0 Comment
Pekalongan - Kementrian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, mendorong agar Industri Kecil Menengah (IKM) batik di Pekalongan, Jawa Tengah, terus tumbuh dan berkembang. Untuk itu, selain bimbingan teknis (Bintek), puluhan pelaku IKM batik juga difasilitasi mesin serta peralatan agar mampu memenuhi kebutuhan pasar yang semakin beragam.

Sebagai salah satu warisan budaya, batik melalui IKM juga diharapkan memiliki daya saing tinggi mengikuti kemajuan teknologi. Dengan demikian, kelangsungan atau kelestarian batik sebagai potensi industri sangat didukung oleh pemerintah.

Direktur IKM Kimia, Sandang, Kerajinan dan Industri Aneka, E. Ratna Utarianingrum dalam sambutanya di acara Bimbingan Teknis yang berlangsung Selasa (8/9/2020) di Hotel Marlin Wiradesa Kabupaten Pekalongan,  menyampaikan, di masa sulit seperti sekarang, upaya adaptasi maupun bertahan dari perubahan pasar menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para pelaku IKM.

"Seluruh pelaku bisnis baik di bidang industri maupun jasa merasakan dampak yang signifikan, sehingga kami mengajak para pelaku IKM untuk bersama-sama berjuang, bertahan di masa sulit ini, kondisi demikian dipicu oleh kondisi pasar yang telah berubah sehingga menuntut para pelaku usaha untuk terus melakukan inovasi agar mampu bertahan” kata Ratna.

Ratna menambahkan, meski kondisi sulit, namun perkembangan segmen pasar kain dan produk  batik justru semakin luas, baik secara usia maupun kelas sosial, sehingga produk batik telah bermetamorfosis menjadi berbagai produk fashion, kerajinan dan home decoration yang memiliki nilai tambah tinggi.

Selain itu, imbuh Ratna, sektor industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) juga merupakan salah satu sektor industri padat karya.

“Berdasarkan data BPS, Profil Usaha Mikro dan Kecil tahun 2018 terdapat 831.269 unit usaha mikro dan kecil yang tergabung dalam Klasifukasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) di industri pakaian jadi dan industri tekstil dimana kinerja ekspornya pada periode bulan Januari hingga Juni tahun 2020 telah mencapai angka US$ 3,38 milyar.” terang Ratna.

Adapun kinerja ekspor batik dan produk batik berdasarkan data dari BPS pada periode Januari-Juni 2020 adalah sebesar US$ 17,72 Juta.

Ratna juga menyampaikan, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka, selaku pembina IKM telah melakukan berbagai kegiatan yang bersifat pembinaan maupun pendampingan secara daring yang bertujuan untuk memberikan kiat-kiat dan teknik bagi para IKM untuk dapat bertahan dan mengembangkan bisnisnya di masa seperti sekarang.

Post a Comment Blogger

 
Top