![]() |
| Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang, Rusmanto |
Makin Tahu Indonesia Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra, terutama di kawasan resapan air dan wilayah dengan kemiringan lereng yang curam.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Batang tahun 2024, total luas lahan di wilayah ini mencapai 67.260 hektare. Namun, luasan tersebut terbagi ke dalam beberapa kategori tingkat kerusakan yang cukup mengkhawatirkan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Batang tahun 2024, total luas lahan di wilayah ini mencapai 67.260 hektare. Namun, luasan tersebut terbagi ke dalam beberapa kategori tingkat kerusakan yang cukup mengkhawatirkan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang, Rusmanto, mengungkapkan bahwa sebagian lahan telah masuk dalam kategori kritis hingga sangat kritis.
“Data kita dari BPS tahun 2024 menunjukkan total lahan 67.260 hektare, yang terbagi dalam kondisi sangat kritis, kritis, berpotensi kritis, dan agak kritis,” ujar Rusmanto saat ditemui di kantornya, Rabu (7/1/2025).
Secara rinci, lahan dengan kategori sangat kritis tercatat seluas 1.050 hektare. Sementara itu, lahan kritis mencapai 3.826 hektare, lahan berpotensi kritis sekitar 9.500 hektare, dan lahan agak kritis mencapai 20.200 hektare.
“Data kita dari BPS tahun 2024 menunjukkan total lahan 67.260 hektare, yang terbagi dalam kondisi sangat kritis, kritis, berpotensi kritis, dan agak kritis,” ujar Rusmanto saat ditemui di kantornya, Rabu (7/1/2025).
Secara rinci, lahan dengan kategori sangat kritis tercatat seluas 1.050 hektare. Sementara itu, lahan kritis mencapai 3.826 hektare, lahan berpotensi kritis sekitar 9.500 hektare, dan lahan agak kritis mencapai 20.200 hektare.
Angka-angka tersebut bukan sekadar data statistik, melainkan peringatan dini terhadap ancaman kerusakan lingkungan dan potensi bencana yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat, khususnya yang bermukim di kawasan bawah lereng.
Rusmanto menjelaskan, sebagian besar lahan yang masuk zona merah berada di wilayah tangkapan air yang memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Beberapa daerah yang menjadi perhatian utama antara lain Desa Gerlang di Kecamatan Blado, Kecamatan Bawang, Kecamatan Reban, serta Kecamatan Bandar.
Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Kabupaten Batang melalui DLH telah melakukan berbagai upaya penghijauan kembali. Penanaman bibit pohon keras atau tegakan dilakukan di sejumlah titik strategis, terutama di kawasan sumber resapan air.
Rusmanto menjelaskan, sebagian besar lahan yang masuk zona merah berada di wilayah tangkapan air yang memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Beberapa daerah yang menjadi perhatian utama antara lain Desa Gerlang di Kecamatan Blado, Kecamatan Bawang, Kecamatan Reban, serta Kecamatan Bandar.
Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Kabupaten Batang melalui DLH telah melakukan berbagai upaya penghijauan kembali. Penanaman bibit pohon keras atau tegakan dilakukan di sejumlah titik strategis, terutama di kawasan sumber resapan air.
“Kemarin kita lakukan penanaman di sumber resapan air Desa Tombu, Kecamatan Bandar, kemudian di daerah Bleder, Gerlang, Kecamatan Blado,” jelas Rusmanto.
Namun demikian, salah satu faktor utama yang memicu kerentanan lahan adalah alih fungsi kawasan lereng menjadi lahan pertanian semusim, khususnya hortikultura seperti sayur-mayur.
Namun demikian, salah satu faktor utama yang memicu kerentanan lahan adalah alih fungsi kawasan lereng menjadi lahan pertanian semusim, khususnya hortikultura seperti sayur-mayur.
Aktivitas pertanian di wilayah dengan kemiringan curam, tanpa diimbangi konservasi tanah dan penanaman pohon keras, dinilai sangat berisiko.
“Rata-rata digunakan untuk usaha hortikultura, seperti sayuran. Itu berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan karena berada di wilayah atas dan lereng. Jika tidak ada tegakan, risikonya sangat tinggi,” pungkas Rusmanto.
“Rata-rata digunakan untuk usaha hortikultura, seperti sayuran. Itu berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan karena berada di wilayah atas dan lereng. Jika tidak ada tegakan, risikonya sangat tinggi,” pungkas Rusmanto.



No comments:
Post a Comment