0 Comment
pekalongan-news.com
Salah satu sudut yang dikerjakan, berupa jembatan tua diperbatasan Desa
Pekalongan
Matahari baru saja naik sepenggalan ketika ayam peliharaan dan hewan liar di hutan-hutan dekat Desa-Desa yang ada di sekitar Rogoselo mulai meredakan kebisinganya meninggalkan pagi yang dingin.

Semburat sinar merah fajar pagi berganti dengan hangatnya sinar mentari yang mulai menerobos pucuk-pucuk daun dan wujudnya jelas terlihat mengintip dari balik punggung bukit.
"Ini saatnya mencari rejeki untuk hari ini," pikir unggas dan beberapa jenis satwa yang menghuni hutan, kebun, pemukiman bahkan warga Desa pagi itu.
Namun tidak bagi sebagian warga Desa Pedawang, sebagian dari mereka hari itu meninggalkan sejenak rutinitas di ladang, kebun dan sawah. Satu persatu mereka mulai berdatangan ke lokasi kerja bakti untuk mencicil pekerjaan besar membuka harapan berupa jalan tembus yang akan melintasi desa mereka.

Tak butuh waktu lama, orang-orang bercaping lebar bercelana kolor dengan sabit dan cangkul di tangan mulai membersihkan lokasi berbaur dengan puluhan laki-laki berambut cepak dan berbadan kekar.

Tangan-tangan gesit cenderung berkerut dan tangan-tangan berotot penuh tenaga dari campuran keduanya mulai membabat ilalang dan perdu serta sebagian diantaranya tampak meratakan sepetak jalan tanah yang hampir seluruhnya tertutupi rumput.
"Ini pengalaman pertama kami sebagai rakyat bisa membaur dengan bapak-bapak tentara membabat hutan, membuka jalan untuk kepentingan kami kedepan," kata Santo, warga setempat.
Perasaan Santo mungkin sama dirasakan warga lainya, romantisme perjuangan TNI dengan rakyat di era pergolakan dulu yang hanya bisa ketahui melalui buku, film dan cerita tetua kampung bisa dirasakan dengan suasana berbeda.

Tidak ada bunyi senjata dikokang, bau mesiu dan ledakan peluru namun yang dirasakan dan terdengar pagi itu, bunyi cangkul menghantam batu yang tersembunyi di balik gundukan tanah dan harum daun basah oleh embun pagi serta ledakan tawa saat joke dan guyon pereda ketegangan terlontar dari keduanya.
"Wah tentarane jebul iso melucu. Saya pikir kerja bakti akan seram dan tegang, eh malah gayeng," ujar Tarno terkekeh.

Post a Comment Blogger

 
Top