0 Comment
Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kantor Cabang Kota Pekalongan menjadi yang pertama diantara 22 Kabupaten dan Kota di Propinsi Jawa Tengah yang berhasil mendistribusikan 100 persen Kartu Tani kepada penerima. Kepala Cabang BRI Kota Pekalongan, Fandi Imawan menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan launching Kartu Tani serentak se-Jawa Tengah, Kamis (12/1/17) di Lantai III Gedung BRI Kota Pekalongan.
Menurut Fandi, BRI telah tuntas menyerahkan 842 Kartu Tani kepada seluruh petani yang terdata di Kota Pekalongan. 
"Dari seluruh cabang di wilayah Kanwil Semarang, kita yang paling sukses mendistribusikan kartu tersebut," ucap Fandi.
Fandi menjelaskan, keberadaan Kartu Tani memudahkan para petani mendapatkan pupuk yang dijamin ketersediaanya oleh pemerintah. Selain itu, Kartu Tani juga memudahkan para petani melakukan transaksi keuangan, karena dengan kartu tersebut sudah tidak perlu lagi memerlukan uang cash.
"Petani bisa memanfaatkan Kartu Tani untuk melakukan pembayaran dan melakukan transfer. Termasuk kalau ada sisa uang, hasilnya bisa masuk tabungan," jelas Fandi.
Walikota Pekalongan, Alf Arslan Djunaid dalam sambutannya mengatakan, dari 300 ribu lebih jumlah penduduk Kota Pekalongan, semua kebutuhan pangan bisa terpantau melalui 9 pasar yang ada.
"Kita akui memang belum bisa mandiri atau swadaya pangan terutama beras. Harapannya dengan Kartu Tani, produktifitas petani bisa meningkat karena jaminan pupuk serta obat sudah diatur bagi pemegang kartu," papar Walikota.
Namun karena masih tergolong baru, kata Walikota, perlu diperbanyak sosialisasi penggunaan Kartu Tani secara benar. Karena memang sudah tidak bisa dipungkiri perubahan jaman menyebabkan banyak transaksi keuangan tanpa melibatkan lagi uang dalam bentuk cash.
"Semua sudah pakai kartu. Saya sendiri tidak terbiasa sebab kemarin mau pake kartu kredit tidak bisa karena diblokir tidak disetori," selorohnya.
Sementara itu Rokhman, Ketua Kelompok Tani Degayu 3, mengaku sangat terbantu dengan adanya Kartu Tani, sebab untuk mendapatkan pupuk sekarang dijamin ada.
Menurut Rokhman, sebelum adanya Kartu Tani, para petani sering kehabisan pupuk saat membutuhkan. Sekarang kita kelompok tani itu ada jatah di kios pengecer.
"Jatahnya menyesuaikan luas lahan yang digarap oleh para petani," terang Rokhman.

Post a Comment Blogger

 
Top