0 Comment
Ada yang menarik dan mengusik nurani siapapun kalau mengikuti proses pencarian jasad Rahul Fahmi (27 th) pemuda warga Rt 11 Rw 03  Dukuh Krandon, Desa Sidorejo, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang yang tewas tenggelam di Kali Kupang, masuk wilayah Kelurahan Kuripan Kidul, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan.

Bukan soal nasib pemuda yang konon sepekan lagi akan menjalani pernikahan, bukan pula soal jasadnya yang hingga petang tadi belum ditemukan juga.

Namun ada pemandangan yang pasti akan membuat anda terhenyak dan langsung melakukan justifikasi atau mungkin akan langsung melakukan bully kepada prilaku industri yang jelas-jelas menampar wajah asli birokrasi pemerintahan kita.

Saat sedang melakukan tugas peliputan di lokasi pencarian, penulis melihat sendiri di seberang sungai yang jaraknya tak lebih 15 meter dari titik tenggelamnya Rahul, sebuah saluran menyerupai terowongan dibawah rumpun bambu dengan derasnya mengeluarkan limbah berwarna merah kecoklatan yang langsung terbuang dan bercampur dengan air kali kupang atau kalau di daerah hilir masyarakat Kota Pekalongan menyebutnya kali Loji.

Ironisnya, pemandangan tersebut disaksikan langsung oleh seluruh tim SAR dan petugas yang ada di sana. Sebab selain merubah warna asli air kali Kupang, limbah yang menurut salah satu petugas kepolisian setempat berasal dari Pabrik Sarung Pajitek di Watusalam berjarak tiga kilometer jauhnya, juga mengeluarkan asap mengepul.

Mengantisipasi terjadinya sesuatu, proses pencarian jasad Rahul pun sempat dihentikan. Sebab, keberadaan air limbah yang mengucur deras tersebut ditakutkan malah akan mengganggu tugas dari tim SAR.

Jengah dengan keadaan tersebut, salah seorang petugas dari Polsek Pekalongan Selatan yang berada di lokasi pun langsung menghubungi pihak manajemen pabrik untuk menghentikan sementara pembuangan limbah.

Tak berapa lama air limbah yang sebelumnya deras mengucur pun akhirnya terhenti dan beberapa menit kemudian setelah sisa campuran air yang berwarna merah kecoklatan berangsur lenyap tersapu aliran air dari hulu, maka pencarian pun kembali dilakukan.

Ketua SAR Pekalongan Rescue, Adi Supriyadi mengakui, keberadaan air limbah yang keluar dari terowongan di seberang sungai jelas akan mengganngu proses pencarian.

Selain akan menambah keruh air, juga ditakutkan akan berdampak pada anggotanya yang sedang melakukan penyelaman di sekitar lokasi tersebut.
"Kami khawatir kondisi teman-teman akan drop. Kami memilih berhenti dulu untuk menghindari dampak yang lebih buruk," ucap Adi.
Kendati demikian, pihaknya akan terus melakukan pencarian setelah pembuangan air limbah dihentikan minimal sampai kami selesai melakukan tugas.
"Kami takut ini akan mempengaruhi kondisi kesehatan mereka karena limbah ini banyak mengandung bahan kimia" ujarnya.

Post a Comment Blogger

 
Top