, ia menekankan bahwa keselamatan anak-anak penerima manfaat harus menjadi prioritas utama. Keputusan penutupan, menurutnya, harus didasarkan pada kriteria dan pelanggaran yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan dilakukan secara sewenang-wenang.

Ia berharap seluruh pengelola dapat menjadikan kejadian di Bawang sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan dan meningkatkan pengawasan keamanan pangan.

Sebagai langkah pencegahan, Suyono juga mendorong setiap pengelola SPPG untuk menyerahkan sampel makanan harian kepada Puskesmas atau instansi terkait sebelum makanan didistribusikan ke sekolah.

Sampel tersebut dapat disimpan sebagai bahan pemeriksaan apabila di kemudian hari ditemukan dugaan masalah keamanan pangan. Jika diperlukan, sampel juga dapat menjalani pengujian laboratorium untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan penyebab kejadian.

Menurut Suyono, langkah ini penting untuk memperkuat sistem pengawasan sekaligus mempermudah proses penelusuran apabila muncul keluhan dari penerima manfaat.

Ia berharap pengelola SPPG tidak menganggap pemeriksaan sampel sebagai beban tambahan, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada para siswa.

Penutupan permanen SPPG Bawang menjadi pengingat bahwa pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga harus menjamin keamanan makanan yang dikonsumsi anak-anak.

Pemerintah daerah pun meminta seluruh pengelola dapur MBG meningkatkan kepatuhan terhadap SOP, menjaga kualitas bahan pangan, serta memperkuat pengawasan sebelum makanan sampai ke tangan penerima manfaat.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI