0 Comment
Sebanyak 88 calon haji umroh asal Kota Pekalongan dan sekitarnya terancam gagal berangkat ke tanah suci, bahkan mereka juga terancam kehilangan uang hampir 2 miliar yang disetorkan ke koordinator haji, Abday Rathomy yang juga adik mantan Wakil Walikota Pekalongan periode lalu, Abu Mafachir.
"Rata-rata calon haji sudah menyetor uang hampir 20 juta tinggal kalikan saja dengan 88 orang," ungkap Saehuda Yusuf (41 th) salah satu calon haji yang menjadi korban, Selasa (20/12/16) malam.
Menurut Yusuf, pemilik Biro Perjalanan Haji PT Kedhaton yang berkedudukan di Jogjakarta ingkar janji dan berkali-kali membatalkan keberangkatan.
Permasalahan ini sendiri, kata Yusuf, berawal dari Abday Rathomi atau Tomi yang berhasil merekrut 88 orang calon haji yang bersedia berangkat umroh melalui dirinya.

Karena dikenal sebagai adik dari tokoh masyarakat yang banyak dikenal masyarakat, Tomi tanpa kesulitan mengumpulkan calon haji yang dijanjikan berangkat melalui PT SBL.

Namun karena tidak ada kesepakatan harga dengan PT SBL, Tomi memindahkan calon haji ke PT Kedhaton milik Sofyan warga Jogjakarta.
"Pemindahan itu tanpa sepengetahuan para calon haji hingga akhirnya mulai timbul banyak permasalahan," kata Yusuf.
Untuk bisa berangkat umroh, PT Kedhaton minta kepada calon haji untuk membayar tambahan biaya sebesar Rp 5 juta.

Namun karena sudah berkali-kali ingkar janji, permintaan tersebut ditolak, Calon haji bersedia bayar asal sudah sampai ke tanah suci Mekkah.
Sementara itu, Sofyan, Direktur PT Kedhaton menampik kalau dirinya diwajibkan bertanggung jawab atas kerugian para calon haji.

Sofyan berdalih, dirinya hanya menerima uang dari Tomi sebesar Rp 500 juta. Itupun terbagi menjadi dua. Bulan Mei dan Juni Rp 220 dan ada beberapa lagi masuk, total setelah dihitung Rp 281 juta.
"Jadi saya tidak mungkin memberangkatkan calon haji kalau kebutuhan untuk ke tanah suci Mekkah mencapai Rp 2 miliar," ucap Sofyan.
Di tempat yang sama, Abday Rathomi mengaku sudah menyerahkan uang dari calon haji kepada kepada PT Kedathon, namun karena calon haji belum semuanya melunasi kekurangan, maka terjadi pending keberangkatan.
"Saya ada jaminan dana dari Pak Sofyan yang mau menolong dengan kompensasi saya bekerja untuknya dengan cara mencari calon haji sebanyak-banyaknya. Sehingga keberangkatan calon haji asal Kota Pekalongan tetap bisa berangkat, tinggal melunasi atau memberikan uang tambahan untuk menutupi kekurangan biaya," papar Tomi.
Karena tak kunjung ada keputusan yang pasti, akhirnya puluhan calon haji memaksa kedua orang tersebut untuk ikut ke Polres Pekalongan Kota dengan lebih dulu mengadukan kedua orang yang disangkakan melakukan penipuan.

Post a Comment Blogger

 
Top