googlesyndication.com

0 Comment
Guru Dan Murid Tuduh Pengurus Yayasan Ingin Gagalkan Ujian
debat kemenag dengan pengurus yayasan
Kota Pekalongan
Perseteruan antara pengurus Yayasan Salafiyah Abunawar (Yusuf, Toyibin dan saudarnya) dan pengelola MTs At Thohiriyah (M Thohir)  Simbang Wetan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, masih berbuntut pada Ujian Madrasah (UM) hari kedua, Selasa (7/4/15) di Balai Desa Simbang Wetan Kabupaten Peka longan.

Meruncingnya masalah, diperkuat dugaan dari siswa dan guru MTs At Thoriyah bahwa pengurus Yayasan akan menggagalkan ujian Madrasah. Hal tersebut didasari ulah pengurus merubah jadwal ujian. Yang tidak sesuai dengan jadwal resmi dari Kemenag Kabupaten Pekalongan.

Kedatangan Kepala Kemenag Kabupaten Pekalongan, M Umar, malah diajak debat oleh pengurus Yayasan.

 "Panggil kepala sekolah MTs, karena dia yang harus bertanggungjawab," bentaknya kepada pengurus (Yusuf cs). Bahkan ke 34 siswa yang akan ikuti ujian, cukup geram sehingga meneriaki pengurus, karena bicara tanpa fakta.

Kepala Kemenag, yang baru hadir kali ini ungkapkan bahwa kemarin dirinya masih ada acara di Semarang. 

"Intinya kemarin kami masih khusnudzon dengan kedua belah pihak (pengelola dan yayasan bisa selesaikan pertikaian), tidak tahu kalau sampai seperti ini jadinya . Dan berharap kepentingan siswa lebih diutamakan," ucap Umar.

M Umar mengaskan bahwa intinya siswa harus bisa ujian sampai selesai. Dan seharusnya Ujian Madrasah harus dilakulkan oleh Madrasah sendiri.

” Ujian sebenarnya harus dilaksanakan oleh Madrasah bersangkutan dan dimana mereka belajar selama ini. Tidak di tempat lain dan diurusi oleh Yayasan, itu kurang tepat,” tegas dia.

Terkait masalah anatra Pengelola dan Yayasan, Kemenag  tegaskan bahwa hak tegur hanya ke Madrasah bukan Yayasan.

” Yang kita akui (Kepala Sekolah) memang yang diajukan oleh Yayasan, karena yayasan juga legal. Sehingga saya meminta pertanggung jawaban ke Madrasah melalui Kepala Sekolah. Kenapa sampai siswa tidak bisa ujian,” bebernya.

Yayasan Salafiyah Abunawar diakui juga memang dua kali ganti Kepala sekolah sejak memperhentikan pak Thohir. Dan kini yang menjadi Kepala Sekolah terbaru adalah Hajid Hariri. Sehingga kini yang bertang gung jawab adalah dia. Namun saat dihubungi lewat HP, yang bersangkutan tidak menjawab telepon.
Terkait langkah kongkrit dari Kemenag, kedepannya belum bisa menjawab. Karena menurut Umar karena butuh waktu, intinya bagaimana siswa bisa ujian dulu.

”Kalau sangsi kita menunggu hasil semua ini, seperti apa nantinya masih belum tahu,” tandas Umar.

Sementara itu guru dan siswa MTs At Thohiriyah saat dimintai keterangan ungkapkan, mereka memang tidak nyaman jika harus ujian di tempat yang baru. Bahkan mereka sangat heran kenapa jadwal ujian bisa diganti. Padahal sebelumnya sudah sosialisasi akan gunakan jadwal dari Kemenag.

“Yang bikin siswa kami tambah jengkel, jadwal ujian diganti, sehari Cuma satu mata pelajaran. Padahal jika menganut jadwal normal seharusnya sehari dua mata pelajaran,” terang Guru Seni Budaya Dan Matematika,  Zamroni.

“Mereka (pengurus) tidak tahu perintah KKM (Komite Kepala Madrasah) MTs. Sehingga jadwal dibuat semaunya sendiri,” lanjutnya.

Saat ditanya perihal perubahan jadwal ujian Ketua Pengurus Yayasan, Yusuf ucapkan bahwa pihaknya salah ketik saja. Dan juga tidak tahu jika jadwalnya seperti itu, bahakn dirinya juga ngotot bahwa yang dilakukan nya benar adanya.

Mengetahui hal tersebut, Ketua KKM MTs Kabupaten Pekalongan, Urip Sudiono tegaskan bahwa pihaknya terus berkomunikasi dengan pihak Madrasah melalui Kepala Sekolah yang baru bentukan Yayasan.

 “Tidak benar jika kami tidak komunikasi perihal jadwal, kami terus berikan informasi jadwal yang tepat,” tegasnya sambil emosi.

Sehingga semua kalangan berpendapat jika yayasan sengaja ingin menggagalkan ujian. Sesuai tujuan semula agar semakin kacau keadaan di MTs At Thoriyah.

Zamroni juga ungkapkan bahwa selama ini selain Kepala Sekolah, Guru pengajar juga di intimidasi. Guru diancam akan dipecat jika tidak mendukung Yusuf cs. Sering di sms, ancaman harus patuh dengan Yayasan jika tidak akan dipecat.

Sehingga dari 16 guru, 2 orang mau ikut ke Watusalam (tempat baru area Yayasan dan gedung MA), namun satu orang dijadikan kepala sekolah, yang satu orang adik dari Yusuf. Selain itu pengurus juga mengintimidasi semua siiswa, dengan mendatangi ke rumah satu persatu, bikin pernyataan di atas materai. Jika tidak mau pin dah ke gedung baru maka tidak akan diluluskan dan dipersulit kelulusannya.

Ditambahkan guru lain memwakili siswa, Nita Yuliati, sesalkan bahwa selama ini sudah belajar dan mengajar di tempat lama dan merasa nyaman. 

“Selama  4 tahun sejak sekolah ini didirikan, keadaan selalu kondusif. Namun sejak pengurus Yayasan berulah maka keadaan seperti ini, sehingga guru dan murid menjadi korban,” sesal guru Guru Bahasa Arab ini.

Dua murid yang sejak Senin (6/4/15) yang sudah ujian di lokasi baru baru, disepakati juga akan di ajak ujian di lokasi Bali Desa Simbang Wetan bersama ke 34 siswa yang tidak mau ujian di tempat baru. Akhirnya aparat Polsek Buaran dan Koramil Buaran mengambil kedua siswa tersebut. Walaupun awalnya pengurus Yayasan masih tidak setuju diambil, aparat sukses membawa kedua siswa untuk ujian kedua di tepat baru. Karena sebelumnya kedua siswa hanya ujian satu kali. Menuruti jadwal yang diberikan oleh Yayasan, agar tidak tertinggal diajak ikut ujian bersama.

Post a Comment

 
Top