1 Comment
Sawali (42) pedagang kelapa muda yang membuka lapak di jalan Cendrawasih, Kota Pekalongan, mengaku daganganya mengalami penurunan omset hingga 70 persen.
Kota Pekalongan 
Sentra penjualan kelapa muda atau degan ijo di jalan Cendrawasih, Kota Pekalongan, pasca lebaran mengalami penurunan omset hingga 70 persen lebih. Anjlognya omset tersebut diakui pedagang disebabkan oleh beberapa faktor, satu di antaranya adalah rendahnya permintaan atau kosumsi kelapa muda saat ini serta lesunya perdagangan usai lebaran syawal, Selasa (18/6/19). 


"Di bulan kemarin atau puasa, kami mampu menjual 200 hingga 300 butir kelapa muda perhari," ungkap Sawali (42), pedagang kelapa muda, Selasa (18/6/19). Sepekan ini, lanjut dia, para pedagang rata-rata hanya mampu menjual 70 butir kelapa muda perhari, itupun kalau pas kebetulan sedang ramai.

Selama bulan puasa, kata dia, para pedagang rata-rata mampu mengantongi omset kotor antara Rp 2 juta hingga 2,5 juta perhari.

Dengan harga jual Rp 9000 perbutir untuk kelapa muda biasa dan Rp 12 ribu untuk jenis degan wulung, perhari para pedagang mampu mengantongi keuntungan bersih sebesar Rp Rp 700 ribu hingga Rp 900 ribu. 


"Sekarang untuk mendapatkan keuntungan Rp 100 ribu perhari saja susah," akunya.


Di kawasan City Walk, tepatannya di sepanjang Jalan Cendrawasih, Kota Pekalongan, sepuluh tahun terakhir dikenal sebagai pusatnya pedagang kelapa muda eceran.

Kelapa muda yang dijual dipasok dari pengepul yang ada di Comal, Banjarnegara dan Purbalingga, sementara kelapa muda lokal yang konon dikenal lebih manis dan memiliki volume air lebih banyak sudah sulit dijumpai.

Post a Comment Blogger

 
Top