-->

Rupiah Melemah ke Rp17.800, Benarkah Justru Menguntungkan Indonesia? Ini Analisis Lengkapnya

Pekalongan News
Tuesday, May 26, 2026, May 26, 2026 WIB Last Updated 2026-05-26T11:54:34Z
Rupiah Melemah ke Rp17.800, Benarkah Justru Menguntungkan Indonesia? Ini Analisis Lengkapnya
gambar Ilustrasi
Pekalongannews, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS disebut lebih banyak membawa tekanan bagi ekonomi Indonesia dibanding keuntungan.

Dalam sebuah analisis Master Gema yang ramai dibahas di media sosial, pelemahan rupiah hingga level Rp17.700–Rp17.800 per dolar AS dinilai menimbulkan beban besar bagi pemerintah, industri, hingga masyarakat.

Menurut Analis Gema Goeyardi atau master Gema ia menilai anggapan bahwa rupiah lemah selalu menguntungkan negara eksportir seperti Indonesia tidak sepenuhnya tepat.

Menurutnya, memang ada keuntungan yang dirasakan eksportir komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel karena pendapatan mereka berbasis dolar AS.

"Namun di sisi lain, biaya impor bahan baku, utang luar negeri, hingga subsidi energi justru ikut membengkak,: ujarnya dalam channel youtube Astronacci, Selasa (26/5/2026) .

Tambahan keuntungan dari sektor ekspor diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah. Tetapi kerugian sistemik akibat kurs tinggi dinilai lebih besar, mulai dari kenaikan biaya impor industri, inflasi barang konsumsi, hingga tekanan terhadap daya beli masyarakat.

“Indonesia ini unik. Mau ekspor tetap harus impor bahan baku dulu,” katanya.

Pelemahan rupiah juga disebut berdampak langsung terhadap APBN. Beban utang pemerintah dan swasta yang menggunakan dolar AS meningkat seiring naiknya kurs. Selain itu, subsidi BBM dan energi ikut tertekan akibat mahalnya harga impor.

Dalam analisis tersebut, nilai tukar ideal atau “sweet spot” rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp14.500–Rp15.500 per dolar AS. Angka Rp15.000 disebut menjadi titik paling realistis untuk menjaga keseimbangan ekspor, impor, inflasi, dan stabilitas fiskal.

Untuk mencapai level tersebut, dibutuhkan kombinasi kebijakan moneter dan fiskal. Mulai dari kenaikan suku bunga acuan BI, penguatan aturan devisa hasil ekspor (DHE), pengurangan defisit APBN, hingga percepatan hilirisasi industri.

"Meski demikian, peluang rupiah kembali ke Rp15.000 dalam waktu singkat dinilai kecil. saya memperkirakan target realistis rupiah dalam 12 bulan berada di kisaran Rp16.500–Rp17.000 per dolar AS," tambahnya.

Selain faktor teknis, kepercayaan investor asing juga dinilai menjadi penentu utama.

"Kredibilitas Bank Indonesia, stabilitas kebijakan pemerintah, hingga kondisi geopolitik global disebut sangat memengaruhi pergerakan rupiah ke depan," pungkasnya.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI