googlesyndication.com

1 Comment
Pagelaran Wayang Tutup Rangkaian Peringatan Hut TNI Ke-70 Dan HUT Kodam Ke-65
Dandim 0710/Pekalongan secara simbolis menyerahkan sebuah wayang kulit tokoh Wisanggeni kepada dua orang dalang sebagai tanda dimulainya pagelaran wayang di peringatan HUT TNI dan HUT Kodam IV/Pekalongan di Taman Sorogenen, Kota Pekalongan, Selasa malam (13/10/15)

Kota Pekalongan
Rangkaian peringatan HUT TNI yang ke 70 dan HUT Kodam IV/Diponegoro yang ke 65 ditutup dengan pagelaran wayang kulit dan pagelaran seni tari dari Komunitas Seni Tiga Etnis Kota Pekalongan, Arab, Jawa dan Cina atau yang lebih dikenal dengan sebutan Arwana.

Pagelaran wayang kulit mengambil tempat di halaman parkir Taman Sorogenen menampilkan kolaborasi dua Dalang, satu dari Kota Solo dan satu lagi dari Kota Pekalongan dengan membawakan lakon, Wisanggeni Krido.

Selain pagelaran wayang, acara peringatan HUT TNI dan Kodam juga menampilkan dua tokoh wayang punakawan, petruk dan gareng dari seniman wayang orang Sriwedari. Menurut panitia penyeleng gara, rencananya acara akan diramaikan dengan kehadiran seniman lawak kondang Yati Pesek, akan tetapi karena suatu hal berhala ngan hadir.

Dandim 0710/Pekalongan Letkol Riza Anom Putranto dalam sambu tanya menyampaikan ajakan untuk hidup rukun, baik antara TNI dengan Polri, TNI dengan masayarakat maupun sebaliknya.
"peristiwa yang baru saja terjadi di Aceh tidak boleh terjadi disini. Kita tidak boleh terprovokasi," ujarnya, Selasa malam (13/10/15) mengawali pembukaan pagelaran wayang kulit malam itu.
Malam ini, lanjut Dandim  kita menampilkan kesenian yang disele nggarakan dan dilakukan secara bersama.
"Ini membuktikan aparat TNI, Polri dan Masyarakat dapat bersatu dan guyub rukun untuk Kota Pekalongan," terangnya.
Dandim juga menghimbau dan berpesan untuk tetap mensukseskan Pilkada 2015.
"Pilihan Boleh berbeda tapi kita tetap satu. Dan TNI bersama Polri serta masyarakat siap melaksanakan pemilukada 2015," kata Dandim.
Sementara itu mewakili komunitas seni dan masyarakat Kota Pekalongan, Karya Budiman, tokoh masyarakat yang juga anggota dewan di DPRD Kota pekalongan sekaligus pegiat seni tardisional Jawa mengatakan, pagelaran wayang kulit dan seni tari komunitas seni Arwana menjadi bagian nguri-uri budaya di peringatan HUT TNI dan Kodam IV/Diponegoro.
"Ini merupakan satu sejarah bagi kita karena seniman dari tiga etnis, Arab,Jawa dan Cina bisa bersama berkolaborasi budaya di HUT TNI," ungkapnya.
Setelah dilakukan penyerarahan secara simbolis wayang kulit tokoh wisanggeni kepada dua orang dalang dan wakil seniman oleh Dandim 0710/Pekalongan acara wayang kulitpun dimulai setelah diawali dengan penampilan karawitan dari SMu Kota Pekalongan.

Diceritakan lakon malam itu Wisanggeni Krido yang mengisahkan perjuangan ksatria bernama Wisanggeni putra Raden Arjuna dari kerajaan Astinapura bersama para pemuda melakukan misi diplomasi untuk meminta kerajaan Astinapura yang di Kuasai oleh sudaranya para Kurawa dengan baik-baik. Raden Wisanggeni yang dikenal sebagai kesatria sakti mandraguna dengan jiwa patriotismenya akhirnya bisa merebut kerajaan Astinapura dari tangan kurawa untuk mengembalikan kejayaan Pandawa setelah cara diplomasi ga gal dan jalan terakhirnya adalah berperang menegakan kedaulatan negara, membela kaum yang lemah dan teguh mempertahankan kemerdekaan bangsa,negara dan agama.

Post a Comment

 
Top