0 Comment
Isi perut bumi Kabupaten Pekalongan terkenal menyimpan harta karun yang luar biasa. Selain dikaruniai alam yang molek juga terserak peninggalan sejarah dan pra sejarah yang tak ternilai. Seperti temuan reruntuhan batu yang diduga sebuah candi yang ada di Dukuh Bagol, Desa Lemahabang, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan. Diperkirakan candi Bagol sudah ada sejak abad 10 Masehi.

Kepala Desa Lemahabang, Karnoto mengatakan, Keberadaan candi dan menhir yang ada di Desa Lemahabang sudah diketahui sejak dulu. Di situs sejarah yang belum banyak tersentuh tangan manusia tersebut terserak batu-batu pahatan yang dibiarkan saja hingga tertutup belukar.
"Orang-orang tua di sini sudah mengetahui sejak lama. Mereka menyebut kawasan situs ini dengan nama bukit candi," ungkap Kades Kartono.
Karnoto mengisahkan, sekitar tahun 1990 an, pernah terjadi longsor di sekitar bukit candi yang mengakibatkan sebagian tanah yang menimbun candi selama berabad-abad hilang terbawa longsor. Dari bekas longsoran tersebut munculah tumpukan batu yang terlihat teratur yang selintas mirip sebuah candi.
"Tak hanya candi, sejumlah batu hasil pahatan sebuah kebudayaan kuno juga ditemukan oleh para arkeolog beberapa waktu lalu," terang Kartono.
Yang lebih menghebohkan lagi, kata Kartono, di tengah lahan milik warga juga terdapat temuan sebuah batu berbentuk lumpang persegi atau yang dikenal sebagai yoni.

Warga di sini, lanjut Kartono, sangat mengeramatkan yoni yang dibiarkan berlumut. Di sini tidak ada yang berani bermain-main dengan batu yoni meskipun hanya sekedar duduk diatasnya.

Pekalongan News
Reruntuhan candi bagol membuktikan di kawasan ini pernah hidup sebuah peradapan kuno dari abad 10 Masehi
"Menurut cerita sesepuh Desa, dahulunya yoni dipergunakan untuk menampung air yang keluar dari sebuah mata air. Orang-orang jaman dulu memanfaatkanya sebagai air suci. Sayangnya yoni sekarang dalam keadaan pecah dan mata air tak lagi mengalir keluar," beber Kartono.
Dikatakan Kartono, selain di Desa Bagol, menhir juga ditemukan di tengah hutan milik perhutani. Warga Desa menyebutnya watu bahan atau batu bahan. Usia batu tersebut juga sama tuanya dengan yang ada di Desa Bagol.

Kartono menjelaskan, sejak dirinya kanak-kanak sudah sering berkeliaran di daerah dekat menhir untuk bermain karena di disisi menhir terdapat air terjun yang dindingnya mirip berbentuk menhir.
"Dari hasil penelitian seorang ahli purbakala, batu persegi lima sejajar yang menjadi dinding air terjun tersebut terbentuk dari kikisan air yang mengalirinya selama ribuan tahun," ujarnya.
Sejumlah temuan lainya juga terdapat di kawasan situs purbakala setempat berupa peralatan makan yang terbuat dari keramik yang masih tersimpan rapi di rumahnya.

Karena belum diminta oleh negara, sambung Kartono, barang-barang kuno tersebut masih dirawatnya dengan baik.

Untuk menjaga kelestarian dan keamanan situs peninggalan sejarah di Desa Lemahabang, Kartono meneruskan, para remaja di sini setiap minggunya selalu melakukan kegiatan bersih-bersih merawat benda-benda yang ada.
"Hal tersebut selain untuk menjaga keutuhan sejarah juga untuk memberikan pengetahuan sejarah peradaban yang ada di Desa Lemahabang," tutupnya.

Post a Comment Blogger

 
Top