Pekalongannews, Batang – Krisis regenerasi menjadi alarm keras bagi keberlangsungan Batik Rifaiyah, warisan budaya lebih dari satu abad yang kini berada di titik rawan.
Isu ini mengemuka dalam workshop bertajuk Menyelamatkan Eksistensi Batik Rifaiyah yang digelar Pegiat Literasi Batang di Joglomberan, Rabu (29/4/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan perajin, pegiat literasi, komunitas budaya, hingga pemerintah daerah dalam satu ruang diskusi yang membedah masa depan batik bercorak religius khas Kabupaten Batang.
Bukan sekadar soal produksi, persoalan utama yang mencuat adalah minimnya regenerasi pembatik yang perlahan menggerus eksistensi Batik Rifaiyah.
Sejumlah motif bahkan dilaporkan hilang, lenyap seiring wafatnya para pembatik sepuh tanpa sempat mewariskan keahliannya kepada generasi berikutnya.
Penggiat Batik Rifaiyah, Miftakhutin, menyebut workshop ini sebagai suntikan energi baru di tengah kekhawatiran yang terus membesar.
“Ini adalah support system yang sangat bagus untuk kemajuan batik Rifaiyah di masa mendatang, karena kita tidak bisa berdiri sendiri,” ujarnya.
Ia menegaskan, kekuatan komunitas harus berjalan beriringan dengan dukungan eksternal agar semangat membatik tidak padam.
“Ke depan kami ingin tetap mengonsolidasikan teman-teman agar terus semangat membatik Rifaiyah,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Batang, Faelasufa Faiz, menyoroti keunikan Batik Rifaiyah yang tidak dimiliki batik lain di Nusantara.
Menurutnya, proses membatik dilakukan sambil melantunkan selawat dari awal hingga akhir, menjadikannya bukan sekadar produk tekstil, tetapi juga praktik spiritual.
“Batik Rifaiyah ini unik sekali karena dari awal sampai akhir pengerjaan diiringi selawat,” ungkapnya.
Meski memiliki akar sejarah lebih dari satu abad, Batik Rifaiyah baru dikenal luas di pasar sekitar tahun 2010-an.
Hal ini membuat usia komersialnya relatif muda, meski secara kultural telah lama hidup di tengah masyarakat.
Namun di balik keunikan tersebut, ancaman kepunahan semakin nyata.
Data menunjukkan, dari sekitar 24 motif yang pernah ada pada awal 2000-an, kini hanya tersisa sekitar 16 motif yang masih dapat ditemukan.
“Motif yang hilang itu karena pembatik sepuhnya sudah meninggal dan tidak ada yang meneruskan,” kata Faelasufa.
Fenomena ini menjadi peringatan bahwa pelestarian tidak cukup hanya menjaga produksi, tetapi juga memastikan transfer pengetahuan lintas generasi.
Pemerintah daerah melalui Dekranasda mulai mengambil langkah konkret dengan mendokumentasikan motif yang tersisa agar tidak hilang sepenuhnya.
Selain itu, promosi Batik Rifaiyah terus didorong melalui pameran nasional seperti Inacraft guna meningkatkan nilai ekonomi produk.
Strategi tersebut dinilai penting untuk menarik minat generasi muda agar melihat membatik sebagai peluang, bukan sekadar tradisi.
“Kalau nilai ekonominya naik, anak muda akan melihat ini sebagai peluang,” jelas Faelasufa.
Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan komunitas terhadap regenerasi, termasuk membuka akses belajar bagi masyarakat di luar kelompok Rifaiyah.
“Kalau tidak terbuka, risiko kepunahannya semakin besar,” tegasnya.
Workshop ini menjadi ruang temu antara kegelisahan dan upaya penyelamatan, ketika Batik Rifaiyah tidak lagi sekadar kain, melainkan identitas budaya yang tengah diuji oleh perubahan zaman.
Isu ini mengemuka dalam workshop bertajuk Menyelamatkan Eksistensi Batik Rifaiyah yang digelar Pegiat Literasi Batang di Joglomberan, Rabu (29/4/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan perajin, pegiat literasi, komunitas budaya, hingga pemerintah daerah dalam satu ruang diskusi yang membedah masa depan batik bercorak religius khas Kabupaten Batang.
Bukan sekadar soal produksi, persoalan utama yang mencuat adalah minimnya regenerasi pembatik yang perlahan menggerus eksistensi Batik Rifaiyah.
Sejumlah motif bahkan dilaporkan hilang, lenyap seiring wafatnya para pembatik sepuh tanpa sempat mewariskan keahliannya kepada generasi berikutnya.
Penggiat Batik Rifaiyah, Miftakhutin, menyebut workshop ini sebagai suntikan energi baru di tengah kekhawatiran yang terus membesar.
“Ini adalah support system yang sangat bagus untuk kemajuan batik Rifaiyah di masa mendatang, karena kita tidak bisa berdiri sendiri,” ujarnya.
Ia menegaskan, kekuatan komunitas harus berjalan beriringan dengan dukungan eksternal agar semangat membatik tidak padam.
“Ke depan kami ingin tetap mengonsolidasikan teman-teman agar terus semangat membatik Rifaiyah,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Batang, Faelasufa Faiz, menyoroti keunikan Batik Rifaiyah yang tidak dimiliki batik lain di Nusantara.
Menurutnya, proses membatik dilakukan sambil melantunkan selawat dari awal hingga akhir, menjadikannya bukan sekadar produk tekstil, tetapi juga praktik spiritual.
“Batik Rifaiyah ini unik sekali karena dari awal sampai akhir pengerjaan diiringi selawat,” ungkapnya.
Meski memiliki akar sejarah lebih dari satu abad, Batik Rifaiyah baru dikenal luas di pasar sekitar tahun 2010-an.
Hal ini membuat usia komersialnya relatif muda, meski secara kultural telah lama hidup di tengah masyarakat.
Namun di balik keunikan tersebut, ancaman kepunahan semakin nyata.
Data menunjukkan, dari sekitar 24 motif yang pernah ada pada awal 2000-an, kini hanya tersisa sekitar 16 motif yang masih dapat ditemukan.
“Motif yang hilang itu karena pembatik sepuhnya sudah meninggal dan tidak ada yang meneruskan,” kata Faelasufa.
Fenomena ini menjadi peringatan bahwa pelestarian tidak cukup hanya menjaga produksi, tetapi juga memastikan transfer pengetahuan lintas generasi.
Pemerintah daerah melalui Dekranasda mulai mengambil langkah konkret dengan mendokumentasikan motif yang tersisa agar tidak hilang sepenuhnya.
Selain itu, promosi Batik Rifaiyah terus didorong melalui pameran nasional seperti Inacraft guna meningkatkan nilai ekonomi produk.
Strategi tersebut dinilai penting untuk menarik minat generasi muda agar melihat membatik sebagai peluang, bukan sekadar tradisi.
“Kalau nilai ekonominya naik, anak muda akan melihat ini sebagai peluang,” jelas Faelasufa.
Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan komunitas terhadap regenerasi, termasuk membuka akses belajar bagi masyarakat di luar kelompok Rifaiyah.
“Kalau tidak terbuka, risiko kepunahannya semakin besar,” tegasnya.
Workshop ini menjadi ruang temu antara kegelisahan dan upaya penyelamatan, ketika Batik Rifaiyah tidak lagi sekadar kain, melainkan identitas budaya yang tengah diuji oleh perubahan zaman.



No comments:
Post a Comment