-->

Rob Telan Ratusan Hektare Sawah, RB Minta Presiden Prabowo Akselerasi Proyek Tanggul Laut Pantura

Pekalongan News
Friday, November 28, 2025, November 28, 2025 WIB Last Updated 2025-11-28T07:10:48Z
Pekalongannews, Batang - Bencana rob yang selama ini menghantui wilayah Pantura kembali menunjukkan dampak serius. Di Kelurahan Kasepuhan, ratusan hektare sawah hilang tertelan air laut. Lahan yang dulu hijau kini berubah menjadi telaga asin. Kondisi inilah yang membuat pemerintah pusat tak bisa lagi menutup mata.

Masalah rob di Kasepuhan langsung mendapat perhatian dari Anggota DPR RI Fraksi PKS, Rizal Bawazier. Politikus yang akrab disapa RB itu turun langsung meninjau lokasi dan menyebut bahwa situasi di pesisir Pantura, mulai dari Batang Barat, Kota dan Kabupaten Pekalongan, hingga Ulujami Pemalang, sudah masuk kategori kritis.

“Ini harus dapat prioritas. Kita dorong terus pembangunan Tanggul Raksasa Pantura,” ujar RB saat melihat hamparan sawah yang kini tenggelam.

RB tak bisa menyembunyikan rasa prihatin. Ia tegas meminta Presiden Prabowo Subianto dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk memprioritaskan penanganan rob Pantura.

“Sawah di sini sudah tidak bisa ditanami. Pak Prabowo, Pak AHY, jadikan ini prioritas. Anggarannya besar dan hanya pemerintah pusat yang bisa selesaikan,” tegasnya.

Ia menyebut ada dua langkah penting yang sedang didorong: Percepatan pembangunan Tanggul Raksasa Pantura, Program jangka pendek melalui aspirasi DPR RI

Selain kerusakan lahan pertanian, RB juga menyoroti akses jalan yang hampir setiap malam tenggelam rob.

“Kalau proyek dari PU dikerjakan sekarang, tapi Tanggul Raksasa belum ada, nanti rusak lagi. Jadi kita lihat mana yang paling urgent,” tambahnya.

Sembari menunggu proyek besar berjalan, Rizal menekankan perlunya solusi cepat seperti pembangunan tanggul darurat dan talut.

“Nanti kita juga coba minta bantuan BUMN untuk mempercepat,” katanya.

Lurah Kasepuhan, Umar Winanto, mengatakan kondisi pertanian di wilayahnya kini berada di titik paling rapuh sepanjang sejarah. Sekitar 100 hektare sawah sudah permanen tak bisa ditanami, sementara 30 hektare lainnya hanya bisa panen setahun sekali.

Total lahan pertanian di Kasepuhan mencapai 250 hektare, namun lebih dari separuhnya kini rusak akibat rob harian. Umar menjelaskan bahwa rob bukan lagi bencana musiman, melainkan siklus air laut yang setiap hari merangsek semakin jauh ke selatan.

“Sekarang jaraknya ke permukiman tinggal sekitar satu kilometer. Lima tahun terakhir air makin ke selatan,” ujarnya.

Akibatnya, lebih dari 200 petani kehilangan mata pencaharian. Saat rob naik, air bisa mencapai setinggi lutut dan menutup akses jalan. Aktivitas warga pun lumpuh dari tengah malam hingga menjelang sore.

“Kalau rob naik, jalannya hilang. Air bisa selutut,” kata Umar sambil menunjukkan jalur sawah yang kini selalu tergenang.

Ia juga mengingatkan bahwa desa tetangga, Denasri, sudah lebih dulu kemasukan rob hingga merendam permukiman.

Melihat laju abrasi dan rob yang semakin parah, warga Kasepuhan mendesak agar pembangunan Tanggul Raksasa Pantura tidak lagi ditunda. Tanpa intervensi skala besar, wilayah ini terancam menjadi pesisir baru yang kehilangan fungsi permukiman dan aktivitas ekonominya.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI