Pekalongannews, Tegal - Ada banyak cara anak muda mengejar mimpi. Sebagian membangun perusahaan. Sebagian lagi mengejar jabatan. Namun, Riza Ghiyats Fakhri justru memilih jalan yang jarang dilirik.
Ia mendirikan sebuah yayasan, bukan untuk mencari panggung, melainkan memperpanjang manfaat bagi orang lain.
Di tengah budaya yang sering mengukur keberhasilan dari kekayaan dan popularitas, langkah itu terasa berbeda.
Bagi Riza, hidup tidak cukup hanya selesai pada pencapaian pribadi. Ada tanggung jawab sosial yang harus diteruskan kepada masyarakat.
Pilihan itulah yang melahirkan Ghiyats Mulia Foundation, sebuah yayasan yang resmi berdiri pada 23 April 2026. Yayasan itu menjadi ruang pengabdian keluarga di bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan.
Riza merupakan putra almarhum H A. Ghautsun bin KH Abukhaer Nasori. Yayasan itu adalah amanah dari almarhum ayahnya agar anak cucunya hidup bermanfaat untuk masyarakat.
"Yayasan Ghiyats Mulia Foundation resmi kami dirikan pada 23 April 2026. Saya berharap yayasan ini menjadi media berbagi manfaat kepada masyarakat sekaligus memperkuat nilai kepedulian sosial sesuai ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Dan ini untuk melanjutkan perjuangan almarhum di kalangan nahdhatul ulama," kata Riza yang saat ini baru berusia 39 tahun.
Baginya, warisan terbaik bukan hanya nama keluarga, melainkan jejak manfaat yang terus hidup melalui tindakan nyata.
Karena itu, sejak awal ia tidak ingin Ghiyats Mulia Foundation hanya dikenal sebagai lembaga filantropi.
Ia membayangkannya sebagai rumah kolaborasi. Tempat orang-orang dengan niat baik bertemu, lalu bergerak bersama membantu sesama.
Keyakinan itu menemukan jalannya ketika ia berdiskusi dengan Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Kabupaten Tegal, KH Muhammad Aqib Malik.
Dari sejumlah pertemuan sederhana, lahirlah gagasan menghadirkan Ijazah Kubro Manakib Syekh Abdul Qadir Al-Jilani Kitab Nurul Burhani di Kabupaten Tegal.
Bagi sebagian orang, kegiatan tersebut mungkin hanya tampak sebagai agenda keagamaan.
Namun, bagi mereka yang merintisnya, kegiatan itu merupakan ikhtiar menjaga mata rantai ilmu, merawat tradisi Nahdlatul Ulama, sekaligus mempertemukan ribuan orang dalam semangat yang sama.
"Dalam beberapa kali pertemuan bersama Gus Aqib, muncul gagasan menghadirkan Ijazah Kubro Manakib Nurul Burhani di Kabupaten Tegal. Kami memandang kegiatan ini penting untuk menjaga sanad keilmuan sekaligus memperkuat tradisi amaliah Nahdliyin," ujar Riza.
Setelah memperoleh restu Ketua PCNU Kabupaten Tegal, H. Khozi'in, Ghiyats Mulia Foundation memutuskan berjalan bersama LDNU.
Yayasan itu hadir bukan sebagai aktor utama, melainkan mitra yang bekerja di belakang layar agar kegiatan berjalan baik.
Peran seperti itu sering luput dari perhatian. Padahal, setiap kegiatan besar selalu membutuhkan orang-orang yang rela bekerja tanpa banyak sorotan. Mereka memilih memastikan semuanya berjalan lancar daripada berdiri paling depan.
Bagi Riza, kolaborasi jauh lebih penting dibanding sekadar menunjukkan siapa yang paling berjasa. Sebab, manfaat tidak pernah lahir dari ego. Manfaat tumbuh ketika banyak orang bersedia saling menguatkan.
Di era media sosial, ketika validasi sering diukur melalui jumlah pengikut dan tanda suka, kisah Riza menghadirkan pesan berbeda.
Bahwa menjadi bermanfaat tidak selalu harus viral.
Mengubah kehidupan orang lain dapat dimulai dari keputusan sederhana untuk peduli.
Ia percaya, dakwah tidak hanya disampaikan melalui mimbar. Dakwah juga hidup melalui aksi sosial, pendidikan, kepedulian, dan kemauan membuka ruang bagi siapa pun yang ingin ikut berbuat baik.
"Kami bersyukur mendapat kepercayaan menjadi mitra LDNU PCNU Kabupaten Tegal. Semoga sinergi ini terus berkembang dalam program dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial bagi warga Nahdlatul Ulama maupun masyarakat luas," tuturnya.
Di tengah derasnya arus individualisme, pilihan Riza mungkin tampak sebagai jalan sunyi. Namun, justru dari jalan sunyi itulah harapan sering tumbuh.
Sebab, makin tahu Indonesia, sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang paling terkenal, melainkan juga oleh mereka yang diam-diam memilih menjadi manfaat bagi sesama.



No comments:
Post a Comment