Pekalongannews, Batang — Bukan suara komando yang paling mencuri perhatian dalam pengukuhan Paskibraka Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Sabtu sore, 15 Agustus 2026. Justru ketika satu per satu pelajar mencium bendera Merah Putih, suasana mendadak hening dan sejumlah mata terlihat sembab menahan haru.
Sebanyak 34 personel Paskibraka Kecamatan Gringsing dikukuhkan untuk menjalankan tugas dalam rangkaian upacara HUT ke-81 Republik Indonesia. Prosesi berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB dan menghadirkan suasana emosional yang tak kalah khidmat dibandingkan pengukuhan Paskibraka tingkat Kabupaten Batang.
Camat Gringsing Ridho Kurniawan mengatakan, pengukuhan Paskibraka bukan sekadar seremoni menjelang perayaan kemerdekaan. Menurutnya, momentum tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami arti kemerdekaan.
«“Kita berupaya bahwasanya kita selaku orang tua, pilar-pilar yang ada di Kecamatan Gringsing ini memberikan edukasi dan pembelajaran tentang bagaimana memaknai kemerdekaan,” kata Ridho.»
Satu per satu anggota Paskibraka kemudian maju dan mencium bendera Merah Putih setelah resmi dikukuhkan. Momen tersebut membuat suasana semakin khidmat, terutama ketika beberapa pelajar terlihat menahan tangis dan menunjukkan wajah penuh haru.
Bagi para pelajar itu, bendera Merah Putih yang berada di hadapan mereka bukan sekadar perlengkapan upacara. Setelah menjalani proses seleksi dan latihan, mereka kini dipercaya menjadi bagian dari pasukan yang mengemban tugas pada peringatan kemerdekaan di tingkat Kecamatan Gringsing.
Pengukuhan tersebut sekaligus menjadi pintu masuk menuju rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Gringsing. Setelah prosesi pengukuhan, kegiatan akan dilanjutkan dengan renungan suci, upacara pengibaran bendera pada pagi hari, upacara penurunan bendera, hingga ramah-tamah.
Salah satu anggota Paskibraka, Azra, 15, siswi kelas X SMAN 1 Gringsing, merasakan langsung bagaimana proses tersebut mengubah pengalaman pertamanya sebagai pelajar SMA menjadi cerita yang sulit dilupakan. Baru sekitar dua bulan duduk di bangku SMA, ia sudah dipercaya menjadi bagian dari Paskibraka tingkat kecamatan.
Azra mengikuti seleksi sekitar sebulan sebelum pengukuhan. Setelah dinyatakan lolos, ia menjalani latihan rutin dari Senin hingga Jumat untuk mempersiapkan diri menghadapi tugas pengibaran bendera.
“Alhamdulillah lolos seleksi jadi Paskibraka tingkat kecamatan. Sudah sebulan ini latihan terus dari Senin sampai Jumat,” ujar Azra.
Pengalaman mengikuti Pramuka saat masih duduk di bangku SMP sedikit membantunya beradaptasi dengan pola latihan Paskibraka. Meski begitu, menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera tetap menjadi pengalaman baru bagi Azra.
“Saya baru kali ini jadi Paski. Bangga,” katanya.
Azra mendapat posisi di barisan paling belakang atau bagian 45. Posisi tersebut tidak mengurangi kebanggaannya karena ia tetap menjadi bagian dari pasukan yang dipercaya mengemban tugas dalam upacara kemerdekaan.
Di balik seragam putih dan langkah tegap para anggota Paskibraka, terdapat proses latihan yang tidak singkat. Mereka harus membagi waktu antara kewajiban sebagai pelajar dengan latihan yang berlangsung rutin menjelang puncak peringatan HUT Kemerdekaan RI.
Bagi Ridho, pengalaman tersebut semestinya tidak berhenti setelah rangkaian upacara selesai. Nilai kedisiplinan dan tanggung jawab yang diperoleh selama menjalani latihan diharapkan tetap dibawa para pelajar ke lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.
«“Anak-anak muda selaku pelajar, tugas utamanya adalah belajar. Belajar dari hal apa pun,” ujarnya.»
Pesan tersebut semakin relevan di tengah kehidupan generasi muda yang tidak bisa dilepaskan dari dunia digital. Ridho mengingatkan para pelajar agar tidak sekadar menjadi pengguna media sosial, tetapi juga mampu memilah informasi yang mereka konsumsi setiap hari.
“Karena eranya digital, kita harus pandai-pandai dalam memfilter apa yang ada di media sosial,” katanya.
Menurut Ridho, perkembangan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas pengetahuan dan menghasilkan kegiatan yang memberikan manfaat. Kemudahan akses informasi juga harus diimbangi kemampuan membedakan konten maupun aktivitas yang positif dan negatif.
“Dengan kemudahan yang ada, anak-anak kita bisa tetap tahu mana yang baik, mana yang kurang baik. Hal-hal positif yang ada itu harus bisa dimanfaatkan dengan maksimal,” tutur Ridho.
Pengukuhan Paskibraka Kecamatan Gringsing akhirnya tidak hanya berbicara tentang siapa yang berdiri di barisan depan atau berada di bagian belakang. Ada proses panjang, kedisiplinan, kebanggaan, sekaligus emosi yang menyertai para pelajar sebelum mereka menjalankan tugas pada upacara kemerdekaan.
Ketika satu per satu anggota Paskibraka mencium Merah Putih dengan mata berkaca-kaca, pesan kemerdekaan terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka. Bagi generasi muda Gringsing, kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang dirayakan setiap Agustus, tetapi juga sesuatu yang perlu dipahami dan diwujudkan melalui sikap disiplin, tanggung jawab, serta kemampuan menggunakan teknologi secara bijak.


No comments:
Post a Comment