googlesyndication.com

Warga Pekalongan selatan pasti sudah akrab dengan lelaki paruh baya ini,25 tahun sudah Din berkencimp ung dengan dunia antena dan perkembanganya,lelaki ramah ini dengan lugas mengisahkan pengalamanya,
ketika pekalongan-news.com bertanya tentang men ingkatnya antusiasme masyarakat memasng parabola
akhir-akhir ini,dia juga menuturkan bahwa sejak tv batik mengudara frekuensi dan kanal yang terpakai
bertabrakan dikarenakan satu hal akhirnya salah satu tv nasional hilang dari layar kaca pemirsa,tren itu berlanjut satu persatu menyusul stasiun tv swasta lainya,sampai sekarang yang bisa di tangkap oleh antena konvensional hanya beberapa itu pun dengan kualitas suara dan gambar yang buruk,apalagi mulai berlakunya ketentuan pemerintah tentang siaran tv digital serta pengaturan kanal frekuensi nasional berdampak dengan yang sekarang di keluhkan masyarakat,namun dirinya tidak tahu persis sebab bisa seperti itu,konon hal ini juga di alami tidak di pekalongan saja namun se eks karisidenan pekalongan mengalami hal yang sama.Terlepas dari semua itu dirinyamerasa senang karena efeknya meningkatnya volume pekerjaan yang berimbas pada peningkatan pendapatan yang naik tajam,Ma syarakat  sudah bisa memilih,menggunakan antena konvensional untuk kanal UHF membutuh kan dana yang sama bahkan lebih besar kalau menggunakan tiga pipa,kabel,kawat,booster dan instalasi dan ongkos teknisinya,sedangkan antena para bola lebih praktis karena teknis pemasanganya tidak membutuhkan keting gian tertentu dengan hasil lebih maksimal,pilihanya juga banyak karena semakin mahal maka semakin luas jangkauannya dan lebih banyak siaran tv yang bisa di tangkap serta di nikmati masyarakat.
 
Top