0 Comment
Kota Pekalongan-
Seseorang baru bisa di sebut intelaktual muslim jika ia tidak hanya memiliki kemampuan berfikir dan penguasaanya yang luas terhadap berbagai informasi dan ilmu pengetahuan , melainkan ia juga di tuntut selalu kritis dalam menanggapi dalam persoalan sosial, baik kesalehan individual maupun terlebih lagi kesalehan sosial. Karena itu seseorang yang ingin memepersiapkan diri untuk menjadi seorang intelektual harus mampu aktif di masyarakat, kritis terhadap persoalan-persoalan umat serta benar-benar komit dengan keislamanya.

Hal itu di sampaikan Dr Ade Dedi Rohayana, M.Ag Ketua STAIN Pekalongan di hadapan ratusan wisudawan dan wisudawati yang memadati ruang Auditorium dalam acara Sidang Senat Terbuka Wisuda Diploma Tiga ke-15, Sarjana ke-29 dan Magister ke-1, Sabtu ( 13/12/14).

" Dalam khasanah Islam, kita kenal adanya dua macam intelektual, yaitu intelektual profetic dan intelektual diabolik," begitu Ade memberi penjelasan kepada yang hadir.

Ade juga menerangkan contoh intelektual Profetic adalah para nabi dan pengikutnya serta intelaktual  diabolik dalah iblis dengan pengikutnya secara terperinci.

Dalam kesempatan tersebut Ketua STAIN  menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar senantiasa menjadi para intelektual profetic yang tidak punya rasa takut menyuarakan kebenaran.

" jadilah pribadi dan mahasiswa yang  mau ambil bagian dalam perubahan sosial, yang punya tanggung jawab
akademik dan sosial sekaligus serta bisa jadi cendekiawan muslim yang berkarakter rahmatan lil 'alamin." ujarnya.

Sementara itu Dr muhlisin MAg kepada media seusai acara mengatakan bahwa ia ingin lulusan Sekolah tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan mampu memberi harmoni di masyarakat karena menurutnya sarjana-sarjana lulusan STAIN punya pemahaman yang berbeda tentang agama, agar mereka bisa merasakan perbedaan, kebermaknaan, tidak menyalahkan masyarakat terhadap perbedaan-perbedaan yang ada, bisa menjadi pendingin karena sekarang ini banyak tumbuh kaum fundamentalis, ekstrimis dan di harapkan kereka bisa merangkul dan mampu menyelesaikan persoalan di hadapan masyarakat.

Berkaitan dengan tema Muhlisin menjelaskan salah satu indikator cendikiawan muslim yang berkarakter Rahmatan Lil 'alamin itu antara lain otonom, jadi ia harus mandiri tidak harus bekerja sebagai apa tapi karena mandiri itu indikator dari kreatif.

Karena masih menurut Muhlisin contoh Rosul, bagaimana ia bisa berperan sebagai pedagang yang handal dengan kreativitasnya, bagaimana kreativitasnya sebagai pemimpin umat,

Untuk menyiapkan semua itu STAIN dalam waktu dekat akan lebih mengembangkan S2 syariah karena calon-calon doktornya banyak yang memenuhi kualifikasi.

" tahun 2015 kita akan ajukan prodi ke jakarta agar bisa di setujui untuk mempermudah STAIN menyiapkan lulusan yang kreatif dengan di bekali disintegrasi ilmu yang menguasai konsep dan terapan." ungkapnya.




Post a Comment Blogger

 
Top